"nih bos duitnya udah gue tagihin" kata wanda sambil nyetor uang hasil ngerampok kemarin. Dikantin devan hanya melamun menatap kosong pop ice yang ada didepan matanya. Wanda terheran-heran lalu ia menepuk pundak devan dan seketika sadar. "Lu napa? Galau?"
"Gak. Udah lu sana pergi"
"Iye ini juga mau, nih setorannya"
"Lu udah ngambil komisi?"
"Udah dong hehe" Kata wanda nyengir sambil nepuk saku diseragamnya. "Gue duluan ya ti ati jangan banyak ngelamun entar kesambet" Pamit wanda meninggalkan devan sendirian.
Semangat sekolah devan perlahan-lahan menurun. Ingin sekali ia kabur dipagi hari yang cerah ini. Ketiga temannya tidak datang pastinya sedang mengerjakan tugas sekolah dikelas (nyontek) buat siapa dia sekolah? Devan mencabut foto annisa yang ia sengaja tempelkan dikolong bangkunya. Devan tak berniat untuk membuangnya tapi memandangi dengan senyum penuh harap. Andai devan bisa melihat senyuman itu kembali.
Kebersamaannya, kebahagiaannya, kebaikannya, ketulusannya, keprihatinannya, kepribadiannya yang lugu. Rasanya devan ingin kembali kemomen hal itu. Dulu ia pernah memeluk wanita itu selagi tidur, menciumnya, membuatnya menangis bahagia, mengajarkan bahwa cinta itu tulus, mengajarkan untuk ikhlas dan taat pada aturan, Dia mungkin malaikat yang sedang marah pada dajjal hehe.
Kini hal itu sudah berbeda tak sama seperti dulu. Dunia itu fana kenikmatannya hanya sekali tidak paripurna dan kekal. Begitu juga peristiwa. Hari ini bahagia belom tentu besok kita bisa bahagia seperti hari ini. Makanya nikmatilah kefanaan ini selagi masih ada.
Devan juga membuka ponselnya, melihat beberapa foto selfie bersama annisa digaleri. Begitu romantis pasangan ini. Yang dulu dekat kini jauh. Devan menghembuskan nafasnya. Kedua tangannya memegang kepala sesekali memijitnya. Pagi-pagi sudah minum es, itulah gue. Kadang hal pantangan adalah hal yang wajib gue lakukan.
"Ohiya gue wa annisa aja" Devan membuka aplikasi WhatsApp namun dirinya tersadar ia sudah diblok oleh annisa. Devan tak ingin memblokir balik. Karena suatu saat akun yang terblokir itu kebuka kembali.
"Hei Devan gue cari kemana-mana. Lo-nya nyantol disini" kata chacha lalu duduk disamping diriku. "Lu napa sih? Keknya sensitif dan galau gitu? Coba cerita" Ajak chacha.
"Tau ah cha gue pen mabal"
"Lo jangan mabal gitu dong. Semangat!"
Devan hanya menatap lesu chacha. "Semangat gue buat sekolah udah padam"
"Lo lagi ada masalah sama annisa?" Tanya chacha.
Devan terbelalak kaget. "Darimana lo tau?"
"Heheiyalah gue kan mantan cenayang"
Devan hanya mencibir saja. "Udahlah lupakan kalo misalkan dia bukan yang terbaik buat lo yang percuma aja lo jagain jodoh orang jatohnya" Lanjut chacha.
"Lu sotau banget kalo ngomong. Emangnya lu pikir melupakan semacam membalik telapak tangan?"
"Lu juga lupa gue kan devan" Kata chacha menundukkan kepalanya. Devan hanya menyerngitkan alisnya kananya. Chacha mengeluarkan sebuah foto dari dalam sakunya lalu menunjukkannya denganku. "Lu ingat foto ini gak?"
Devan mengamati foto itu dengan seksama. Serasa ada hal yang ia ingat tapi apa itu? Dan dimana? Lalu siapa anak perempuan yang sedang dipeluk olehnya dimasa kecil? Sedikit demi sedikit devan bisa mengingat. "Gue tau ini gue waktu kecil tapi anak cewe ini gue lupa anjir" Kata degan mengingat-ingat.
Chacha menghela nafas berat. "Gue kira lo tau tapi... Sama aja" Ucapnya bernada putus asa. "Udah sini fotonya gaguna rasanya gue bilang ke lo"
"Eh eh bentar" Stop devan. "Gue bakalan tanyakan ini sama mamah gue. Besok pasti gue tau" ucapnya.
"Mamah?"
"Iya masa lo gatau" Devan memasukan foto itu kedalam saku seragamnya. "Dia pasti tau segalanya dan gue juga pasti bakalan ingat serta tau yang terjadi hehe"
Chacha hanya tersenyum tipis. Kalo lo tau yang sebenarnya pasti lo bakalan hancur banget apalagi dalam keadaan sekarang. "Misalkan lo butuh sandaran atau curahan. Jangan lupa ke gue aja bilangnya. Gue siap kok. Karena gue yakin lo pasti butuh sandaran kedua setelah annisa"
Devan terdiam kemudian beberapa menit kemudian mengangguk. "Eh btw ini meja bookingan lu? Gila paling nyentrik hehe"
"Ini meja wilayah gue. Cuman lo doang yang berani ke meja gue dan duduk bersebelahan pula"
"Gue baru tau ternyata lo yang megang kendali ini sekolahan wkwk. Semua murid aja takut sama lo. Jadi lo berani sama siapapun dong hehe"
"Iya gue berani sama siapapun, gue gatakut kecuali tiga"
"Hah siapa?"
"Tuhan, orang tua dan orang yang gue sayangi kek sahabat gue, pacar, dan lain-lain"
"Gue juga termasuk orang yang disayangi dong"
"Mungkin"
"Asek"
"Sayang dalam artian beda. takut lo geer"
Bel berbunyi.
"Udah bel! Lo mau masuk kaga? Kalo iya bareng ma gue" Ajak chacha.
"Gausah cha makasi gue pen mabal aja"
"Lo harus semangat jan-"
Devan memotong ucapan chacha. "Stop cha! Gue ga suka ada orang yang ngatur hidup gue. Gue gasuka itu bahkan gue benci" Ketusnya.
Chacha hanya bisa pasrah. "Yaudah deh van serah lo aja. Gue udah ajak lo. Good luck mabalnya" Chacha kemudian berdiri dan meninggalkan Devan sendirian dikantin. Dalam langkah chacha selalu berharap bahwa devan bisa sepenuhnya melupakan annisa dan berharap bisa mengganti posisi perempuan itu.
Gue kan lebih baik daripada si annisa.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Spontan in Love
Romance"Kenapa kamu jatuh cinta pada wanita seperti aku? Punya fisik yang tidak cantik dan sesempurna wanita lainnya?" "Terkadang cinta yang sesungguhnya itu bukan dari dia sempurna tapi, bagaimana ia mengubahnya menjadi sempurna," Kehidupan Annisa sebelu...
