Enampuluh

65 2 0
                                        

Petang hari memang terasa indah sekali berada dipantai. Langit berwarna oranye itu kini menghiasi alam semesta ditambah suasana ramai dari orang sekeliling yang menikmati indahnya pantai, ada yang berenang, ber-swafoto, ada yang mengobrol, ada yang pacaran bahkan semua jenis kegiatan ada disatu tempat. Tapi bagiku ada satu tempat yang kosong sekali, tidak seperti pantai yang ia diamin sekarang. Bagas kembali setelah membeli makanan dari sebuah warung dekat sini. Akupun menerima pemberian darinya, lagipula perut ini juga sudah mulai bergejolak.

"Enak banget makan sambil liat sunset hehe" Kata bagas memandang langit. Annisa ikut melihat bagaimana bagas duduk dibawahnya. Persis seperti devan menemaniku dilapangan sambil makan diatas aspal. Kenapa bisa sih? "Hei nisa kenapa kamu diam saja?" Tanya bagas terheran-heran.

Annisa tersadar lalu tersenyum tipis. "iyaa sudah lama sekali aku tidak kepantai semenjak terakhir kali liburan bersama..." Mendadak ucapannya terhenti, bagas memegang tangan kiri annisa. Memberi semangat dan juga menambah ketabahan. "Sudahlah ayo dimakan" Kata annisa mengalihkan topik.

"Ada yang aku mau bicarakan sama kamu nis" Bagas menaruh nasi bungkus disampingnya. "Kamu pasti heran saat devan begitu jatuh cinta pada kamu seolah itu pandangan pertama. Tapi sebenarnya dia tidak jatuh cinta pada pandangan pertama, dia suka padamu dulu" Bagas terdiam beberapa saat menciptakan suasana sepi diantara kami berdua. "Maaf baru memberi tahu kamu saat ini"

"Dia suka padaku sejak dulu? Bagaimana bisa?" Tanya annisa dibuat bingung oleh bagas.

"Jika diceritakan itu akan membuat kita flashback ke masa lalu saat kita masih paca-ran"

"Tidak apa-apa, katakan saja. Aku ingin tau cepat"

Sulit dijelaskan bagaimana aku akan memulai dari mana dan juga mengakhiri dari mana. Pada waktu bersamaan kita bertemu kamu pernah bertanya kepadaku.

"Siapa dia?" Tanya annisa menunjukan jarinya pada devan yang tengah berdiri dibingkai pintu.

Saat itu juga aku begitu memahami tatapan dia. perlahan-lahan kebohongan kecilnya dia itu berubah menjadi pertikaian besar antara kami berdua. Kami tau kalau saat itu usia kami baru anak smp, dan pikiran kami masih bocah-bocah. Sehingga urusan ini diselesaikan dengan kekerasan. Hingga kami berdua terluka parah akibat perkelahian hebat itu.

Aku bersama dia bermusuhan tak hanya masalah ini saja. Saat itu di tkp, Devan telah melukai salah satu anak buahku di sekolah dan sejak saat itulah aku dengannya tidak pernah dekat lagi seperti sd dan juga tidak bicara atau seolah-olah kami bukanlah sahabat masa lalu melainkan musuh masa sekarang dan masa depan.

"Dia sudah Incar kamu sejak dulu nis tapi malah aku yang jadi pacar kamu dan dia mungkin marah besar waktu itu" Bagas berusaha mengontrol emosinya setelah menceritakan semuanya kepada annisa. "Tapi kamu sudah dapat yang dia inginkan nis" Bagas menepuk pahaku, itu membuat aku menjadi terkejut. "Dia cinta banget sama kamu. Aku disini cuman menganggu kalian saja, tak seharusnya aku ada dan konyolnya aku sekarang sedang berduaan dengan pacar temenku sendiri"

Annisa mengelus pundak bagas. "Kalian bisa berbaikan walau susah... Soalnya kalian sama-sama ber ego besar juga tidak mau mengalah" Bagas tertawa. Annisa menatap kearah laut bersamaan. Ombak kali ini sungguh tenang, tidak terlalu ganas seperti biasanya. Mendadak ada hal yang ingin annisa sampaikan juga pada bagas siapa tau dia memiliki jawaban yang ia butuhkan saat ini.

"Gue cinta sama devan"

"Lu lucky banget bisa buat devan jatuh cinta cuman beberapa hari lah gue dari kecil sampai sekarang. Buat buka hati devan tuh susah banget" Cerita chacha.

"Bagas aku mau nanya" Bagas menoleh ke arahku. "Apakah chacha adalah cinta pertamanya devan?" Skakmat! Pertanyaan itu akhirnya dilontarkan dari mulut annisa. Hal yang ia takutkan bakalan terjadi juga.

***

Sementara itu chacha dan elang pergi kesebuah rumah sakit yang pernah merawat devan dulu. Siapa tau bisa memberikan informasi yang benar-benar kami butuhkan. Dokter itu ada disebuah ruangan setelah membuat janji dengan receptionist. Kami berdua masuk kedalaman, dan duduk didepan menghadapnya.

"Hallo pak" sapa chacha agar tidak menciptakan suasana canggung. Pak dokter itu menunduk sambil membuka sedikit kacamatanya. "Saya chacha dan dia elang" Katanya memperkenalkan diri. Dokter itu tidak membalas ucapan sedikitpun. "Saya ingin bertanya apa penyakit yang dialami pasien bernama devan?" Tanya chacha.

"Devan yang mana?" Tanya balik dokter tersebut. "Ada ribuan nama pasien bernama devan di bagian arsip rumah sakit. Jika kamu ingin data para pasien sebelumnya, maka mintalah kebagian administrasi, saya tidak memegang data pasien apapun disini, saya hanya ditugaskan untuk menyembuhkan para pasien dan memberi jalan keluar atas penyakitnya"

Tanpa pikir panjang chacha dan elang berlari kecil untuk menuju bagian administrasi. Setelah mereka sampai. Dirinya langsung  meminta data yang ia pesan. Awalnya ditolak karena tidak sembarang orang memperoleh data yang ia minta. Harus memenuhi persyaratan salah satunya, persetujuan. Chacha memberi tahu bahwa mereka mendapat izin. Akhirnya diberi tuh laporan data pasien sebelumnya. Laporan itu amat tebal bisa sampai beribu halaman. Bahkan untuk mencarinya kami menerapkan dengan membaca memindai. Akhirnya ketemu!.

"Amnesia Retrograde?" Tanya elang bingung.

"Iya" Dokter mengangguk. "Amnesia jenis ini ditujukan kepada seseorang yang kesulitan untuk memperoleh kembali ingatan di masa lalu. Hal yang menyebabkan seseorang mengidap amnesia jenis ini karena pernah mengalami cedera pada otak atau pernah menjalani operasi di bagian kepala, sehingga mengakibatkan hilangnya sebagian memori ingatan. Bisa jadi amnesia ini dikarenakan kurangnya nutrisi dalam tubuh atau adanya kerusakan pada otak" jelas dokter panjang lebar sudah cukup membuat kami berdua mengerti.

"Lalu dok bagaimana agar ingatannya kembali? Memori masa kecilnya amat penting buatku dok!" Pinta chacha dengan nada sedikit memaksa. Elang menenangkan temannya itu. "Saya tidak bisa tidur dengan tenang jika berlarut-larut seperti ini"

Dokter hanya mengangguk dan menatap yakin.

***

Devan terkurung dalam penjara. Polisi itu ternyata suruhan wanita itu. Mereka sengaja mengurungku agar aku tak bisa melarikan diri lebih jauh. Kurungan ini tidak ada apa-apanya dibanding hancurnya hari ini. Bagaimana ia kuat melihat annisa lebih senang menyambut bagas daripadanya seolah aku nun mati, ada tapi tak dianggap. Ini benar-benar memuakkan! Sungguh! Lalu pintu jeruji besi tersebut terbuka, aku tak melihatnya secara detail siapa yang masuk kedalam sini. Tapi dari suaranya, dia amat berontak juga familiar ditelinga. Polisi itu mengunci kami berdua didalam.

Pada akhirnya, kami saling melempar pandangan. Benci dan juga tak bersahabat. Lebih baik kami diem saja daripada nyari ribut disini. Tapi tangan gue udah gatel banget pengen nonjok tuh orang, dia pikir dia siapa? Lancang sekali rebut pacar orang kayak rebut uang dari pemiliknya.

Suasana begitu hening, tak ada obrolan apalagi pergerakan hanya hembusan nafas yang terdengar jelas akibat keheningan abadi, jantungpun berdegup kencang. Mengapa kami berdua di kurung seperti ini? Lalu jika bagas disini, siapa yang temenin annisa diluar sana? Sekali lagi, kami berpandangan jauh, terpisahkan jarak yang cukup jauh.

***

Spontan in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang