Trriiiitt.... Trriiiitt....
Aku terkesiap mendengar bunyi weaker di nakas kak gazza.
"Astaga setengah enam" mataku melotot melihat arah jarum jamnya. Padahal semalam kata kak gazza kami akan berangkat ke semarang subuh-subuh. Ini boro- boro berangkat, bahkan subuh sudah lewat setengah jam lalu dan aku baru bangun. Aku menggeliat merasakan beban berat melingkar dipinggangku. Kutengok manusia polos-polos mesum ini pun masih terpejam pulas memelukku. Padahal biasanya ia selalu on time dan bangun pagi.
Aku menyingkirkan lengannya kemudian bergegas menuju kamar mandi membawa baju ganti milikku. Dua puluh menit berada di dalam , sekarang aku sudah rapi dengan dress hitam polosku, hanya tinggal merias wajahku saja. Aku keluar melihat pergerakan kak aan dan kak rifan, nyatanya dua manusia itu pun belum bangun. Hanya kak maria yang menyahut saat aku mengetuk pintu kamar kak rifan.
"Kak, udah mandi ?" tanyaku pada kak maria.
" Udah , tapi rifan masih susah dibangunin. Gazza udah siap neth?" jawabnya.
"Boro-boro kak , masih menikmati selimut sama gulingnya. Yaudah kak aku bangunin kak gazza dulu" pamitku kembali ke kamar.
"Kak bangun kak udah terang ini , katanya mau berangkat subuh" ucapku sembari menyisir rambut.
"Kak... Hey bangun kita udah kesiangan" aku mengguncang-guncangkan bahunya. Bukannya bangun ia justru menarikku dalam dekapannya kembali.
"Ya ampun sayang cepetan bangun, anneth udah mandi lho ini, kamu masih aja tidur gini" ucapku dalam peluknya memencet-mencet hidung mancungnya.
"Ngantuk sayang..." jawabnya masih terpejam mengeratkan pelukannya.
"Ya tapi kita kan mau ke semarang kak, tau gak ini udah jam 6 lebih lho" aku terus mengomelinya.
"Cium dulu " tawarnya manja.
"Gak mau ah belum mandi kamunya" tolakku melepas lingkaran tangannya di pinggangku.
"Yaudah kamu ke semarang sendiri aja , aku mau tidur" ia mendorongku pelan kemudian menarik selimutnya sampai leher.
Cup.. Cup.. Cup..
Aku memberi kecupan singkat tepat pada kedua pipi dan terakhir pada bibirnya.
Cup...
Ia beranjak dari posisi tidurnya kemudian mengecup bibirku kembali.
"Ya tuhan dosa apa anneth selama ini sampai kau beri aku pacar nafsuan yang selalu minta jatah sepertinya tuhan" ucapku mengeluh.
"Apa tadi kamu bilang apa?" ia menghentikan langkahnya untuk ke kamar mandi.
"Apa tadi bilang aku apa ? Nafsuan ? Minta jatah?" ulangnya. Aku mengangguk cepat membenarkan ucapannya.
"Nafsuan darimana tadi malem aja gak jadi hilaf. Kamu kapan ngasih jatah aku? Perasaan gak pernah." ucapnya.
"Itu tadi barusan udah kasih jatah 3 kali dipipi sama bibir" balasku menjelaskan.
"Sayaaaang... Itu namanya bukan jatah. Ya ampun jatah mah kalau tadi malem aku jadi hilaf itu baru jatah. Nyesel aku kenapa gak jadi hilaf aja semalam" kelakarnya mencium pipiku gemas.
"Terserah kak terserah udah sana mandi, aku mau make up" serahku mengambil pouch make up ku.
Sekarang jam di tangan kami sudah menunjuk pukul tujuh lebih. Namun kami masih berbincang di teras menunggu manusia tanpa dosa semacam kak aan yang masih bersiap. Ia baru bangun sepuluh menit lalu. Luar biasa tiada tanding memang orang itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kemarin Lusa
Novela Juvenil"Semua memang akan ada masanya". Ya seperti itulah yang biasa orang-orang ucapkan. Aku hanya bisa menarik satu sudut bibirku dengan sedikit menyipitkan mata dan nafas yang dalam ketik mendengarnya. "Berhenti bukan artinya pergi Sakit bukan berarti h...
