Berpisah mungkin untuk bertemu....
"Neeeeth sedih lo udah ga dikelas ini lagi. Neeeth jan pindah IPA 7 sih". Rengek vivi dan ify menangis memelukku dari samping. Sementara aku memeluk aura didepanku.
"Hmm udah dong jan gitu kelasnya deketan juga. Kamu mah sedih gak ada yang nyontekin kalian lagi kan karena aku sama marsya pindah kelas". Balasku supaya suasana mencair.
"Daaaah kita ke kelas baru dulu sayang-sayangku" aku dan marsya menciumi mereka satu persatu.
Aneh memang selama satu semester aku belajar di IPA 5, tapi pembagian rapornya di IPA 7 sekarang. Katanya sekalian perkenalan karena IPA 6 dan IPA 7 adalah campuran anak-anak yang semula dititipkan di IPA lain karena pembangunan sekolah yang tadinya belum beres.
Ceklek...!!!
Sambil ku pandangi teman-teman kelas baruku, walaupun kami sudah banyak saling tau setidaknya tau nama.
"Selamat pagi semua... Wah kelas baru ini" sapa Bu dina wali kelas baru yang terkenal ramah se-SMA.
Setelah pembentukan pengurus kelas dan pembagian rapor. Aku sangat BAHAGIA. "Yeay akhirnya peringkat 2" batinku melonjak. Tapi sebagian batinku menolak "Arrgh kenapa harus kepilih jadi bendahara sih kan ribet". Yaudah lah ya dipikir sambil liburan.
Vacation pasti berlalu...
"Neth oy..!! Pagi amat padahal rumah jauh" teriakan sharon dan lifia mengagetkanku.
"Emang biasa jam segini dari dulu aku" jawabku apa adanya. Entah kekuatan siapa yang menyatukan sharon, lifia, anggi , marsya dan aku seketika akrab dalam 1 minggu ini. Aku juga punya 2 teman cowok yang akrab Aldi dan William.
"Neth, aku dapet pesan dari Bu Eka, minggu depan kamu diminta dateng bimbingan olimpiade lagi" ucap seseorang yang seketika membuyarkan lamunan kosongku.
"Eeeh apa ? Enggak deh Dev aku udah lupa semua, pun udah 1 semester aku gak ikut olim gak dicariin bu Eka" Jawabku menolak dengan datar.
"Tapi Bu eka bilang gitu kemarin. atau aku minta nomor kamu aj deh biar gampang bilangin kamu bimbingannya" kalimat polos itu terucap sambil menyerahkan HP nya. Dan aku mencatat nomorku.
Minggu sudah berganti jadi bulan, yah dan aku semakin dekat dengan Sukri dan william.
Sukri (?)
Maksudku Aldi. Itulah panggilannya di kelas, entah darimana anak-anak mendapat julukan itu, aku juga kadang memanggilnya PADANG, itu karena sukunya.
"Kri, lo mau kantin ya ?" Ya aku sudah mulai bisa mengucap logat gue elo ala mereka.
"Iyaa mbel sm willy (william maksudnya, kenape ?" aku selalu mendengus kalau dia memanggilku GEMBEL.
"Nitip dong Al, nasi uduk kantin pojok 1 pedes yaak" bujukku supaya diiyakan.
"Ah lo mah giliran nitip aja Al el al el mulu" walaupun mengomel aku tau pasti dia belikan.
Sharon lifia dan marsya sedang asyik mengupdate berita hangat angkatan, haha akupun hanya menyimak.
"Neth, lo deket ya sama aldi?" Celetuk marsya.
" Sukri? Hah apa sih sya, sama willy juga tau" jawabku seolah santai.
"Tapi ya, william mah kayanya biasa temenan gitu, kalo aldi.... emmm ya gatau ya" goda lifia kepadaku.
"Ati-ati Neth, lo kan tau salsya galak" jelas sharon.
Memang ku akui aku mulai ragu, walaupun aku juga dekat dengan willy, tapi ada rasa nyaman dengan si padang. mungkin mereka benar aku ada rasa dengannya ?.
Tapi....
"Bagaimana dengan sasya?" batinku bingung. Salsya adalah pacar sukri sejak awal kelas XI, aku lumayan akrab dengan salsya, dan aku tau dia pencemburu.
"Laper banget ya beb, sampe ngelamun? Nih nasi uduk cinta sudah datang. Selamat makan" lagaknya seperti pelayan resto. Sudah kutebak aldi pasti membelikannya.
"Padang, lo sinting gak beliin gue minum di koperasi?" tanyaku kesal.
"Lupa beb. Oh tu minta minum deven aja tuh bawa aqua gelas 3" Jawabnya asal tanpa dosa dan mengambilkannya untukku.
Akupun melirik ke arah deven yang sedang makan bekalnya. Aku memang belum pernah ngobrol dengannya kecuali saat dia minta nomor HP ku itu. Padahal kalau dipikir dengan Edo dan Tanto yang preman sekolahan aja aku biasa ngobrol. Apa yang salah dengan si pendiam ini?....
Materi fisika kali ini emang dahsyat.!!! Gila garis dan katrol yang harus dihitung sudut dan gayanya. Aaah Tidak!!! mungkin otakku juga sudah tumpul karena tidak pernah datang olim.
"Ya. Besok ulangan Bab vektor ya" tukas Bu Dina.
"mateeei lah awak cuma semalam belajar ini" batinku
"Bu dengan cara yang saya maju tadi ya bu" usul seseorang dari barisan ujung.
"Tapi cara kamu lebih panjang deven, yang lain bagaimana setuju atau tidak?" tanya bu dina.
"Bu, jangan buk, jangan buk yang pendek aja kita mau mati" kompak kami menolak.
"Tidak bu, cara deven lebih dari akarnya. jadi supaya kita paham dasarnya" bela Britney and the genk. Terang saja dia bela deven mereka satu geng dan deven satu-satunya cowok di gengnya, lebih lagi gosipny putri dan deven saling suka sejak kelas X.
Entah kuda lumping mana yang merasuki Bu dina, beliau menuruti permintaan Deven and the genk walau raut kesal terpampang diwajahnya.
Esoknya mataku panas menatap soal fisika, otakku sudah bau gosong. Tidak biasanya aku sebodoh ini mengerjakan soal fisika.
"Gara-gara si angkuh aku jadi kelabakan" geramku sambil mengumpul pekerjaanku karena waktu sudah habis. Selepas itu aku masih seperti orang linglung karena fisika.
Braaaakk!!!
Kubanting pintu kelas saat aku berpapasan dengan si angkuh deven. menyapanya ? Tidak sudi.!
"Beb kenapa masih pagi lho ini" ucap aldi mengelus pundakku.
"Gapapa. Gue takut remed sumpah hari ini kan ulangan minggu lalu akan dibagi" jawabku kesal dan sengaja ku keras-keraskan supaya si angkuh itu dengar.
"Ke kantin yuh berdua biar ga emosi" menarik dan menggenggam tanganku.
"Salsya ?" tanyaku menghentikan langkah menatap ke aldi.
"Udah biarin, yang penting kamu dulu sayang" ucapnya lembut dan merangkulku.
Bu dina sudah memasuki kelas, satu persatu nama dipanggil dibagikan lembar ujiannya. sampai tiba
"Anneth" panggil bu dina
Aku maju mengambilnya dan memandang kertasku lesu.
"Brengsek. 75 ? KKM doang." ucapku lirih namun penuh kekesalan.
"Ya anak-anak ulangan kali ini yang lulus hanya 2 orang Deven dengan nilai 100 dan Anneth 75. Sisanya remedial besok dengan cara dari ibu" jelas bu dina.
Waktu istirahatpun tiba....
Brraaakk!!! Puas lo angkuh!!! Ucapku marah dan menggebrak mejanya.
Tapi si angkuh hanya diam menatapku kaget.
"Lo seneng dapet 100. Temen lo remed semua. Egois." tukasku sinis
"Neth, deven kan cuma kasih saran dengan caranya" bela Britney.
"Diem lo!! Lo remed kan ? Gausah sok bisa kalo gitu brit. Gue marah bukan karena nilai gue jelek. Setidaknya gue lulus. Tapi gue ga suka cara lo egois mau pamer pinter gak mikirin temen. Mereka segan sama lo yang pendiem anak teladan. Gue enggak!!.
"Maaf neth" balasnya lirih dengan raut muka yang khawatir atau takut.
"Udah dev km keluar dulu deh biar tenang" lerai william.
Dan aldi yang sedari tadi memegang kuat tanganku supaya tidak emosi kemudian memelukku lembut.
"Sabar beb sabar udah udah" tenangnya sambil mengusap puncak kepalaku.
..
...
Demi makhluk se angkuh deven pasti pengen jadikan pilus lauk makan kan (?)
Tapi bagaimana Anneth, aldi dan salsya ?
...
Lets vote and coment jangan lupa. . .
Jangan ikutan angkuh ky deven
💙shan
KAMU SEDANG MEMBACA
Kemarin Lusa
Teen Fiction"Semua memang akan ada masanya". Ya seperti itulah yang biasa orang-orang ucapkan. Aku hanya bisa menarik satu sudut bibirku dengan sedikit menyipitkan mata dan nafas yang dalam ketik mendengarnya. "Berhenti bukan artinya pergi Sakit bukan berarti h...
