Enampuluhdelapan

87 2 0
                                        

Malam tahun baru masih berlanjut sampai pukul dini hari, beberapa tukang jualan ada yang bergegas dan ada yang masih stay ditempat mengingat para manusia belom beranjak untuk tidur. Setelah menatap hiasan kembang api di langit malam yang begitu indah. Bagas mengajak kita semua untuk pergi ke sebuah restoran makanan karena lapar. Dasar perut karet. Ketika masuk kedalam banyak sekali pengunjung yang datang bahkan nyaris tak terlihat satu mejapun yang masih kosong. Untungnya seorang pelayan memberitahu ada meja yang belom diisi, letaknya dekat dengan jendela bisa melihat kearah luar. Kota ini seperti tidak akan pernah mati sebentar. Makin malam malah suasananya semakin ramai saja. Apakah mereka terkena insomnia massal?

"Bikin tiktok yuk" Ajak chacha sambil menaruh hpnya tegak dengan disandarkan pada sebuah kotak tissue. "HEH elang biasanya lu narsis juga ayokk" Paksa Chacha dengan menarik tangan Elang agar lebih terlihat dikamera.

"Aduh nyesel gue pada berpasang-pasangan" Kata Bagas jealous sambil menatap kearah kaca jendela.

"Ihhh kasian banget kamu utututu" Ledek Devan, kami semua tertawa begitu juga Annisa.

"Hey yang pasangan kan noh" bola mata Chacha menunjuk kepada Devan. "Gue sama Elang enggak pacaran, dia tuh udah punya disana" Chacha keceplosan dan Elang menatap tajam kearahnya. Otomatis perempuan itu menutup mulutnya.

"Wahh siapa pacar lo? Kok kagak bilang bilang? Wahhh parah" Ucap bagas bernada kecewa.

Elang menatap penuh menyesal kepada chacha karena salah curhat pada orang yang satu ini. Semua orang juga penasaran dengan doi yang aku miliki di luar negeri. Elangpun mulai bercerita yang sebenarnya sampai makanan yang kami pesan datang. Bagas dan devan memesan makanan cukup banyak.

"Devan banyak amat mesennya" Ucap Annisa. Devan mengangkat kepalanya dan menatap Annisa. "Sanggup emang habisin itu semua?"

"Hei nis, devan tuh pemakan segalanya, narkoba aja dimakan apalagi ini" Lagi lagi Chacha keceplosan dan langsung menyadari apa yang dia ucapkan barusan. Devan menatap melotot serta kaget terhadap chacha. "cuman bercanda astaga kalian sampe serius gini" Chacha tertawa untuk mencairkan suasana sekaligus membuatnya lupa akan kejadian yang memalukan ini.

"Cha lu kenapa sih sekarang? Lo jangan minum jus ini lo minum..." Elang membuka tutup botol. "Nih air mineral lo kurang fokus kali"

"Ya ampun iya kali gue kurang minum daritadi gue ngopi mulu" Chacha langsung minum sampai setengah.

"Dia minum seakan-akan tidak menemukan air seharian" Kata bagas.

Makanan kami semua sudah habis tak bersisa. Perut kenyang hatipun senang. Tetapi waktu malam makin ramai saja, bahkan sampai subuh pun masih ada yang datang dan berhilir mudik. Entah kenapa para manusia ini. Apakah mereka tidak minat untuk tidur? Tetapi makanan tadi membuat mata kami semakin terbuka dan rasa ngantuk nyaris tidak ada. Serasa baru jam sembilan malam.

"Gue kenyang, balik yuk udah makin malam, ga enak keburu subuh" Ajak bagas sudah berdiri. Kami semua mengikuti bagas dari belakang. Tak disangka ternyata Elang membayar semua tagihan makan.

"Ehh lu kok yang bayar?" Tanya devan kaget baru saja ia membuka dompet sudah keduluan oleh Elang. "Gue jadi ga enak"

"Sama gue juga"

"Iya nih lang"

"Gue rasa sih engga masalah" Hanya satu yang beda, Bagas. Chacha menyenggol lengannya agar lekas sadar. "Apasih"

Jalanan sepi dari kendaraan tetapi tak pernah luput dari langkahan kaki manusia apalagi yang perutnya sudah terisi. Cuaca dingin semakin malam semakin berasa. Pemandangan pantai dari jarak jauh memanjakan mata. Terlihat bagai sampah berserakan dimana-mana bekas penyambutan tahun baru. Pemulung akan mengganggap ini sebagai berkah diawal tahun, begitu miris. Tong sampah juga sudah overdosis, tidak tertampung lagi. Ombak pantai kencang, membuat suara gemuruh.

Spontan in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang