Di kamar Changkyun, mereka berdua hanya diam. Jooheon diam di jendela tempat Changkyun menemui dirinya dulu. Jooheon bisa melihat jendela yang sudah rusak dan ditutupi oleh papan kayu. Ia tersenyum juga menangis. Hatinya menjadi sakit saat mengingat kejadian dulu, bagaimana ia kehilangan saudaranya, bagaimana ia dikurung disana dan mendapat siksaan, itu menyakitkan.
Sudah beberapa tahun Jooheon mencoba melupakannya, tetapi tidak bisa. Changkyun menyentuh pundak Jooheon yang bergetar. Ia bisa merasakan apa yang Jooheon rasakan.
"Mencoba mengingatnya huh?" ucap Changkyun
"Tidak, ingatan itu datang dengan sendirinya, aku sudah mencoba melupakannya tapi tidak bisa, aku benar benar merindukannya"
"Jihoo masih disini, ia terus datang pada Minhyuk hyung, entah apa tujuannya, ia masuk ke tubuh Minhyuk hyung"
"Minhyuk hyung? Bisa aku menemuinya?"
Changkyun membawa Jooheon ke kamar Minhyuk. Disana sudah ada Kihyun, yang seharian menjaga Minhyuk. Jooheon prihatin melihat Minhyuk yang sudah tak berdaya. Ia menghampiri Minhyuk, duduk di sisi ranjang. Saat menatap Jooheon, Minhyuk dibuat takut, ia menjauhkan dirinya dari Jooheon.
"J-Jihoo, jangan! Jangan!" ucap Minhyuk
"Tenang, aku Jooheon, bukan Jihoo, aku saudaranya, jangan takut" ucap Jooheon menenangkan Minhyuk
"Jooheon?"
"Aku bisa merasakan Jihoo ada disini, ia pasti sedang melihatku, eum Changkyun, bisakah kau membawaku ke lorong itu?"
"Baiklah, ayo"
Jooheon menatap dinding beton itu. Foto keluarga masih terpasang, namun lilin itu sudah tidak dinyalakan lagi, terlihat berdebu dan penuh sarang laba laba. Jooheon membersihkan kedua lilin itu dengan tangannya. Diambilnya sebuah korek dari saku celananya, lalu dinyalakannya kedua lilin itu olehnya.
"Lilin ini menandakan aku dan Jihoo" ucap Jooheon
"Itu sebabnya setiap aku berdiri di situ salah satu lilin itu terkadang mati, apakah karena Jihoo sudah mati?" ucap Changkyun
"Benarkah? Mungkin begitu"
"Aku akan membiarkanmu disini sendiri, panggil aku saja jika membutuhkan sesuatu" ucap Changkyun dibalas anggukan oleh Jooheon
Tiba tiba saja, Jooheon merasa hawa disana semakin dingin. Telinganya mendengar hembusan angin. Changkyun benar, salah satu lilin itu akan mati, dan yang satunya hampir mati karena hembusan angin.
"Jihoo, apakah jika lilinku ini mati apakah aku akan mati juga?"
Seseorang menggenggam tangan Jooheon. Terasa dingin dan kurus. Jooheon tersenyum dan menatap orang itu, Jihoo. Ia tak bisa menahan tangisnya. Ia bertemu dengan orang yang ia rindukan, walaupun bukan sebagai manusia, ia senang. Hanya saja, ia tidak bisa memeluknya.
"Aku merindukanmu" ucap Jooheon
"Aku juga" balas Jihoo sambil tersenyum
"Jihoo, maukah kau mengabulkan permintaanku? Sekali ini saja, yang terakhir kalinya"
"Apa itu?"
"Pergilah, ini bukan tempatmu lagi Jihoo, beristirahatlah dengan tenang, biar aku yang menyelesaikan ini, kau menyuruhku untuk tetap hidup dan aku mengikuti perkataanmu, sekarang giliranmu untuk mengikuti perkataanku, pergilah dengan tenang, kau sudah tidak memiliki beban apapun, kau mau kan?"
"Kau ingin aku pergi Jooheon? Kau tidak mau melihatku lagi?"
"Aku ingin, aku ingin kau bersamaku, aku ingin melihatmu setiap hari, menyapamu saat bangun tidur, tapi sekarang kita sudah berbeda, dan ini bukan tempatmu, mengertilah Jihoo"
KAMU SEDANG MEMBACA
Just let me in
De Todo"Apapun yang kita lakukan, tentu kita akan dapat balasannya, dan kini aku akan membalaskan perbuatanmu padaku" "Berawal dari mimpi. Kehidupanku menjadi berubah. Aku seperti melupakan semuanya, dan hanya terfokus pada dirimu. Aku akan menemukan dirim...
