Enampuluhtiga

54 1 0
                                        

Malam hari mulai larut tetapi mobil elang tetap melaju diatas jalanan beraspal. Apakah devan telah mengingat semuanya? Kenapa suara saat ditelepon tadi seperti seseorang yang sehabis menangis. Duhh kenapa perasaan ini mengapa tak karuan. Antara sedih dan risau bercampur menjadi satu. Ditambah senin, ulangan akhir semester lagi duhh hari ini akan menjadi hari paling melelahkan. Melibatkan emosi bukan tenaga. Devan mengirim alamat bahwa ia sedang berada diklinik dekat dengan kantor polisi. Kami berhenti didepan klinik tersebut dan bertanya pada receptionist dimana ruangan bernama devan. Setelah beritahu, kami berdua segera menggerakkan kedua langkah kaki.

Didepan ruangannya, kami segera membuka pintu. Nampak devan sedang terduduk diatas kasur sambil menangis. Setelah melihat kami berdua, dia berlari dan memeluk elang juga chacha. Ada apa semua ini? Mengapa begitu terharu.

"Lo ternyata benar" Kata devan sambil memeluk erat elang. "Lo adalah temen sekaligus sahabat guee sejak kecil" Elang membalas pelukan devan dan tersenyum bahagia, akhirnya momen yang ia tunggu-tunggu ternyata datang juga. "Gue hampir saja melupakan kalian"

"Udah udah lu jangan nangis lagi, bukan devan kalo cengeng" Ucap elang memenangkan sahabatnya dengan menepuk-nepuk pelan punggung devan.

Devan melepaskan pelukannya dan melihat chacha disamping juga turut bahagia. Terlihat dari bola mata perempuan itu nampak senang sekali walau pengakuan chacha barusan yang menyebabkan Annisa tenggelam membuat dirinya menjadi plin-plan. Disatu sisi ia senang ingatannya kembali, disatu sisi ia benci seseorang yang menyebabkan annisa dalam kondisi bahaya.

"Gue tau kok devan lo pasti masih marah sama gue soal itu" Kata chacha dengan menundukkan wajahnya, menurunkan pandangan untuk saat ini. "Tapi syukur lo udah ingat kita-kita lagi. Gue gatau gimana cara ngungkapin ini dengan kata-kata" chacha menyeka ujung matanya yang basah oleh air mata.

"Gue memang benci lo saat ini tapi gue gabisa benci selamanya sama lo" devan menatap pada chacha. "Karena lo adalah sahabat gue"

Chacha tak bisa menahan kesedihannya ia langsung menghampiri devan dan memeluk tubuh pria itu. "Maafkan aku terlanjur mencinta" devan membalas pelukan tersebut.

"Sudah jangan dilanjutin toh gue sama annisa udah berakhir" Devan mengikhlaskan semuanya, dan membiarkan hidupnya mengalir begitu saja tetap saja chacha tidak enak hati karena telah membuat keduanya putus. Ini mungkin jalan pahit tapi harus dijalankan. Elang menatap kedua temannya itu kini sudah berbaikan, dalam hatinya ia terus memanjatkan rasa syukurnya pada yang maha kuasa. Semoga waktu bisa menjelaskan semuanya.

***

Hari senin dibulan Desember ini sekolah kami mengadakan ulangan akhir semester sebagai penilaian genap. Ruangannya yang digunakan sangat banyak dicampur dengan adik kelas untuk tahun ini tidak sesama kelas atau per-absen akan jadi kesempatan buat murid-murid untuk saling berbagi contekan. Devan kesekolah tadi pagi bersama chacha, walau beda kelas tetapi komunikasi tetap jalan. Sedangkan annisa, terpaksa harus mengerjakan ulangan dirumah sakit karena harus melakukan pengobatan lebih lanjut. Tetapi kali ini devan sudah sanggup melepaskannya. Dia mencabut foto annisa yang ia tempelkan pada kolong bangku sebagai penyemangat. Ia tak membuangnya justru memasukannya kedalam tas.

Ulangan berlangsung khidmat dari awal hingga menuju jam akhir. Devan nampak serius kali ini mengerjakannya karena tempat duduk absennya berada paling depan jadi bisa kepantau oleh pengawas. Jadi devan hanya mengandalkan kancing baju dan feeling untuk membulatkan salah satu diatas kertas jawaban. Waktu telah berakhir, devan mengumpulkan kertas ulangan paling akhir diantara yang lain.

"Hey bro kemana aja lo beberapakagak masuk sekolah" kata amar. Kami berada dikantin sekolah yang mulai ramai karena ulangan kali ini telah berakhir.

"Iyee kite-kite semua kangen ma lo" Celetuk bima sambil menepuk pundak devan.

"Ya gitu guys gue akhir-akhir ini harus belajar ikhlas dan juga yaa banyak masalah juga" kata devan sedikit bercerita. "Tapi yaa begitu hidup ini ada yang datang dan ada yang pergi kita gatau apa yang akan menyambut kita dimasa depan nanti begitu juga siapa yang akan sanggup melupakan masa lalu diri kita sendiri"

"Widih lu udah alfa berhari-hari malah nambah bijak, kerasukan apaan lo?" Canda satria.

"

Kerasukan jin romeo gue" jawab devan.

"Tapi lo beneran udah move on dari annisa" Omongan bima barusan membuat devan hanya diam saja dan tak berani bilang secara pasti kepada mereka semua.

"Gue bakalan mencoba"

***

Devan berjalan-jalan melewati lapangan upacara lalu ia tak sengaja melihat bagas yang keluar dari ruang guru sambil memakai jaket. Karena penasaran devan menghampiri itu anak.

"Lo ngapain disini?" Tanya devan. Bagas menunjukan dokumen yang barusan ia ambil. "Lo pindah sekolah?"

"Kagaklah bego gue kesini cuman ngambil kertas ulangan buat annisa" Jawabnya.

"Oh kirain" Devan tersenyum kecil.

"Dih, gue jadi ngeri anjing lu senyam-senyum" Bagas melanjutkan jalannya menuju parkiran. Tetapi devan terpikiran soal waktu dipenjara kemarin lalu bersama bagas. Ibunya memeluk bagas dan juga memanggilnya 'nak' ini harus dipertanyakan. Bagas telah keluar dari lingkungan sekolah. Devan juga tak mau kehilangan jejak darinya.

Kedua motor itu saling mengadu kecepatan, salip-menyalip kendaraan lain. Bagas berusaha agar tidak dijegat oleh devan yang berada dibelakangnya. Kaca spionnya bekerja dengan baik. Hingga akhirnya motor bagas berhenti dijalanan sepi. Otomatis Devan yang dibelakangnya juga ikut terhenti.

"Mau lu apaan ikutin gue" bagas turun dan melepaskan helmnya.

"Soal kejadian dipenjara kemarin kita berantem karena lu ngaku-ngaku anak kandungnya ibu gue"

"Ya gue anak kandungnya lu yang ngaku-ngaku"

"Jadi maksud lo? Ibu gue ibu lo juga?"

Bagas terdiam bagaimana ia akan bisa menjelaskan betapa licik pemikiran ibundanya. "Ada yang gue mau sampain sama lo dan lo pasti belom tau akan hal ini" Devan penasaran. "Lu ini hanyalah anak dari perkawinan kontrak ibu gue dan lo bukan anak kandungnya, lo itu anak pungut"

Mendengar ucapan bagas. Devan naik pitam dan ingin menghajar pria itu dihadapannya sekarang juga tetapi emosinya tertahankan bahwa ia itu memang benar sekali. Bagas juga merasa kasihan padanya lalu ia mendekat pada devan.

"Gue minta maaf mengatakan itu pada lo dan ini memang sebuah fakta yang lo harus terima. Gue juga gedeg sama ibu gue sendiri dan waktu kita ketemuan dipantai itu kita memiliki masalah yang gajauh berbeda" Bagas mengelus-ngelus pundak devan yang saat ini tengah terdiam meratapi semuanya.

"Mulai sekarang yok kita berbaikan kayak dulu saat kita masih sd, gue udah maafin semuanya dan merelakan segalanya" Pinta Devan mengajak musuh disampingnya berdamai. Tanpa pikir panjang juga bagas menyetujui ide tersebut dan mencoba melepaskan segala hal yang masih terganjal dihati.

***

Spontan in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang