DuapuluhEmpat

134 5 0
                                        

Devan terpaksa membeli lagi cemilan disalah satu minimarket terkenal. Ia memilih Alfamart aja soalna kemarin beli di indomaret. Lagian dua toko ini bersebrangan jadi rasa ragu mau beli dimana dulu. Saat devan memilih beberapa makanan ia semakin teringat ketika annisa memeluk dirinya begitu senang. Bahkan suara tangisan bahagia annisa masih terngiang ditelinganya. Membuat devan merasa bahagia olehnya.

Jika dalam banyak kebahagiaan yang ada didunia ini. Mungkin annisa akan menjelaskan. Dirinyalah yang merasa paling bahagia. Berada di balkon dengan balutan jaket yang menutupi kulitnya dari dinginnya angin malam yang sangat menusuk namun dingin. Langit bercahaya karena bintang-bintang muncul, ada ratusan bahkan ribuan ataupun bisa jadi milyaran. Tak ada yang bisa menghitung bintang secara keseluruhan. Karena mereka semua bentuknya sama.

"Hallo sayang" Devan sudah sampai didalam kamar sambil membawa kantong plastik yang berisikan makanan. "Aku liat kamu dari bawah. Fokus banget liat langitnya" Devan bergerak menuju annisa. Lalu duduk diatas lantai dan membuka salah satu cemilan yang ia beli.

"Bintangnya banyak banget ya?" Devan mengangguk sambil mengunyah snack dimulutnya. "Terus ada bulan bagus banget kayaknya bulan purnama deh" sekali lagi, devan mengangguk. "Kamu itu ibarat bulan, aku bintangnya"

"Kok kamu sih bintangnya?"

"Emang kenapa kalo aku bintangnya?"

"Jangan mendingan aku saja yang bintang karena kalau kamu ada banyak akukan jadi susah pilih. Satu aja udah buat aku klepek-klepek apalagi milyaran bisa muntaber aku hehe"

"Hahaha ada-ada aja pake muntaber segala"

"Tadi papa kamu makanin cemilan aku, jadinya aja aku beli lagi duh untung sabar" Cerita devan.

"Makanya jangan tinggalin sembarangan kan jadi diambil sama orang lain. Sama kayak jodoh, jangan di anggurin nanti keburu diambil sama orang"

"Aku gaakan tinggalkan kamu. Karena kamu jodohku"

"Belom tentu kita ini jodoh atau enggak" Devan berhenti mengunyah dan terdiam, menatap annisa dengan tatapan yang mulai serius. "Kalaupun jadi mungkin hidupku gaakan lama lagi"

"Kamu jangan ngomong gitu lagi! Aku gasuka! Kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu. Kita sama-sama memiliki, aku gak mau kehilangan apa yang aku miliki" kata devan dengan nada yang sedikit meninggi.

"Tapi jika itu faktanya..."

"Fakta apa?! Sudahlah sayang please jangan diingat lagi. Believe me" Ucapnya sembari menatap kepada annisa dengan penuh haru. Annisa mengangguk lemah. Perkataan devan mungkin terlihat yakin tetapi apakah takdir akan mengikuti apa yang akan dikatakan oleh devan barusan? Lihat saja nanti.

Malam semakin larut. Annisa merasa ngantuk dan ia kini menguap berkali-kali. Tetapi devan daritadi asik memakan kacang garuda. Kebanyakan cemilan devan yang makan sebagian kecilnya annisa ikut makan juga.

"Kamu gak pulang van? Udah malam lho" Kata annisa.

"Bentar lagi"

"Terus kamu daritadi makan Mulu apa masih muat tuh perut"

"Masihlah. Akumah gaakan pulang ah mau nginep aja kayak waktu itu"

"Gaboleh!"

"Lho kenapa?"

"Pokoknya gaboleh kamu harus pulang kerumah"

"Tapi ayah kamu bolehin aku tidur bersama kamu"

"Gaboleh sayang, udah kamu pulang. Bandel banget kalo disuruh"

Devan menunduk. "Iyaya deh"

"Besok masuk sekolah entar telat"

"Aku bawa kamu ketempat tidur ya" Devan menggendong annisa kekamar hingga diatas tempat tidur miliknya. Kemudian mengambil kursi roda lalu melipatnya dan menaruhnya disamping tempst tidur annisa. Devan berjongkok samping annisa yang sudah terlentang diatas kasur dengan setengah tubuhnya yang dibaluti oleh selimut. "Kamu gapapa tidur sendiri?"

"Gapapa ko emangnya aku bayi yang harus temeni terus"

"Bukan gitu. Kalo ada apa-apa kan enak jadinya"

Devan mengelus kepala annisa. "Goodnight and goodbye. Semoga besok kita bertemu" Devan mencium kening annisa.

"Night too"

"Terimakasih nis karena kamu, aku sekarang lebih menghargai apa itu hidup"

"Jangan berterimakasih padaku berterimakasih lah pada allah yang sudah memberimu hidayah"

"Iya dan dia memberiku hidayah dalam bentuk seorang wanita cantik yaitu kamu"

Annisa merasa tersipu malu dan ia saat ini salting parah dengan ucapan devan. "Udah kamu pulang, aku mau tidur. Kamu jangan gadang ya. Jangan keluyuran jangan..."

"Iya iya iya sayangku aku akan pulang kerumah dan langsung rebahan"

"Nah gitu dong"

Devan berdiri. "Kalo kamu ada apa-apa miscall aku aja ya" Devan akhirnya keluar dari kamar annisa lalu menutup pintu kamar pacarnya rapat-rapat. Waktu bersama annisa adalah waktu terbaik sepanjang masa. Ia takkan pernah rela jika waktu bersama annisa habis dan menarik paksa aku untuk pergi darimu sementara. Tenang devan ini cuman semalaman, besok lu bisa peluk peluk manja dia lagi.

***

Spontan in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang