"Pergilah hyung" ucap Jooheon, namun Wonho tak menggubrisnya.
Mereka bertiga mendengar suara langkah kaki, namun tak tau dari arah mana. Seperti suara daun kering dan ranting yang terinjak. Yongguk mengedarkan pandangannya. Mencari dari mana suara itu berasal.
"Kau!" Yongguk menunjuk Wonho
"Kau tidak membawa siapapun?" tanyanya
"Tidak" jawab Wonho
"Ayah"
Yongguk membulatkan matanya saat mendengar suara itu. Suara itu adalah suara Seona. Suara dari putrinya. Entah dia sadar atau tidak, Yongguk melangkahkan kakinya, mendekat ke arah asal suara itu.
Namun saat ia semakin mendekat....
*slab
Sebuah belati menancap di mata sebelah kanannya. Yongguk terus berteriak sembari memegang matanya yang terluka. Wonho yang melihat itu merasa lemas, namun tidak untuk Jooheon. Anak itu hanya menatap dengan tatapan datar. Menatap Yongguk yang sedang mengerang kesakitan.
"Ini menyenangkan" gumam Jooheon, namun terdengar oleh Wonho
"Apanya yang menyenangkan?! Apakah ia akan tetap hidup?" ucap Wonho
"Lebih baik tidak" ucap Jooheon
Dan pelaku yang melukai Yongguk menampakan dirinya. Changkyun. Ia menghampiri Yongguk yang sudah tak berdaya. Mencabut paksa belati yang masih menancap kuat di mata kanannya. Memperhatikan darah yang melumuri belati itu, lalu menjilatnya. Wonho berniat untuk menghampiri Changkyun namun Jooheon menahannya.
"Jangan hyung, dia bukan Changkyun, Seona masuk ke dalam tubuhnya" ucap Jooheon
Dan, satu tusukan lagi berhasil mendarat di leher pria itu, tepat di jakunnya. Lalu tangannya memainkan belati yang menancap itu, hingga Yongguk memuntahkan darah yang sangat banyak.
"Maaf ya ayah, tapi kau pantas mendapatkannya" ucap Changkyun, lebih tepatnya Seona.
Changkyun tertawa sangat keras saat Yongguk mulai sekarat. Ia senang, ia puas. Wonho yang melihat itu bergetar ketakutan. Ia takut jika itu benar benar Changkyun, bukan Changkyun yang sedang dirasuki.
"Mau aku bantu?" tanya Jooheon, dibalas anggukan oleh Changkyun.
Jooheon mengambil sebuah batu berukuran sedikit besar, namun berat. Dan diangkat lalu dijatuhkannya batu itu tepat di kepala Yongguk. Hingga kepalanya pecah. Tengkoraknya, daging dan otak berceceran, hingga bola matanya juga hancur. Tak ada yang bersisa dari bagian kepala Yongguk. Semuanya hancur. Benar benar hancur.
"Maafkan aku karena aku harus membunuh lagi, Changkyun" ucap Jooheon
Jooheon, Wonho meninggalkan mayat Yongguk di tempat itu. Dan Wonho menggendong Changkyun yang tidak sadarkan diri itu dan segera membawanya ke mobil.
Tetapi, Jooheon memberhentikan langkahnya. Ia diam sejenak. Punggungnya merasa dingin sekali. Hanya punggunya saja. Lalu ia berbalik. Melihat gumpalan kabut asap yang tidak terlalu tebal. Tepat disitu terdapat Seona yang sedang berdiri. Menghadap ke arah Jooheon.
Entah kenapa, Jooheon tersenyum begitu saja. Begitupun dengan Seona. Seona melambaikan tangannya ke arah Jooheon, dan Jooheon juga balas melambai pada adiknya itu.
Tak lama kemudian. Seona menghilang, bersama dengan kabut itu. Dan senyuman di wajah Jooheon memudar.
"Jooheon" panggil Wonho
"Ah iya hyung" jawab Jooheon sembari menghampiri Wonho
Wonho menyuruh Jooheon untuk ikut ke rumahnya. Sesampainya di rumahnya, setelah menidurkan Changkyun di kamarnya, Wonho bertanya pada Jooheon.
Siapa pria itu, apa masalahnya dengan Jooheon, dan kenapa pria itu ingin membunuh Jooheon. Jooheon menceritakannya malam itu juga. Dan soal ibunya, Wonho juga merasa sedih.
"Itu sakit sekali" ucap Wonho
"Dan, jika aku membiarkan pria itu tetap hidup, pasti ia akan semakin memisahkanku dengan ibu" ucap Jooheon
Changkyun terbangun karena sinar matahari sudah menyentuh wajahnya. Saat ia akan mendudukan dirinya, ia merasa jika kepalanya berdenyut. Ia meremas rambutnya lalu membaringkan diri lagi.
Beberapa menit. Changkyun baru tersadar jika sekarang ia sedang berada di kamarnya, bukan kamar Jooheon. Tapi ia mendengar suara dengkuran yang tidak terlalu keras di dalam kamarnya. Dan ternyata Jooheon masih tertidur. Ia tertidur di meja belajar Changkyun, dengan posisi duduk.
Changkyun tidak ingat kejadian semalam. Dan Changkyun juga tidak tau kenapa tiba tiba mereka ada di rumahnya.
Saat kepalanya sudah membaik. Ia menghampiri Jooheon yang masih terlelap di meja belajar itu.
Ah... Kenapa Changkyun jadi ingat mimpinya itu lagi. Di mimpinya, ia pernah melihat Jooheon tertidur di meja belajar dengan posisi yang sama, lalu ia memberikan selimut pada tubuh Jooheon.
Mimpi itu terlalu menyakitkan.
"Changkyun"
Changkyun tersadar dari lamunannya. Ia menoleh dan mendapati Minhyuk yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Hyung" ucap Changkyun
"Cepat ke bawah, kita akan sarapan" ucap Minhyuk
"I-iya"
"Oh ya, dan bangunkan Jooheon, ajak ia sarapan bersama" ucap Minhyuk yang setelah itu pergi.
Changkyun mengedipkan matanya berkali kali. Memastikan jika ia tidak salah dengar tadi.
Minhyuk? Ia tidak memarahi atau mengomel pada Changkyun soal Jooheon? Changkyun senang, namun ia juga tidak yakin jika Minhyuk sudah mulai menerima Jooheon, walaupun apa salah Jooheon.
Ia kembali menatap wajah tenang Jooheon saat tertidur. Sangat menggemaskan pikir Changkyun. Itu membuat Changkyun tersenyum, lalu jemarinya mengusap pipi Jooheon dengan lembut. Dan itu membuat Jooheon terbangun.
"M-maaf membangunkanmu" ucap Changkyun
"Tak apa, apa aku merepotkanmu? Karena tidur disini?" ucap Jooheon dengan suara serak khas bangun tidur
"Sama sekali tidak, Minhyuk hyung menyuruh kita untuk cepat turun ke bawah untuk sarapan" ucap Changkyun
"Biar aku sarapan di rumahku saja" ucap Jooheon
"Jika aku memohon padamu, apa kau akan tetap sarapan di rumah mu?" ucap Changkyun
"Aish... Baiklah" ucap Jooheon sembari mengusak rambut Changkyun
"Maaf sudah merepotkan kalian" ucap Jooheon
"Jangan bicara begitu, sekarang kau juga bagian dari kami" ucap Wonho
"Oh ya Jooheon, aku sudah mendengar tentang kejadian semalam dari Wonho hyung, dan soal ibumu, aku bisa merasakan perasaanmu Joo, berada jauh dari ibu adalah sesuatu yang menyakitkan, tapi kau beruntung, kau masih bisa melihat ibumu" ucap Minhyuk, Jooheon hanya tersenyum
"Maafkan kami juga, karena bersikap buruk padamu" ucap Hyungwon sembari menundukan kepalanya
"Jangan begitu hyung" ucap Jooheon
"Jangan bercanda! Itu sama sekali tidak lucu!"
"Aku sungguh sungguh, aku yang membunuh suamimu"
"Kenapa kau melakukan itu?! Kenapa?!" Theresa berteriak pada Jooheon lalu menampar pipi kiri Jooheon
"Karena ia seorang penjahat! Ia juga hampir membunuhmu ibu! Bertahun tahun yang lalu, kau mengalami kecelakaan lalu hilang ingatan gara gara pria itu! Dan kau menjadi tidak mengenalku juga gara gara pria itu! Dia juga yang membuatmu berada di rumah sakit ini karena ia memasukan banyak obat tidur padamu! Ia mengancamku ibu, ia mengancamku jika aku tidak menyerahkan diriku padanya, dia akan menyakitimu, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi ibu" ucap Jooheon
"Bagaimana aku bisa mempercayai perkataanmu?" ucap Theresa
"Aku akan membawamu ke rumah kita dulu ibu"
KAMU SEDANG MEMBACA
Just let me in
Acak"Apapun yang kita lakukan, tentu kita akan dapat balasannya, dan kini aku akan membalaskan perbuatanmu padaku" "Berawal dari mimpi. Kehidupanku menjadi berubah. Aku seperti melupakan semuanya, dan hanya terfokus pada dirimu. Aku akan menemukan dirim...
