Waktu siang telah datang, kebosenan yang dalam batin mulai terasakan sekarang. Sejak tadi aku hanya menatap langit-langit ruangan ini. Infusan yang menempel dipinggung tangan terus saja mengalirkan nutrisi. Serasa aku hanya makan sekali dalam sehari, biasanya aku bisa makan lebih dari tiga kali. Tetapi rasanya kini, lidahku mati rasa. Kemudian salah satu perawat pria datang kedalam ruanganku sambil membawakan makanan. Dia menyapa diriku dan aku jawab seadanya saja, tidak terlalu minat berinteraksi dengan orang lain. Dia mengajak aku untuk jalan-jalan diluar sebentar juga katanya untuk melatihku berjalan. Apakah aku bisa berjalan kembali? Annisa mengangguk dan mengikuti perkataan pria itu.
Langkah pertama yang aku tempuh adalah turun dari tempat tidur ini dan melangkah kepada kursi roda yang jaraknya tidak terlalu jauh. Aku tidak percaya bisa berdiri setinggi ini. Dia memapahku pelan-pelan. Mengajar kaki kanan ini untuk melangkah lebih dahulu. Satu langkah sudah ditaklukkan betapa senang dan semangatnya aku untuk berjalan lagi. Tetapi langkah kedua hampir saja aku terjatuh untungnya pria itu cepat tanggap. Aku tidak boleh putus semangat. Ku kerahkan semua tenagaku. Kini langkahan kedua yang tadinya hampir saja gagal. Ternyata berhasil dan aku duduk diatas kursi roda.
Dia mendorongku keluar dari bangunan ini yang begitu sesak. Ucapannya dan senyuman dia sangat murni. Apakah dia seumuran? Kulihat kita serasa teman satu angkatan apa benar? Matahari menyinari tubuhku, sensasi hangat langsung menembus. Dari dulu aku suka kehangatan. Dibalik dinginnya hujan dan angin ternyata bumi memiliki sisi kehangatan yaitu sinar matahari.
***
Hari sudah semakin siang, tetapi diriku tak memiliki tempat untuk pulang sudah terlalu muak kembali kerumah. Ingin sekali pergi jauh tetapi kemana? Takdir ini semakin tidak jelas, terlantung-lantung bagai tak diurus. Elang pergi keluar untuk membeli beberapa cemilan juga sembari mengambil beberapa bajunya di hotel. Aku hanya menatap suasana pantai yang sepi hanya beberapa pengunjung, mungkin saja belom libur panjang dan sekolah masih dilaksanakan. Tidak terasa waktu sudah hampir usai dan beberapa minggu lagi akan menyambut tahun baru. Pantai yang akan menjadi saksi bisu sekaligus hampir menjadi senjata terbunuhnya satu jiwa yang ceroboh. Mendadak pikiranku terfokuskan pada annisa. Seketika perasaan khawatir dan gundah menyeruak. Tetapi... Dia sudah tidak membutuhkanku lagi, dia sudah memiliki orang lain yang bisa jaga dirinya.
Bagas berjalan-jalan sebentar dipantai sembari menikmati angin laut yang begitu berbeda. Derusan ombak terdengar digendang telingannya. Langit terlihat cerah sekali. Chacha juga Pamit sebentar untuk pulang kerumah karena ia takut orang tuanya akan khawatir. Kaki bagas melangkah semakin dekat pantai, pasir yang lembut mampu menghipnotis dirinya. Semakin dekat dan ombak air kecil menggelitik kakinya. Iapun tertawa kecil. Begitu bebasnya ia sekarang, inilah hidup sebenarnya. Tanpa ada aturan, tanpa ada orang lain.
Pemandangan pantai cukup indah. Hingga fokus matanya tertuju pada orang yang sedang berdiri di pantai, tidak melakukan apapun itu kecuali hanya berdiri. Devan semakin takut dan khawatir orang tersebut akan melakukan hal yang sama. Iapun segera berlari kencang kesana dan menangkap tubuh orang tersebut dengan sangat kencang. Disaat itulah ia menerima penolakan sampai terjatuh membuatnya basah kuyup. Kami saling menatap satu sama lain. Ada satu hal yang membuat devan terheran-heran, Bagas menawarkan bantuan untuk berdiri. Tentunya devan menepis bantuan itu karena gengsi. Tetapi bagas memaksanya.
Kami berdiri sama rata, sama perasaan, tanpa ada emosi antara satu sama lain. Seolah ini yang membuat kami canggung. Tidak tau siapa yang akan mengawali obrolan, karena saking canggungnya. Sudah lama mereka tidak berdiri sama rata seperti ini.
"Indah sekali bukan?" Tanya bagas dengan tatap matanya menatap fokus kepada pantai yang ada didepannya. Ia pun menghela nafas. "Gue baru tau ada tempat seindah ini" Katanya tertawa kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Spontan in Love
Romance"Kenapa kamu jatuh cinta pada wanita seperti aku? Punya fisik yang tidak cantik dan sesempurna wanita lainnya?" "Terkadang cinta yang sesungguhnya itu bukan dari dia sempurna tapi, bagaimana ia mengubahnya menjadi sempurna," Kehidupan Annisa sebelu...
