Malam hari yang sangat panjang bagi annisa harus menjaga ayahnya. Alhamdulillah ayahnya sudah siuman. Kini tengah disuapi oleh anaknya dengan bubur. Sore tadi ayah kaget melihat aku ada dirumah sakit. Katanya "bagaimana kamu tau ayah ada disini?" Aku hanya menjawab jujur saja sambil tersenyum.
"Ayah kapan bisa keluar dari rumah sakit ini?" Tanya annisa dengan wajah murung. "Annisa kangen banget sama ayah setelah dipisahkan oleh devan seharian" Annisa menaruh kepalanya diatas tangan sang ayah.
"Ayah juga pengen keluar dari sini. Tapi ayah belom sembuh, insyaallah kalo sembuh ayah akan ajak kamu jalan-jalan fulltime" Janji sang ayah adalah janji bajak laut, begitu senang mendengar janjinya seakan ada harapan baru muncul. "Saat ayah masih belom siuman, kamu berantem sama devan? Kamu ada masalah apa sama dia?" Tanya ayah merujuk pada topik yang tak ingin aku bahas sama sekali.
Annisa hanya terdiam pura-pura tak mendengar. "Ayah bertanya sama kamu" Ucapnya sekali lagi. Annisa terbangun. Ayah melayangkan senyum tipisnya disaat wajahnya terdapat selang infus. "Kamu cerita sama ayah"
"Devan itu jahat ayah. Dia bohongi annisa soal ayah"
"Membohongi bagaimana?" Tanya sang ayah.
"Bohong kalo sebenarnya ayah pergi keluar kota taunya pergi kerumah sakit. Ya jelas aku marahlah yah" Jelas annisa meluapkan emosinya. Ayah hanya menatap semu sang anak tanpa berkata apa-apa. "Untungnya saja bagas kasih tau kalo sampai kali ini aku gak bertemu dengannya mungkin aku tidak disini bersama ayah"
"Yasudah lupakan saja. Mungkin kalian berdua butuh waktu"
"Waktu apa lagi ayah? Lagian juga aku sudah putus sama Devan"
"Hah? Putus? Kenapa?"
"Ya karena Bohongi akulah. Udah tau annisa gasuka sama orang yang pembohong"
Ayah hanya tersenyum tipis padaku. "Dia bohong pasti ada sebabnya dan itu juga ayah yang suruh dia" Annisa terbelalak kaget. "Ayah sengaja bilang sama dia, jangan kasih tau kamu. Tapi dia juga sebenarnya tidak tega sampai membohongi kamu, begitu lembut hatinya sampai-sampai dia netes lihat hasil lab ayah hehe"
Annisa hanya terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan sang ayah. "Ayah tau pasti dia nangis kan waktu kamu mutusin dia? Atau... Mungkin biasa saja"
"Udahlah ayah jangan bahas dia lagi. Sekarang ayah istirahat dulu"
"Kalo misalkan istirahat ayah sudah cukup berarti boleh dong bahas dia lagi"
Annisa berdecak. "Apasi ayah udah ayah tidur, Annisa pengen ayah bisa keluar dari rumah sakit"
Ayah menatap kelangit-langit dengan tatapan kosong. "Kalo misalkan ayah tidur selamanya dan meninggalkan kamu bagaimana?"
"Astaghfirullah ayah udah jangan ngomong begitu. Annisa yakin ayah pasti sembuh jangan mikir mati dulu. Kalo gaada ayah siapa yang jaga annisa"
"Ya devanlah"
"Tuhkan ayah! Udah annisa bilang jangan bahas dia lagi. Annisa kesel tau"
Ayah hanya Nyengir. "Kesel apa nyesel?" Sindirnya.
Annisa hanya berdecak sebal lalu memilih untuk tidak membalas ucapan sang ayah barusan. Kenapa hari ini ayah begitu terobsesi dengan nama devan? Lagian dia tak lebih dari sekadar penipu.
***
Malam hari yang panjang juga bagi devan. Ketika sudah menunjukkan pukul tengah malam ia mampir ke sebuah bar minuman kenalannya. Cuaca dingin mengantarkannya ketempat ini. Devan duduk diatas bangku depan meja. Fahri kemudian keluar dari tempat dan kaget melihat devan telah datang.
"Hei bro kemana aje lu? Udah lama gak kesini?" Sapa fahri basa-basi. Devan tak membalas, hanya wajah murung yang ia tampakan serta tatapan kosong. "lu kenapa sedih?" Tanyanya.
"Lu masih inget cewe yang gue tembak waktu itu?" Kata devan sambil mengingat-ingat.
Fahri menatap keatas sambil menggaruk kepalanya yang gatal.
"Kenapa lo? Kayaknya lagi bahagia nih" Kata fahri.
Devan mengambil gelas tersebut lalu meminumnya sampai habis. "Gue abis nembak cewe..."
"WTF! Lu nembak cewe?" Fahri langsung memeriksa dahi devan. "Lo gak kesambet petir kan? Atau lo gak kerasukan romeo kan?"
"Ihhh apaan si lo, enggaklah gue itu normal"
"Btw soal cewe. Lu habis nembak siapa?" Tanya Fahri mulai kepo.
"Pengen tau aja. Udah ambilkan anggur lagi gue lagi haus banget"
"Aha! Gue inget tapi lu gak ngasih tau nama dia. Malah nyangka gue kepo"
"Iyadeh gue kasih tau. Namanya annisa lu tau kaga? Kalo kaga yasudah"
Fahri mengambil sebotol bir dari tempat lalu menuangkan kedalam gelas sambil mengingat-ingat. "Gue taunya annisa mantannya sibagas"
"Mantan apa maksud lo?" Devan meneguk bir itu bagaikan meneguk air putih yang segar ditengah oasis yang gersang.
"Iya annisa tapi sekarang dia pakai kursi roda karena kecelakaan. Dulu itu kan dia pernah pacaran sama si Bagas tapi sekarang udah putus eh taunya lo jadi pacarnya"
"Yang bener lo? Jangan asal ngomong"
"Astaga kapan si gue berani boong sama lu"
"Bang!" Panggil salah satu pengunjung mengangkat tangan kanannya. Hendak memesan.
"Gue kesana dulu bentar" kata fahri lalu meninggalkan devan dan menghampiri meja pengunjung yang hendak memesan.
Devan terdiam sejenak. Mengolah perkataan yang baru saja diceritakan oleh fahri barusan. Hal yang membuat ia kaget, pacar bagas! Mantan bagas! Jadi sebelum gue, annisa udah jadi milik si tengik itu? Bagaimana bisa?
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Spontan in Love
Romance"Kenapa kamu jatuh cinta pada wanita seperti aku? Punya fisik yang tidak cantik dan sesempurna wanita lainnya?" "Terkadang cinta yang sesungguhnya itu bukan dari dia sempurna tapi, bagaimana ia mengubahnya menjadi sempurna," Kehidupan Annisa sebelu...
