Dua minggu kemudian...
Devan akhirnya bisa menghembuskan nafas dengan lega dan melihat nilai ujian akhirnya tidak begitu buruk seperti tahun-tahun kemarin. Ini mungkin langkah awal baru menuju kehidupan baru ditahun baru yang akan datang. Kali ini Devan tinggal disebuah rumah berukuran sederhana, tidak terlalu besar tetapi muat untuk berteduh dan lagi Devan tidak ngontrak melainkan membeli rumah itu secara cash. Enak rasanya hidup sendiri, walau uang ngalir dari ortu pengkotan itu. Lagipula Bagas sering menginap dirumah Devan kadang kalo ia gabut. Aneh rasanya tidur satu kamar.
Sekolahan saat ini libur karena semua kegiatan berakhir dan tinggal menunggu sampai tahun depan saja untuk masuk semester genap. Devan ingin berjalan-jalan sebentar, mengelilingi lingkungan barunya supaya tidak tersesat saat hendak kemana-mana. Ada satu pemandangan yang menarik perhatiannya. Seseorang tengah memerhatikan rumah kosong disebelah sana bersama pemiliknya. Tetapi rambut dan tubuh wanita itu seperti familiar. Hanya saja ia bisa berjalan layaknya orang normal.
Devan memutar balik motornya dan memarkirkan didepan rumah tersebut. Tak lupa mencabut kunci motornya. Devan berjalan perlahan memasuki halaman rumah ini. Tak jauh berbeda dengan rumah yang ditempati Devan. Hanya saja memiliki halaman depan yang sedikit lebih luas dan juga terlihat halaman belakangnya cukup luas bahkan muat untuk membuat kolam renang berbentuk sedang.
Karena terlalu fokus memerhatikan rumah ini sampai lupa Annisa telah keluar dan tak percaya Devan ada disini. "Devan" Sahut Annisa.
Devan menoleh lalu tertawa kecil sambil mengaruk belakang kepalanya. "Kamu ngapain disini?" Tanya annisa.
"Aku hmmm anu"
"Kalau begitu saya tinggal sebentar kalo kamu berubah pikiran bisa temui aku disamping blok sana" kata pemilik rumah bertutur ramah dan meninggalkan kami berdua disini.
"Kamu ikutin aku?" Tuduh Annisa pada Devan.
Devan mengangguk. Rasanya aneh bila bertemu dalam waktu yang cukup lama. Tak seperti dulu, bisa lepas. "Kok diem saja?" Tanya annisa sekali lagi.
"Kamu sudah bisa berjalan?" Akhirnya Devan bicara juga. Annisa mengangguk tersenyum bahagia. "Walau kamu sudah bisa berdiri tetap saja aku yang paling tinggi"
Annisa tertawa kecil. "Btw kenapa kamu tau aku ada disini?" Tanya Annisa.
"Lagi keliling tak sengaja liat kamu disini, karena penasaran aku kesini saja" Annisa hanya ber-oh saja. "Kamu mau pindah kesini?"
Annisa mengangguk. "Lagipula tinggal dirumah besar tapi sendirian itu rasanya sepi. Juga aku suka kok rumah ini, bagus inside dan outside-nya"
"Lalu kapan kamu pindah kesini?"
"Lusa"
Hening tak ada obrolan sama sekali dari kami berdua. Annisa juga pamit untuk mengurusi berbagai kepindahannya.
"Annisa" perempuan itu menoleh dan menatap kearah Devan. "Sudah lama kita tak bertemu, senang bertemu denganmu" Annisa hanya mengangguk sambil tersenyum tipis lalu meninggalkan devan sendirian. Nyatanya yang dulu pernah sedekat nadi perlahan-lahan sejauh sejauh jantung dan ginjal. Yang dulu bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk obrolan tak penting kini butuh beberapa menit untuk beberapa topik obrolan. Rasanya begitu Dejavu. Ingin memiliki kembali masih tertanam dalam diri tetapi harus sadar bahwa yang sudah diputuskan kecil kemungkinan bisa disambungkan.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Spontan in Love
Romance"Kenapa kamu jatuh cinta pada wanita seperti aku? Punya fisik yang tidak cantik dan sesempurna wanita lainnya?" "Terkadang cinta yang sesungguhnya itu bukan dari dia sempurna tapi, bagaimana ia mengubahnya menjadi sempurna," Kehidupan Annisa sebelu...
