Annisa berdiam diri didalam kamarnya hanya bisa menatap dari dalam karena diluar sedang hujan turun dengan lebatnya. Udara dingin langsung menyeruak tubuh annisa walau pintu dan jendela sudah ditutup. Malam hari ditambah hujan lebih baik tidur untuk kebanyakan orang tetapi bagi Annisa suasana inilah yang membuatnya ambyar.
Kekhawatiran annisa semakin menjadi-jadi ketika devan sama sekali tidak memberi kabar kepadanya. Chat yang ia kirim belom juga dibalas olehnya begitu juga panggilan pun tak diangkat olehnya. Kemana perginya Devan? Oh mungkin ada urusan mendadak kali sampe gak on-on. Ah sudahlah. Annisa mendorong kursi rodanya mendekat ke tempat tidur lalu ia melihat sebuah bingkai foto bersama devan yang ia taruh diatas nakas. Annisa membuka laci yang dibawahnya. Diatas tumpukan kertas terdapat sebuah foto bersama mantannya, bagas.
Kenapa foto ini masih ada? Bukankah semua kenangannya bersama dia sudah ku bakar? Batin annisa.
Pintu kamar diketuk dan ternyata itu ayah. Dia masuk kedalam kekamarku. "Ayo kita makan dibawah. Makanan sudah siap"
"Annisa belom lapar"
"Tumben biasanya urusan makanan kamu duluan yang semangat"
"Sekarang lagi engga semangat"
"Lho kenapa? Pasti karena devan ya? Ada apa sih kalian? Marahan?" Annisa mengelengkan kepalanya. "Terus apa?"
"Devan gaada kabarnya. Annisa jadi takut"
Sang ayah hanya menahan tawa dibalik senyumannya. "Udahlah jangan terlalu dipikirkan besok-besok kamu masih bisa ketemu dia ya kan?"
"Iya juga pa"
"Nah kalo gitu ayo makan dibawah"
"Annisa gamau kebawah takut repotin ayah. Mending bawa aja makanannya kesini"
"Oke kalau gitu" Ayah pergi meninggalkan kamarku. Aku hanya merunduk. Batinku dilanda segala kekhawatiran dan entah mengapa banyak kemungkinan-kemungkinan yang bakalan terjadi. Tetapi entah apa itu? Aku tidak tau.
***
Keesokannya annisa berangkat sekolah seperti biasanya tetapi saat ia melihat di pohon tempat devan selalu menunggu dirinya. Ia tak melihat tanda-tanda kehadiran itu cowo. Bahkan kosong. Kemanakah Devan? Aku terpaksa menyuruh ayah untuk mengendongku keatas. Sekalian supirku membawa kursi roda hingga kekelas aku. Hari ini benar-benar begitu aneh. Tak semestinya aku rasakan.
Jam 8, Annisa berjemur dibawah terik sinar matahari. Ia lakukan setiap harinya. Menunggu bosan sekali. Tak ada devan yang selalu ada. Bahkan rekaman ketika devan disamping annisa sedang memakan nasi bungkus masih ia bisa lihat dengan jelas. Annisa tersenyum akan khayalan itu. Dirinya benar-benar rindu Devan. Apakah dia tidak masuk. Annisa menegok kebelakang, kesamping tetap saja hanya dirinya. Sementara siswa-siswi sibuk belajar didalam kelas dengan nyaman. Setetes air mata jatuh hingga ke rok yang ia kenakan. Mengapa takdir begitu kejam padanya seolah aku adalah korban.
Annisa mengeluarkan ponselnya. Ia melihat last seen WhatsApp Devan tetap belom dibuka. Kekhawatiran ini semakin menjadi-jadi. Hingga ia merasa pusing kemudian terjatuh pingsan hingga melukai dahinya karena tergesek oleh aspal sedikit. Matanya blur. Tak bisa lihat jelas.
"Annisa ayo ikut bunda" tanganku dipegang oleh seseorang dan orang itu adalah bundaku sendiri. Aku begitu kaget hampir saja air mata ini pecah kembali.
"Bu-bu-bunda"
"Kamu pasti capek hidup didunia ya? Kamu ikut bersama bunda aja. Disini kamu aman ko, daripada hidup didunia yang hanyalah panggung sandiwara belaka" annisa hanya terdiam. "Ayo ikut bunda" paksa lembut sang bunda.
"Annisa gabisa didunia sana ada seseorang yang sangaaaaaaaat annisa cintai"
"Bunda kasih saran karena Kita tidak bisa bertemu selamanya mungkin ini pertemuan pertama dan terakhir kita. Percayalah orang yang kamu sayangi itu adalah pemberian dari tuhan. Yang kamu hanya lakukan adalah tanamkan keyakinan dan hilangkan keraguan"
Aku tersadar. Dadaku sengal. Nafasku tercekat. Aku berusaha menghirup udara tetapi tak bisa. Sebenarnya ada apa nih? Mengapa aku susah bernafas seperti orang mati tetapi mataku terbuka lebar-lebar dan bisa melihat orang-orang disekitar yang begitu khawatir dengan kondisiku. Aku ingin mengatakan sesuatu cuman mulutku serasa terkunci rapat-rapat. Oh tuhan ada apa ini?
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Spontan in Love
Romansa"Kenapa kamu jatuh cinta pada wanita seperti aku? Punya fisik yang tidak cantik dan sesempurna wanita lainnya?" "Terkadang cinta yang sesungguhnya itu bukan dari dia sempurna tapi, bagaimana ia mengubahnya menjadi sempurna," Kehidupan Annisa sebelu...
