Tujuh

293 11 0
                                        

Setiap pukul delapan pagi adalah waktu untuk Annisa berjemur di lapangan, bermandikan cahaya matahari pagi yang tidak terlalu panas. Permintaan ini berdasarkan rekomendasi dari dokter ahli tulang yang sering aku temui dengan Ayah. Dia sendiri yang bilang itu kepada pihak sekolah dan langsung disetujui karena demi kesembuhan Annisa juga, katanya. Padahal, sudah beberapa bulan Annisa melakukan ini tidak menghasilkan apapun kecuali kulitnya yang semakin gelap. Makanya sesudah berjemur Annisa selalu mengoleskan lotion agar kulitnya tetap cerah dan glowing. Memang bagi sebagian orang Annisa beruntung dapat terhindar dari jam pelajaran pertama yang sangat memalaskan, tapi bagi Annisa lebih baik belajar daripada berjemur seperti ini. Sebagai gantinya ia kadang mendapat kelas tambahan selepas pulang sekolah atau dikirimnya tugas-tugas untuk dikerjakan dirumah serta cuman baca-baca materi yang tadi diajarkan di kelas. 

Devan memang anaknya suka menggali makamnya sendiri dengan cara pergi kantin dengan berlari seolah dia tidak takut atau tidak malu bila mendapat teguran dari guru kesiswaan yang terkenal garang. Devan tak takut apapun itu, semua guru dimata dia hanyalah kacung. Sampai guru kesiswaan aja pusing melihat kelakuan Devan yang hukuman skorsing saja tak mempan malah minta nambah, pernah juga dapat hukuman bersih-bersih toilet malah kabur jajan kekantin, di hukum lagi dengan bersihin toilet cowo yang terkenal kotor itu juga malah pura-pura ibadah di musola sekolah padahal baru jam sepuluh pagi, pokonya ada-ada saja kelakuan anak ini, entah titisan manusia apa dakjjal dalam darahnya? kok bangor sekalih uhh geram aku!

"Kamu lagi Devan! Udah berjuta-juta kali ibu katakan kalau bel sudah bunyi masuk kekelas!" Ucap pasrah bu melan terhadap devan. Nyatanya Devan memang sengaja mencari masalah agar dihukum. Bu melan menghela nafasnya. "ibu sampe kehabisan ide mau hukum kamu dengan cara apa haduh"

"lari sepuluh puteran di lapangan aja Bu"

"Kamu yang minta ya"

"Iya ibu"

"Yaudah kamu lari keliling lapangan lima belas kali nonstop gamau tau" Sebelum pergi Bu melan menepuk pundak Devan sambil berkata. "Udahlah van jadi anak baik sehari aja ibu capek sama kamu yah ibu mohon bahkan pak lutfi aja yang ditakuti satu sekolah bisa paranoid karena kenalakan kamu"

"Siap bu" dengan tersenyum devan hormat didepan hadapan bu melan.

Bu melan kemudian pergi sambil berjalan ia menyebut asma-asma Allah SWT dengan mengelus-elus dadanya. Bu Melan sudah merasa lelah dengan kelakuan devan yang sama sekali sulit untuk jera. Jera sih pernah cuman bertahan selama 24,5 detik saja abis itu kembali bejad macam setelan pabrik gabisa di upraged atau downgrade. 

Annisa merasa bosan sesekali melihat jam tangan masih lama menunjukan pukul sembilan pagi. Berharap waktu berjalan cepat dan tanpa dirasa-rasa seperti ini. Matahari sudah semakin panas Annisa tidak kuat lagi bertahan akhirnya inisiatif mendorong kursi rodanya, tetapi ada yang menahan dibelakang. Segera Annisa menegok ke belakang ada Devan disini sambil tersenyum. Percaya ga percaya semenjak Devan sering dihukum di lapangan, Annisa seperti ada seseorang yang selalu menemani di kegiatan membosankan ini. 

"Ayok keliling kamu pasti bosan kan?"

Dari belakang Devan mendorong kursi roda Annisa dengan perlahan sembari membicarakan pelajaran dan juga kejadian guru bk maupun kesiswaan yang udah angkat tangan membuat Annisa tertawa mendengarnya. Melihat Annisa tertawa dan tersenyum lebar karena terhibur oleh lelucon Devan. Devan merasa sangat mood hari ini. Tak ada yang lebih baik daripada senyuman orang yang kamu sukai. 

"Sejak kapan kamu dijemur-jemur begini?"

"Sejak aku didiagnosa lumpuh total terus dokter spesialis tulang merekomendasi berjemur di pagi hari yang katanya bisa mempercepat proses penyembuhan"

"Apa? Lumpuh total?"

"Iya... Intinya aku tidak akan bisa berjalan lagi sampai kapanpun"

Devan hanya terdiam saja.

"Devan kamu sebaiknya jangan mau jadi pacarku"

"Kenapa?"

Annisa menundukan kepalanya. "Jika aku jadi pacarmu, aku ga pantas dapat itu semua. Mungkin hanya merepotkan kamu saja"

"Stop merendahkan diri kamu sendiri"

"Tapi kalau aku ketahuan pacaran sama bapak aku gimana? Nanti aku kena marah"

"Yaudah kita tunangan aja"

"Hmmm udah gila kamu, kitakan masih sekolah"

"Ya terus jawaban kamu apa? Terima atau tolak? Tunda adalah bahasa politisi"

Devan terus mendesak annisa agar mempercepat menjawab pertanyaannya tetapi hal ini membuat Annisa semakin bingung dengan semua apa yang ada didalam kepalanya. Ia sama sekali tidak bisa memilih untuk terima atau tolak. Semuanya buntung. Lantas jika hal itu terjadi, maka apa yang akan kalian lakukan? Menerima secara langsung atau mencoba terlebih dahulu agar tak menyesal dalam memilih? Kenapa aku dipertemukan oleh tuhan dengan pria yang memiliki kesabaran setipis kapas!

***

Spontan in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang