Empatpuluhempat

79 2 0
                                        

Bagas pergi kerumah sakit setempat. Ayah bagas adalah seorang dokter spesialis paru-paru. Nampak ayahnya baru saja keluar dari salah satu ruangan dengan wajah yang murung. Bagaspun menghampiri sang ayah.

"Ayah!" Teriak bagas. Sang ayah menegok kebelakang. "Ayah kapan bisa pulang, bukankah malam ini ada undangan pesta ulang tahun adik"

"Kayaknya gabisa gas"

"Lho kenapa? Apa gabisa izin semalaman saja?" Paksa bagas.

Baju dokter yang bertuliskan nama dokter rafki haris. Sering dipanggil rafki. "Sekarang ada salah satu pasien yang kondisinya sudah diambang kematian" Ucapnya dengan wajah murung. "Ayah akan mengerahkan segala kemampuan untuknya"

Bagas sangat penasaran dengan file yang tengah dipegang oleh ayahnya hingga ia merebutnya lalu melihat isi file tersebut. Berupa data pasien yang dibilang oleh rafki. Pasien yang berada diambang kematian. "Kayaknya bagas ga asing sama orang ini"

Rafki segera merebutnya kembali. "Kamu tu apa-apaan sih? Ga sopan main rebut saja"

"Abisnya bagas penasaran"

"Udah kamu pulang aja, ayah masih ada rapat" Rafki meninggalkan bagas sendirian. Bagas kemudian menegok kesebelah. Sebuah ruangan yang membuatnya tertarik untuk masuk.

Ketika bagas masuk, ia melihat sesosok pria paruh baya terbaring lemas diatas ranjang serta memakai kostum khas pasien. Tabung oksigen ada disisinya serta infusan menutupi mulutnya seolah ia perlu itu untuk bernafas. Bagas semakin mendekat dan semakin mengenal wajah pria itu.

Inikan ayah annisa.

***

Sejak tadi annisa terus saja menelpon ayahnya tetap saja tidak dijawab. Kemanakah ayahku? Mengapa ia begitu misterius sekali? Sungguh kepergian ayahku ini membuatku amat merubah suasana dihati. Entah aku badmood atau tidak. Aku tak dapat mendeskripsikan segalanya tentang moodku.

"Non ayo dimakan entar keburu dingin" Kata bi iyem mengingatkan. Kali ini aku makan didepan Meja makan. Bosan makan dikamar. "Ayo non biar sehat"

"Ga ah bi malas, nisa ga selera makan"

"Eh gaboleh gitu ayo makan sedikit saja"

"Ngomong-ngomong ayah nisa kemana sih? Bibi tau dimana ayahku? Sudah seharian dia tak pulang. Nisa jadi kangen ayah" Kata annisa.

Inget ya bi jangan kasih tau yang sebenarnya sama annisa. Devan mohon sama bibi.

"Hmm mungkin ayah nisa lagi kerja diluar kota"

Annisa berdecak sebal. "Ga Devan ga bibi sama saja jawabannya"

Annisa mendorong kursi rodanya hingga keluar rumah sekaligus ia ingin merasakan udara dingin dan sejuk. Kemudian dari kejauhan, Annisa melihat sebuah motor berhenti dan yang pastinya itu bukan motor devan. Setelah pemiliknya membuka helm. Wajahnya tak asing.

"Bagas" bisiknya. Bagas perlahan belajar mendekat kepadaku. Aku tak mengerti ada maksud apa dia datang kesini?. "Mau apa kamu kesini?"

"Aku mau kasih kamu sesuatu tapi... Kamu jangan sedih ya"

"Paansi cepetan apa yang kamu ingin beritahu"

Bagas menarik nafas lalu menghembuskannya. "Tadi pas aku kerumah sakit aku liat papa kamu dirawat disana"

Annisa sontak kaget. "Hah? Dirawat?! Yang benar aja kamu?! Jangan ngada-ngada!"

Spontan in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang