Bab 21 : Phosphenes

1.3K 242 67
                                        

"Ayo –makan malam denganku".

Jihoon memincingkan matanya, memastikan pendengarannya. Apakah dia salah dengar? Tempo hari lelaki yang berdiri di sana memang datang ke kafe dan mengajaknya makan malam juga –dan sekarang dia hendak mengajak Jihoon untuk makan malam, lagi?

"Kau ini tidak bisa makan sendiri, ya? Kenapa harus mengajakku?"

"Ya –karena aku ingin makan bersamamu!"

"Aku tidak ingin makan malam. Makan saja sendiri, aku ingin pulang", ucap Jihoon yang kini menggendong tas ranselnya. Wajahnya tampak sangat datar –sebal. Dia sebal karena lelaki itu kerap mengganggunya belakangan ini. Yah, meski dia seharusnya bersyukur karena dia yang merawatnya ketika Jihoon sakit, tapi dia malas melihat wajahnya.

Karena keduanya terus bertengkar ketika mereka bersama. Mereka tidak pernah rukun, sama sekali. Jihoon malas menanggapi ocehan si jangkung yang kerap membuat darahnya naik, emosi. Si jangkung bernama Lai Kuanlin itu terus memancing emosi Jihoon hingga emosinya naik ke ubun-ubun.

"Y-ya! Tapi aku ingin makan malam!"

"Lalu, aku harus menemanimu? Pergi dengan Jeongin saja, sana. Kebetulan Jeongin belum makan malam", Jihoon melirik Jeongin yang kini sedang membersihkan meja, sebelum dia menatap Kuanlin dengan sengit.

"Lho, kok jadi aku?" tanya Jeongin bingung.

"Sudah, Jeongin. Kita masuk saja", Jisung menarik Jeongin untuk masuk ke dalam ruangan pegawai –membuat Jeongin yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menatap Jisung dengan pandangan bingung, bertanya-tanya.

"Ayo makan malam", Kuanlin mengulangi ucapannya ketika hanya tersisa dia dan Jihoon di sana.

"Tidak, aku ingin pulang dan istirahat", Jihoon tidak berbohong. Jihoon ingin pulang dan segera beristirahat karena esok hari adalah hari besarnya. Besok, dia akan ikut serta dalam casting. Dia ingin menyiapkan dirinya sendiri sekaligus berlatih beberapa jurus bela diri yang sudah dipelajarinya sejak jaman sekolah dulu.

"Ayo makan malam! Bukankah aku sudah berjanji padamu kalau aku akan membelikanmu makan siang setiap harinya? Bagaimana kalau perjanjiannya diganti dengan makan malam saja? Aku kerap kali sibuk saat jam makan siang", ucap Kuanlin.

"Tidak. Lupakan saja perjanjiannya", Jihoon berjalan mendahului Kuanlin keluar dari kafe.

"Y-ya!" Kuanlin berlari mengejar Jihoon yang kini sudah berjalan melalui trotoar. Dia menarik tangan lelaki yang lebih mungil darinya. Membuat Jihoon balik badan, menatapnya dengan tatapan malas.

"Kenapa kau bersikeras mengajakku makan malam? Kau ingin membawaku bertemu dengan Daniel lagi,ya? Baiklah, lima belas juta won untuk hari ini", ucap Jihoon asal.

"Tidak! Tidak ada pertemuan dengan Daniel hari ini!"

"Lalu? Ada apa?"

"Temani aku. Aku butuh teman untuk bicara", ucap Kuanlin yang akhirnya melepaskan tangan Jihoon dari cengkramannya.

Jihoon mengangkat kepalanya, menatap Kuanlin yang tampaknya sedang kusut. Jihoon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket yang dipakai olehnya, masih menatap Kuanlin dengan tatapannya semula. Datar, namun kini sudah sedikit melembut.

"Baiklah. Makan kue beras pedas. Kau bisa?"

"Apapun, terserah kau", ucap Kuanlin.

Jihoon menganggukkan kepalanya, mengadahkan telapak tangannya. Membuat Kuanlin mengerutkan keningnya, bingung. Kenapa Jihoon justru seperti meminta sesuatu padanya?

"Apa?"

"Kunci mobil. Kau sedang kalut, benar? Biarkan aku yang mengemudi. Aku tidak ingin ambil resiko. Besok adalah hari besar untukku. Aku tidak ingin diriku kenapa-kenapa", ucap Jihoon.

amore ; panwink✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang