Mobil chacha melaju dengan kecepatan cukup tinggi diatas jalanan aspal hitam yang baru saja diselesaikan. Jalanan sudah mulai agak ramai karena banyak warga atau masyarakat yang nongkrong dipinggir jalan untuk menghabiskan sore mereka sambil mengobrol. Aku tak tau apa yang akan terjadi dan mengapa raut wajah chacha selalu menunjukan hal-hal yang sama sekali aku tak mengerti. Mobil ini berkendara hingga masuk kawasan pantai lalu berhenti diatas pasir lembut dan menciptakan sekebul asap kecil disekitar. Chacha keluar dan membantu aku keluar dari dalam mobil.
"Ayoo pasti bisa" Kata chacha sambil memapahku menuju kursi roda yang letaknya tak jauh. Akupun duduk diatas kursi. Chacha mendorongku dari belakang. Lalu kulihat seorang pria yang sama sekali ku kenal dan menegok kearahku dengan tatapan terkejutnya. Tapi dibelakangnya juga ada orang yang juga kukenali. Memang benar kata chacha.
Chacha meneguk ludah dan memaksakan tenaganya untuk mendorong lebih dekat lagi kepada mereka. Dari kejauhan devan melihat annisa menuju dirinya. Satu sisi ia senang melihat wanita itu telah sehat dan siuman tapi satu sisi, dia bukan siapa-siapanya lagi. Bagas yang heboh dan terharu langsung menghampiri annisa serta memeluknya. Devan yang melihat kejadian itu langsung pergi dengan kekesalan yang begitu tinggi. Elang mengejar sahabatnya itu.
"Heh! Lu mau kemana?" Jegat elang memblokade didepan hadapannya.
"Minggir!" Tetap saja elang ngeyel berdiri didepan tubuh devan seolah ia pengen tau apa yang telah terjadi. "Gue bilang minggir!" Devan menghela nafas dan mengambil jalan lain namun ditahan oleh chacha dengan memegang tangannya. Devan menoleh kebelakang, wajah chacha berkaca-kaca. Menatapnya.
"Sorry dev gue yang udah buat annisa nye-nyebur kekolam" Pengakuan chacha itu sungguh tak habis akal. Seketika juga devan langsung melepaskan tangannya chacha yang menempel ditangannya. Wajahnya menunjukan penuh kekecewaan. "Gue terpaksa lakuin ini karena lo adalah cinta pertama gue waktu kecil. Gue tau lo udah tidak ingat lagi tapi setidaknya biarkan gue ajak lo nostalgia. Betapa tiap harinya gue selalu tidak nyaman dan sakit hati. Betapa sakitnya gue setiap ketemu lo bukan sebagai sahabat yang dikenal masa kecil tapi sebagai sahabat yang baru saja dikenal" Ungkap chacha semuanya dengan penuh emosi.
Devan masih tidak mengerti, wajahnya begitu kecewa penuh sehingga apa yang ia katakan tidak berarti apa-apa buatnya. "Kalian buat gue muak!" umpat kesal devan. Ia akhirnya memutuskan untuk pergi dari sini dan tidak akan pernah lagi.
Annisa masih memandangi begitu pria itu hingga jauh dari mata pandangannya. Sehingga ia juga ikut merasa bersalah seperti chacha. Tapi dirinya sudah ada Bagas dan itu sudah lebih baik. "Hey Nisa kenapa kamu liat devan Mulu sih?" Tanya bagas. "Udah sekarang kamu sama aku aja ya"
"Ehh aku udah bisa sedikit demi sedikit jalan"
"Ohiya? Yuk belajar sama aku"
Devan melihat motornya sudah tidak ada lagi iapun kebingungan kemanakah motornya ilang apakah diambil maling? Kemudian akupun bertanya Kepada penduduk sekitar tetapi kebanyakan mereka bilang tidak tau dan itu membuatku semakin bingung bercampur kesal, bagaimana ia bisa berpergian jika motornya tidak ada. Kemudian ia melihat kekantor polisi terdekat dan berniat melaporkan kejadian ini.
"Jadi motormu ilang?" Devan mengangguk dengan yakin. "Berapa hari kamu tinggalin motor kamu?" Devan menjawab dengan jari yang menunjukan angka satu. "Kenapa kamu tinggalkan di tepi pantai seperti itu? Bisa saja ada oknum lain yang mengambil motor kamu, tapi kamu bawa kuncinya?" Devan mengangguk. "Jadi nak sebenarnya motor kamu sudah kami amankan dihalaman parkir"
"Yang bener pak? Alhamdulillah makasi pak" devan teramat senang dan menyalami pak polisi tersebut dengan penuh senyuman.
Pak polisi mengeluarkan sebuah formulir yang ditujukan untuk pengambilan motor. Setelah devan mengisi formulir itu semua, iapun mengembalikannya kepada pak polisi. "Nama kamu devan Wijayanto?" Devan mengangguk. "Kamu ikut saya ayo"
Kembali kepantai. Bagas mengajari annisa untuk belajar jalan diatas pasir yang lembut dan halus. Hembusan angin laut menyapu rambut annisa. Membuat bagas yang berdiri dibelakang menjadi terganggu pandangannya. "Hemm kamu udah berapa lama kagak cuci rambut? Bau banget hehe"
"Ihh enak aja bau itu karena aku kelamaan dirumah sakit tau"
"Coba deh kamu jalan pelan-pelan"
Annisa mengikuti apa yang dikatakan bagas. Iapun mulai berdiri tanpa harus dipegangi oleh bagas dibelakang. Serta bagas hanya berdiri dibelakangnya sebagai jaga-jaga. Annisa mulai melangkah bagai anak balita yang baru saja belajar jalan. Belom langkah keempat, dirinya sudah ambruk diatas hamparan pasir. Bagas langsung membantu annisa untuk bangun dan belajar sekali lagi.
"Percuma saja gue liburan kesini kalo semuanya berantakan kayak gini" Kesal elang. Kami berdua bicara disebuah caffe sambil meminum matcha green tea kesukaan kami berdua. "Lagian lo sih kenapa bisa ngelakuin hal gila seperti itu? Masih mending tuh cewe siapa namanya..." Chacha menjawabnya. "Iya annisa beruntung dia masih hidup coba kalo udah mati lu kagak bakalan dimaafin sama si devan. Gue tau devan orangnya kayak gimana"
"Tapi gue kagak sadar melakukan hal itu. Gue udah terlanjur emosi dan pikiran selalu buruk padanya. Gue takut kalo gue gabisa dapetin devan kayak dulu tapi... Gue sadar kalo harapan gue padanya udah hancur"
"Gue mengerti perasaan lo itu cha. Dari sd kalian selalu bersama kayak pensil dan kertas" Elang menyeruput matchanya. "Mungkin saja dia lupa ingatan karena pernah mengalami kecelakaan atau hal lain mengenai dikepalanya"
"Lu bener juga" mendadak Chacha terpikirkan begitu saja. "Gue pernah tuh temenin dia dirumah sakit karena gue liat dijalanan terluka parah kepalanya sampe darah dimana-mana Akhirnya gue angkut kerumah sakit dekat-dekat situ takut kehabisan darah tapi ketika dia bangun, dia kagak sama sekali ingat gue. Biasanya kalo dia inget gue. Dia mungkin bakalan kaget sama seperti annisa datang menjemputnya"
"Sudah jelas ini ada masalah di kepalanya"
Chacha mengangguk dan meminum matcha. "apa perlu kita tanya sama dokter yang pernah tangani Devan sebelumnya gue gak pernah nanya-nanya diagnosa penyakit apa yang ia derita selama dirawat"
"Mari selesaikan ini dan mungkin gue rasa ada hal lain lagi diantara mereka berdua" kata elang bernada yakin.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Spontan in Love
Romance"Kenapa kamu jatuh cinta pada wanita seperti aku? Punya fisik yang tidak cantik dan sesempurna wanita lainnya?" "Terkadang cinta yang sesungguhnya itu bukan dari dia sempurna tapi, bagaimana ia mengubahnya menjadi sempurna," Kehidupan Annisa sebelu...
