Empatpuluhtiga

81 2 0
                                        

Langkah kaki devan mengelilingi koridor sekolahan yang sudah mulai sepi sambil memutar-mutar kunci mobil dan bersiul santai berjalan. Ia melakukan ini karena sedang menunggu annisa tes ujian diruang guru lantai bawah. Devan tak ingin ia pulang tanpa Annisa.

"Devan!" Teriakan itu membuat devan menoleh kebelakang dan melihat itu adalah chacha. Sedang apa dia Disni?. Chacha berlari mendekat kearah devan. "Hei"

"Lo ngapain disini?"

"Gue lagi liat-liat sekolah lu aja"

"Gabut banget lu keknya"

Chacha tertawa tipis. "Ihh lu kagak peka apa beneran bego sih?" Devan mengerutkan dahinya. "Gue bakalan sekolah disini" Chacha bersorak tetapi Devan kurang senang dengan berita itu. "Lo kok gak senang gue sekolah disini?"

"Seneng ko seneng" Devan terpaksa tersenyum. Senyum palsu yang ia lempar pada chacha.

Annisa telah keluar dari ruang guru dan melihat devan dari kejauhan sedang berbicara dengan seseorang yang ia tak bisa lihat wajahnya.

"Devan" panggil annisa.

"Heh annisa? Udah selesai tesnya?" Tanya devan. Annisa mengangguk. Chacha berbalik badan.

"Heii lo yang jenguk devan waktu itukan?" Tanya chacha. Annisa mengangguk kepala.

"Yukk nis kita pulang dulu" Kata devan. "Gue duluan ya sis" Pamit devan.

Chacha tertinggal sendiri. Jujur, ia iri melihat devan dan annisa bersama. Tetapi ia tak bisa memaksa pria itu lebih dalam lagi. Ingatannya sudah hilang dan itu terjadi oleh seseorang yang masih ada perasaan pada annisa. Lalu harus berbuat apalagi supaya bisa mengembalikan ingatan devan akan masa lalunya?

Tenang saja, gue bisa mengklaim hak lo untuk jadi milik gue. Tapi gue perlu singkirin seseorang. Batin chacha.

Devan mendorong kursi roda annisa sambil mengelilingi lapangan atas. Kami sengaja melakukan ini karena Gabut, gaada waktu setelah pulang.

"Tadi itu cewek yang tolong kamu waktu kecelakaan bukan?"

"Iyaa sayang"

"Dia ngapain kesekolahan kita?"

"Dia bilangnya bakalan sekolah disini"

"Kok aku cemburu ya liat kamu berduaan sama dia?"

Devan tertawa. "Kok malah nyengir?" Tanya annisa.

"Lucu aja. Itu artinya kamu sayang sama aku. Lagian aku gak kenal sama dia"

Annisa hanya ber-oh saja tanpa bicara apa-apa lagi. Kemudian devan berhenti karena suara notif ponselnya berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk ke aplikasi messenger.

+628xxxxxxxx
Van ini gue chacha, svbck ya

Devan hanya menghela nafas dan memasukan ponselnya kembali kedalam kantong. "Ada apa van?"

"Ini ada nomor tak dikenal"

***

Chacha baru saja pulang dari sekolahan devan, ia tak sengaja melintasi smk permana sanjaya 05. Dipinggir jalan chacha tak sengaja melihat wajah ibu Devan dengan salah seorang siswa. Nampak mereka sedang berbincang-bincang. Chacha memutuskan untuk berhenti.

"Tapi ibu kecewa banget sama kamu gas, udah banyak banget kasus yang kamu buat" Nampak ibu devan memarahi persis bahwasanya ia ibu kandungnya.

Chacha semakin penasaran lalu mendekat. "Tante runi?" Yap nama ibu Devan adalah Runi Setiawati. Chacha mencium tangan Tante runi dan ia tak sengaja bertemu dengan bagas, seseorang yang ia pernah temui dirumah sakit. "Lo kan bagas?"

Bagas hanya menatap sinis kearah chacha. "Cha kamu sedang ngapain disini?" Tanya tante runi.

"Aku tadinya mau pulang terus ga sengaja liat tante runi sekalian aku pengen silahturahmi. Lagian udah lama banget chacha gak ketemu tante runi" katanya dengan penuh kebahagiaan.

"Iyaa lho cha udah lama sekitar 15 tahun hehe"

"Tapi Tante masih awet muda aja lho"

"Ahmasa sih? Jangan buat Tante nething hehe"

Bagas jengah berada disituasi ini. "Bu aku pulang duluan" bagas mencium punggung tangan runi dan menghampiri motornya.

Bu?

Tante runi menghela nafas. "Anak itu selalu saja buat malu ibunya"

Ibu?

"Kita ngomongnya ditempat lain aja yuk gaenak dipinggir jalan kek gini"

"Dimana tan?"

"Cafe selamat dunia akhirat aja gadeket ko dari sini"

"Yaudah tan"

***

"Selamat datang di cafe selamat dunia akhirat, mau duduk diset berapa?"

"Yang ini aja" Tante Runi memilih dibagian pojok saja.

"Okee, sekalian mau pesen apa?" Pelayan itu menunjukkan beberapa menu makanan dan minuman.

"Mau makan apa minum?" Tanya tante runi meminta pendapat dari chacha.

"Serah tante aja"

"Yaudah mau pesen boba drink vanilla aja sama cemilan pretzel. Bisa bayar lewat gopay?"

"Bisa bu tinggal scan kode QR yang ada disini"

"Ohh baguslah"

Kami berdua duduk ditempat yang sudah dipesan sambil menunggu pesanan kami datang. Chacha mendadak kepikiran dengan yang barusan terjadi. "Tante" panggil chacha. "Chacha mau Nanya boleh?"

"Silahkan"

"Tapi tante jangan marah apalagi tersinggung ya"

"Ga masalah"

Chacha memutuskan untuk memberanikan diri. Tak sanggup pertanyaan melayang terus didalam pikirannya. "Kenapa tadi bagas nyebut tante dengan sebutan ibu? Apa tante runi ibu kandungnya?"

Tante runi terdiam. Pesanan kami akhirnya sampai. Tante runi menyeruput minumannya. Chacha menunggu jawaban dari tante runi. "Tapi kamu jangan kasih tau siapa-siapa akan hal ini apalagi devan"

"Iya tante"

Tante Runi menghembuskan nafasnya. "Bagas adalah anak kandung tante"

"Lalu devan?"

"Devan juga sama anak kandung tante tapi dia hasil dari kawin kontrak dengan pak fahri"

Chacha kaget mendengar pengakuan tante Runi yang begitu jujur. Tak menyangka selama ini, tante runi hanyalah ibu kandung bayangan bagi devan dan bagas? Ah bukankah mereka satu musuh? Jika itu jalan takdirnya akankah devan mengetahui semua ini?

***

Spontan in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang