DuapuluhDelapan

108 2 0
                                        

Devan terbangun dari tidurnya. Ia rasakan kepalanya amat sakit sekali namun tangannya merasakan ada sesuatu yang menutupi dahinya. Devan mengambil ponsel dan mengaca. Kepalanya telah diperban. Dan dirinya sedang berada disebuah rumah sakit yang entah apa namanya. Semuanya kosong. Hanya ada dirinya saja. Devan berusaha untuk bangun namun kepalanya masih terasa sakit sekali. Ia kemudian membuka ponselnya yang kini minim baterai. Terdapat beberapa pesan yang masuk. Teruntuk yang ia sematkan diantara percakapan chat orang-orang.

Annisa'luv💘:
Devan kamu kemana aja?
P
P
P
P(30× gue lgi mls nulis wkwkwkwk)
Kok kamu ga balas sih?
Aku rindu kamu

Devan hendak mengirimkan pesan namun ponselnya mati total. Ia bahkan lupa membawa charger. Btw kenapa gue bisa ada disini? Siapa yang bawa gue kesini? Lalu seorang wanita seumuran annisa kurang lebih masuk kedalam ruanganku sambil membawa bubur.

"Kamu udah bangun?" Ucap wanita itu. Devan hanya mengangguk lemah. "Nih aku bawain bubur buat kamu" Wanita itu membukakan plastik yang membungkus bubur tersebut. Kemudian memberikannya kepadaku. Devan mulai melahap sesendok bubur kedalam mulutnya. Pas banget saat perutnya sedang lapar-laparnya. "btw aku mau minta maaf sama kamu"

"Buat?"

"Aku waktu itu ga sengaja lewat jalan paguyuban terus disana ada tawuran tetapi sudah ada polisi waktu itu dan Arghh..." Dia merasa jijik dengan cerita dirinya sendiri. "Ada banyak darah dimana-mana dan aku liat kamu sudah luka parah. Awalnya polisi ingin menangkapmu. Tapi... Untungnya itu tidak terjadi. Aku sudah bawa kamu ke dalam mobil saat polisi sedang lengah"

Devan menghembuskan nafas leganya. "Thanks banget, gue gatau gimana caranya balas budi sama lo"

Wanita itu tertawa kecil. "Gausah lebay kayak gitu. Sekarang lo udah aman. Ohiya tadi gue intip-intip dikit ponsel lo getar-getar mulu terus banyak pesan-pesan btw siapa sih itu?"

Devan tertawa kecil. "Ohh itu... Pacar gue"

"Lo udah ada pacar?" Wanita itu nampak kaget dengan ucapan devan.

"Kok lo kayak kaget gitu?" Tanya devan.

"Eng-enggak gue..." Wanita itu mengaruk-garuk lehernya. "Gue gak nyangka aja gitu"

Devan hanya ber-oh saja tanpa ekspresi. Wanita itu meraih tasnya, hendak bersiap-siap untuk pergi. "Btw daritadi kita belom kenalan. Nama gue chacha"

Chacha mengulurkan tangannya, bermaksud untuk berkenalan dengan pria yang ada disebelahnya. "Devan" Devan membalas uluran tangan ChaCha. Kini ada nama yang selalu chacha ukir.

Mungkinkah dia udah lupa semuanya tentang gue?

***

Dirumah, annisa hanya rebahan sambil bersandar pada punggung kasurnya. Novel yang didepan pandangannya tak dibaca-baca olehnya. Seolah telah kehilangan selera. Insiden pingsan tadi membuat dahiku terluka dan terpaksa di perban. Devan kamu kemana sih? Kok kamu gaada kabarnya begini? Akukan jadi khawatir.

Ingin deh aku berbicara seperti itu didepan orangnya agar dia tau betapa takutnya aku. Ayah mengetuk pintu, ia menyampaikan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu denganku dan ayah mengatakan bahwa orang itu tak asing dariku. Aku menjadi penasaran.

"Bagas" Nama itu terlontar dari mulutku. Ayah meninggalkan. Melebarkan pintu. Bagas berdiri dibingkai pintu. Wajahnya babak belur seperti habis berantem. Juga dahinya sama-sama diperban seperti aku. "Kamu ngapain kesini?"

"Aku disini cuman sebentar aja ko" Ucapnya. "Kamu beneran pacaran dengan devan?" Tanyanya. Mendadak suasana hening. Hanya jarum jam yang senantiasa memecahkan keheningan. Annisa hanya mengangguk penuh ketakutan. Pasalnya bagas orangnya lebih berbahaya daripada devan ehh mungkin setara secara bagas adalah dajjal disekolahannya sama seperti devan. "Cepet banget kamu move on dari aku. Padahal kita..."

"Padahal kita apa?! Kamu udah ninggalin aku dalam keadaan begini seharusnya kamu sebagai pacar selalu disamping aku! Bukan malah berduaan sama cewe lain!" Teriak annisa. Kemudian air matanya tak sengaja terpecahkan. Bagas hanya terdiam saja. "Lalu sekarang kamu mau apa?"

"Aku kesini cuman ngasih ini" Bagas memberikan sebuah kado dan meletakkannya diatas kasur samping annisa. "Selamat ulang tahun ya annisa" Bagas kemudian berbalik badan dan pergi dari kamar annisa. Kedua tangannya cepat menghapus air mata yang membasahi pipinya. Annisa menyambar kotak tersebut dan ternyata lumayan berat juga. Saat kotak itu terbuka, ia kaget karena sebuah barang yang dia inginkan selama ini... Yang belom pernah terwujudkan.

Lightstick Blackpink. Bukankah bagas menuntaskan janjinya bahwa pada hari ulang tahunku dia akan membelikan sebuah lightstick salah satu grup kpop kesukaannya dan grup itu jatuh pada blackpink. Ada sebuah note kecil.

Annisa maafin aku atas perlakuan dulu. Tapi apa yang kamu lihat itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku akan jelaskan padamu, aku ingin kamu tidak menaruh dendam padaku.

Bagas :)

***

Spontan in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang