Pagi harinya. Perasaan berbunga itu tumbuh bagaikan rambut. Cepat sekali. Bagaimana tidak? Ia hari ini senang sekali. Jalan berjingkrak-jingkrak. Banyak pasang mata melihatnya. Tapi, devan tak peduli. Tapi apa alasannya masuk sekolah? Ahh masa bodo. Aku tak peduli. Devan pergi kekelas. Bersalaman dengan siswa lainnya. Salaman ala dirinya sendiri. Devan. Sang dajjal sekolahan yang terkenal dengan 'darah dingin' itu seketika menjadi mamalia yang 'berdarah panas' seolah ada perasaan yang tersangkut dalam batinnya.
"Lu napa dah senang banget kayaknya" Ucap satria. Duduk disampingnya.
"Kayaknya pasal cewe nih" simpul bima. Membuat pecah suasana kantin Dipagi hari oleh tawa mereka yang begitu mengagetkan pengunjung kantin.
"Kalo gitu asal kopi sama sebat jan lupa deng" Sambung amar. Mengingatkan tagihan jika ada salah satu temannya yang jadian.
"Jangankan sebat. Lo mau makan apapun sekarang gue traktir deh" kata devan dengan gaya sok banyak duit.
Bima, amar, dan satria bersungut-sungut. Devan mengangguk kepalanya. Jadilah mereka berburu jajanan yang ada diseluruh kantin. Memesan untuk Minggu depan, bahkan ada yang sengaja gunakan traktiran devan untuk melunasi hutang. Salah satunya satria yang nunggak selama dua bulan ini.
Tapi devan tak mempermasalahkan hal itu. Sekarang moodnya benar-benar diatas. Tak ada lagi ke rakusan dia bagaikan tuan krab. Tak ada lagi kekejaman devan bagaikan Malaikat penjaga neraka. Tak ada lagi devan yang sensitif karena sekarang sudah ada pawang yang sanggup mengendalikan dirinya. Devan senang. Menyenangkan ketika mencintai orang yang sangat kita cinta.
Lamunan devan terpecah ketika temannya duduk disebelahnya sambil membawa jajanan yang barusan dibeli. Terbilang banyak. Juga terbilang gak berguna. Sia-sia saja. Devan meneguk ludahnya.
"Napa dev kayak khawatir aja muka lo?' tanya satria. Sementara dua teman lainnya sibuk mengunyah makanannya.
Dasat temen laknat. Jadi kalian sekongkol buat nguras dompet gue. Batinnya sesekali membentuk senyuman agar tidak ketahuan oleh temannya. Wajah khawatir-nya kian tak bisa ditutupi ketika dirinya membuka dompet yang hanya mengeluarkan debu. Duh apes bener punya temen pencicilan.
***
Bukan namanya devan kalau tidak dihukum hampir sekali dirinya dihukum oleh guru-guru bahkan guru killer sekalipun kehabisan gas emosinya ketika devan merayu dengan kata-kata gombal. Bahkan tanpa sadar mengombal didepan kepala sekolah sendiri. Devan. Dia punya segalanya. Tapi keburukannya menutupi kesempurnaan miliknya.
Pagi ini ia disuruh hormati bendera sampai jam istirahat. Pukul delapan pagi. Menoleh kesebelahnya. Devan jadi teringat akan annisa yang senantiasa disisinya. Menemani. Kini perempuan itu harus tidur diatas ranjang rumah sakit. Membutuhkan perawatan. Devan mengeluarkan air matanya. Berharap ada orang yang menemani saat dihukum.
"Kamu dihukum?" Tanya annisa memulai obrolan.
Devan mengangguk.
"Jangan kebanyakan kasus nanti kamu ga naik kelas"
"Hmmm kenapa kamu di kursi roda?"
"Hmmm aku lumpuh, tidak bisa jalan makanya aku selalu dikursi roda" ucap annisa merenung sedikit. Itu membuat perasaan devan terkoyak, Hingga sikap darah dingin itu serasa luntur dalam beberapa saat.
Apakah ini yang dinamakan rindu berat? Sudah lama sekali tak merasakan rindu yang menggebu hati. Hukuman yang ia jalani terasa sangat berat sekali. Jika ada annisa disamping mungkin saja tak terasa dua jam sekalipun terbakar oleh teriknya sinar matahari. Devan mengecek ponselnya. Disela-sela hukumannya. Kemudian satu notifikasi muncul diantara cewek-cewek murahan yang ngechat dirinya. Sengaja disematkan. Agar tidak tenggelam oleh pesan lainnya.
Annisa'luv💘
Selamat pagi sayang
Devan tersenyum saat membaca pesan singkat dari annisa. Berjuta gairah semangat. Muncul begitu saja. Devan mengerti jika Annisa juga rindu. Rindu berada dalam lapangan yang sama. Jari devan sudah gatal ingin membalas pesan dari bebepnya ini. Maka jari devan menari cepat diatas keyboard.
Devan
Pagi juga sayang. Aku rindu kamu. Rindu dilapangan bersama kek dulu :"(
Sayang sekali... Ceklis yang tertera hanya satu. Mungkin saja annisa sedang istirahat. Lagian pesan yang ia kirim tadi sekitar pukul empat pagi. Rajin sekali annisa sudah bangun. Bahkan pukul empat pagi, waktunya devan pulang dari tempat mainnya. Itupun dihari libur.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Spontan in Love
Cinta"Kenapa kamu jatuh cinta pada wanita seperti aku? Punya fisik yang tidak cantik dan sesempurna wanita lainnya?" "Terkadang cinta yang sesungguhnya itu bukan dari dia sempurna tapi, bagaimana ia mengubahnya menjadi sempurna," Kehidupan Annisa sebelu...
