Masih dengan situasi yang sama. Annisa belom juga sekolah. Membuat devan malas melakukan sesuatu. Badmood mendadak menyerang dirinya. devan yang setiap lewat kelas selalu malak orang justru kini hanya diam. Sebenarnya devan malas untuk sekolah dia tidak semangat jika tanpa annisa. Apalagi pukul delapan pagi. saat kelas devan kosong. Pria itu keluar dari kelasnya. Menatap kearah lapangan yang sepi tanpa aku dengannya.
"Kamu dihukum?" Tanya annisa memulai obrolan.
Devan mengangguk.
Devan hanya tersenyum tipis saat mengenang kembali kenangan waktu itu. Belom banyak yang devan lakukan bersama annisa. Jika besok wanita itu kembali. Aku janji bakalan melakukan apa yang akan dia lakukan.
Bahkan peristiwa saat devan mendorong kursi roda annisa lalu mengajaknya berkeliling membuat devan sekali lagi tersenyum. Terserah apa yang dikatakan orang-orang jika melihat dirinya hanya senyum-senyum sendiri. ponselnya mendadak bergetar. Devan mengeluarkan ponselnya. Matanya hampir saja keluar dari tempatnya.
"hallo sayang..."
"hmmmm devan..."
"iya ada apa telepon aku? Kangen ya hihi"
"Hmmm enggak..."
"Enggak salah lagi kan?"
"Hihihi. Aku kangen ke sekolah, kangen belajar"
"yahhhh aku kira kamu kangen aku" Devan memajukan bibirnya.
"iya kangen kamu juga."
"udah makan belom kamu?"
"belom soalnya ini juga mau di kemotherapy dulu"
"hah? Kemo? Bukannya itu buat orang kanker ya"
"Engga juga van, kamunya aja yang gatau"
"Kapan kamu sekolah lagi? Aku kesepian disini, sumpah"
"hihihi gatau van. Ohiya kamu gak bandel kan selama aku gak sekolah?"
"Engga sayang tanyakan saja nanti sama bu melan. Aku tu berubah jadi anak baik hehe"
"bagus deh"
"Kamu kok gak nanya sih sama aku"
"nanya apa? kan tadi bukannya udah?"
"Bukan ish maksud aku kayak gini. 'kamu gak selingkuh kan dari aku?', begitu"
"hihihi ngapain aku nanya itu. Gapenting. Aku percaya ko kamu gak bakalan seperti itu"
Devan merasa tersentuh. "Makasi ya sayang"
"Oh kemarin malam kamu pulang jam berapa? Aku yakin kamu gak pulang kerumah setelah jenguk aku"
"hmmmm itu..."
"jawab devan. Kamu jujur saja sama aku"
"Aku pulang ko kerumah"
"Yang bener?"
"Iya sayang. kamu tumben banget cerewet"
"Abisnya aku khawatir kamu main kemana-mana setelah jenguk aku. Aku sudah hapal banget devan"
Devan hanya terdiam. Bahkan orang tuanya kalah dengan kepekaan annisa. Inilah mengapa dirinya masih semangat menjalani hidup.
"Aku akan jaga kamu nis, karena kamu itu multivitamin aku. Aku tutup teleponnya ya. Goodbye"
Devan memutuskan teleponnya. Menghela nafas dengan panjang. Bell sudah berbunyi. Berganti jam pelajaran. Devan masuk kedalam kelasnya. Sudah lebih dari satu jam dirinya diluar kelas. Sendirian. Inilah yang devan sukai.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Spontan in Love
Storie d'amore"Kenapa kamu jatuh cinta pada wanita seperti aku? Punya fisik yang tidak cantik dan sesempurna wanita lainnya?" "Terkadang cinta yang sesungguhnya itu bukan dari dia sempurna tapi, bagaimana ia mengubahnya menjadi sempurna," Kehidupan Annisa sebelu...
