Suga | Lil Meow Meow Swag | pt.3

1.4K 190 9
                                        

You POV





Cahaya pagi menyusup perlahan melalui tirai tipis yang menggantung di jendela. Langit masih kelabu, mendung seperti enggan sepenuhnya membuka hari. Aroma hujan semalam masih tertinggal di udara, lembap dan sedikit dingin. Di sudut kamar, angin dari jendela yang terbuka setengah membuat tirai bergoyang pelan, menciptakan suara gesekan lembut yang menjadi satu-satunya irama di ruangan.

Aku bangun dengan tubuh terasa berat, masih diliputi sisa-sisa kantuk. Rambutku berantakan, dan selimut melorot begitu saja ke lantai. Mata masih setengah terbuka saat aku menyadari sesuatu—biasanya, saat pagi datang, ada seekor kucing putih yang tidur meringkuk di ujung ranjang atau kadang bersandar di sisi tubuhku. Tapi sekarang…

"Eh… Kucing jadi-jadiannya ke mana, ya?"

Suara sendiri terdengar bodoh saat menggema pelan di kamar yang sepi. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, mataku menyapu setiap sudut ruangan. Perasaan aneh mulai mengusik—seolah ada yang hilang, dan entah kenapa, membuat dadaku terasa kosong.

Dengan cepat, aku turun dari tempat tidur dan jongkok, mengintip ke kolong ranjang. Tak ada apa-apa di sana selain debu dan sepasang sandal yang sudah mulai usang.

Suara pintu kamar mandi terbuka disusul embusan uap hangat dari dalamnya, memotong kesunyianku. Lisa keluar dengan rambut masih basah, air menetes dari ujungnya, dan handuk melilit leher seperti biasa.

“Kau sedang mencari apa?” tanyanya sambil menyeka rambut dengan handuk, lalu berjalan ke lemari dengan langkah santai.

Aku buru-buru berdiri dan kembali duduk di pinggir ranjang, mencoba menyembunyikan kegelisahan yang entah dari mana datangnya.

“Si kucing itu ke mana, Lis? Kok tidak kelihatan?” tanyaku dengan dahi berkerut, suara sedikit panik.

Lisa menguap kecil sambil membuka pintu lemari. “Oh, dia tadi keluar… Eh, tapi bisa tidak sih kau berhenti menyebutnya ‘kucing jadi-jadian’? Ya ampun, zaman sekarang masih saja percaya yang begituan. Kau terlalu sering menonton drama halu, jadi otakmu ikut miring.”

Nada bicaranya santai, bahkan cenderung mengejek, tapi aku tak punya energi untuk membalas seperti biasanya. Perasaanku sedang tidak enak. Sesuatu tentang ketidakhadiran si kucing itu menimbulkan kekhawatiran yang tak bisa kujelaskan.

Aku mengembuskan napas, mendengus kesal dan membaringkan tubuh ke kasur. Langit masih kelabu di luar jendela, dan suara gerimis mulai terdengar lagi, mengetuk pelan kaca jendela.

“Aku tidak halu, memang betul dia itu kucing jadi-jadian. Kalau kau tak percaya, tunggu saja malam nanti. Biasanya dia berubah kalau sudah lewat tengah malam,” jawabku sambil mulai menggulingkan tubuhku ke kiri dan kanan, mencoba menenangkan diri.

Lisa terkekeh. “Oke, kalau begitu kita buktikan nanti malam. Kita lihat apakah dia benar-benar kucing jadi-jadian atau cuma khayalanmu.”

“Ya sudah…” gumamku pelan. Mataku menatap langit-langit yang retaknya membentuk pola aneh seperti peta rahasia. Jantungku masih gelisah.

“Kau tidak ke kampus?” tanya Lisa sambil memandangi bayangannya sendiri di cermin.

“Nanti saja,” jawabku pendek. Rasanya tubuhku terlalu berat untuk digerakkan, dan hati ini terlalu sibuk memikirkan makhluk kecil berbulu putih yang seharusnya ada di sisiku pagi ini.

.

Malam Hari

Langit malam menggantung kelam, dihiasi awan pekat yang menutupi bulan. Kamar hanya diterangi lampu tidur kecil di sudut meja. Suaranya berdengung samar, menciptakan atmosfer yang sendu. Hujan sudah berhenti, tapi sisa embunnya membuat udara terasa dingin dan lembap.

BTS With MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang