limapuluhenam

83 2 0
                                        

Hari yang begitu berat sekaligus memberatkan masalah yang kami pikul Untuk saat ini. Air mata, penyesalan, terkejut semuanya menyatu. Membuahkan perasaan yang sama sekali tak bisa didefinisikan oleh siapapun. Ada yang bersedih, ada yang menyesal, ada yang bersalah dan ada yang terkejut. Pagi kali ini suasana pemakaman sosok yang begitu berarti bagi annisa berlangsung khidmat. Dirinya diizinkan untuk keluar sebentar ditemani oleh bi iyem. Bagas daritadi tidak mengangkat telepon dariku, bahkan dalam urusan ini dia sama sekali tidak memunculkan batang hidungnya. Terpaksalah annisa kembali kerumah sakit, rumah kedua baginya karena sudah bolak-balik akibat penyakitnya bahkan dia kenal dokter rafki.

Seorang dokter yang selalu memberikan kabar baik kepada para pasiennya dan baru kali ini ia tau bahwa rafki adalah ayah dari bagas. Selama pacaran dengannya, ia tak diberitahu siapa ayahnya. Bahkan keluarganya pun tidak diberitahu. Tapi kali ini dokter rafki memberikan kabar yang begitu kurang baik bahkan tidak adil. Disaat aku ingin bersamanya untuk lebih lama lagi justru dia lebih cepat pergi. Kini hanya aku sendiri tak ada yang menemani. Malang sudah nasib ini.

"Bi iyem pulang saja, beres-beres rumah kasian disana pak satpam sendirian jaga rumah" Kata annisa kepada bi iyem yang daritadi mendorongnya dari belakang. Bi iyempun mengangguk dan melenggang pergi dari hadapanku ini. Kini hanya tersisa aku sendiri terhampar diatas kasur yang sudah begitu memuakkan. Ingin rasanya menangis tetapi itu tidak baik untuk kepergian ayahnya. Lagian dalam agama, kita tidak boleh menangisi orang yang sudah meninggal karena itu akan menghambat kepergiannya. Annisa melakukan tayamum yang pernah diajarkan saat dirinya masih kecil ketika mengaji bersama teman-temannya. Ingatan tentang ustadz yang mengajar tata cara tayamum begitu melekat pada otaknya. Tangannya membuka nakas disamping, mengambil mukena yang ia taruh didalamnya. Aku tau dan faham tata cara solat dalam keadaan seperti ini. Karena dalam agama, kita juga dipermudah dalam melakukan ibadah. Tidak ada alasan untuk meninggalkannya baik dalam keadaan sakit sekalipun. Jika masih mampu melaksanakannya.

***

"Lu kenapa lama banget?" Tanya chacha pada Elang, sahabatnya.

Elang menutup pintu mobil dan menghela nafas. "Lu kagak pulang duluan cha?"

"Kenapa?"

"Gue masih ada urusan sama devan lagipula bukankah kita disini untuk mengembalikan ingatan devan?" Tanyanya. Chacha terdiam beberapa saat kemudian mengangguk terdiam. "Sepertinya dia juga tak mengenali gue. Jadi, gue pikir kalo dia inget gue kemungkinan dia inget lu juga"

Chacha mengangguk setuju dengan wajah yang sedikit tersenyum. "Jadi apa yang akan lu lakukan kedepannya?"

Elang menatap lamat-lamat kearah chacha. Tatapannya itu bukan sembarang tatapan jatuh cinta melainkan ambisius. Kini chacha bisa sedikit lega namun dalam dirinya masih bersalah atas hal ini. Awalnya niat kami Hanya untuk berlibur ria malah menemukan hal yang sama sekali kami tidak duga apapun itu.

Chacha keluar dari mobil elang sambil membawa tas selempang yang ia bawa. Lalu berjalan menuju jalan raya. Kakinya menyusuri pasir putih yang lembut. Desis ombak laut begitu memikatnya ingin berenang. Ditambah cuaca kali ini sedang bagus-bagusnya dan pas untuk snorkeling mencari Squidward. Tapi chacha ia harus mengurungkan niatnya. Ini baru pukul sembilan pagi, sejak kemarin dia belom juga pulang kerumah. Karena perutnya lapar dan butuh sedikit asupan makanan akhirnya ia berhenti disebuah warung untuk membeli beberapa bungkus makanan.

Chacha menerima dua bungkus makanan yang ia pesan namun hendak pergi ia tertahan ketika melihat bagas tergeletak begitu saja dibawah pohon kelapa. Juga motornya berada disamping. Nampaknya ia sudah berada disini semalaman. Chacha mendekatinya kemudian membangunkan dia yang sudah terlelap tidur. Chacha memanggil namanya berkali-kali dan ketika menyebutkan yang terakhir akhirnya ia tersadar juga.

"Lu kok bisa ada disini?" Tanyanya masih setengah sadar lalu mengangkat tubuhnya yang super duper masih lelah itu dan membersihkannya dari pasir yang mengotori tubuhnya.

"Harusnya gue nanya sama lo. Kenapa lo bisa ada disini segala?" Tanya balik chacha. Lalu ia mencoba untuk duduk diatas pasir sama seperti bagas. "lu udah makan belom? Nih gue beli nasi dua, barangkali lu belom makan" chacha menawarkan salah satu nasi bungkus kepada bagas namun dia masih merasa gengsi. Mendadak suara perutnya membuat ia terpaksa menerima tawaran itu dan makan bersama chacha.

"Thanks"

Chacha mengangguk. Kami berdua sibuk dengan makanan kami masing-masing. Tidak ada obrolan yang kami bincangkan hanya suara mulut yang terus mengunyah makanan sampai habis. Padahal suasana dipantai ini cukup bagus apalagi kami berdua sedang duduk dibawah pohon kelapa yang cukup rindang.

***

Disatu sisi yang bersamaan devan juga sedang menyantap makanan yang dibelikan oleh elang. Usut punya usut, elang merupakan sahabat sejak masih sd bersama dengan dia tetapi setelah kelulusan itu, elang pindah kesekolah lain sehingga kami lost contacts sampai sekarang baru ketemu. Devan juga tidak menyangka akan bertemu dengannya hari ini. Betapa tidak? Elang adalah bestie yang betul-betul mengerti. Ibaratnya elang itu netral. Kalo sampai sekarang masih ada dia, mana mungkin gue sama dia bermusuhan.

"HEH!" Sahut devan. Elang hanya bergumam hmm? Sambil mengunyah nasi goreng yang ada dimulutnya. "Lu sejak kapan kesini? Kok ga bilang-bilang?" Tanya devan.

Elang menghentikan makan lalu menatap kearah devan. "tadinya sih gue mau kasih surprise buat lo gitu tapi malah lo yang suprise ke gue hehe" Celetuk elang mencairkan suasana diantara kami berdua yang mulai canggung karena sudah lama tidak bertemu. Devan hanya terkekeh saja dan melanjutkan makan. "Ketika gue liat lo kayak tadi, gue ngerasa bukan devan yang gue liat tapi malah orang lain" cerita elang. Devan tertunduk malu dan juga menyesal mengapa ia bisa berbuat senekat itu, apalagi bisa mengkhawatirkan semua orang.

Devan meletakkan sendok disamping dirinya kemudian menghela nafas, mencoba memberitahu tetapi ia tak sanggup. Begitu banyak hal random terjadi saat ini sehingga devan kesulitan untuk mengurutkan dari awal hingga puncak dari kompilasi ini. Elang bisa menatap dari mata sahabatnya itu. Bahwa ia memiliki segudang gudang cerita tetapi ia tak bisa menyalurkan segudang cerita itu pada diriku. Apakah dia masih belom percaya akan sahabatnya sendiri?

"Lo bisa cerita kapan lo mau, gue ga mendesak lo. Lo cerita ketika sudah agak baikan" Elang menepuk pundak devan. "makanlah" Katanya. Devan melanjutkan makan. Suasana terasa semakin canggung saja, hanya suara jarum jam yang senantiasa memecahkan keheningan abadi ini. Tetapi dalam dirinya ia akan mengumbar segalanya pada elang. Ia harus tau betapa hancurnya diantara kami berdua.

***

Spontan in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang