You POV
Langit sore tampak kelabu saat aku berjalan pulang dari kampus, menyusuri gang sempit di antara bangunan kos tua yang catnya mulai mengelupas. Udara lembap menusuk kulit, dan langkahku terasa berat karena hari ini penuh dengan tugas dan dosen menyebalkan. Begitu membuka pintu kamar, harapan untuk sedikit ketenangan langsung sirna.
Di atas kasur kesayanganku yang baru saja ku bersihkan pagi tadi, tergeletak seekor kucing anggora putih—tertidur pulas dengan posisi meringkuk, seperti tak punya beban hidup. Kasur itu masih bersih, harum dari semprotan lavender yang tadi pagi kuberikan. Tapi semua kerja kerasku terasa sia-sia begitu melihat bulu-bulunya berserakan di sepraiku.
Aku mendesah panjang, meletakkan tasku di belakang pintu dengan suara yang sedikit lebih keras dari biasanya. Kamar ini tak besar, cukup untuk dua orang dan satu kucing—kalau tidak menyebalkan. Matahari yang mulai condong mengintip dari sela tirai, membentuk bayangan keemasan di dinding yang penuh tempelan memo.
Kaki melangkah pelan mendekati ranjang. Aku berdiri di sisi kasur sambil berkacak pinggang, tatapan tajamku tertuju pada si kucing, yang entah kenapa selalu tampak terlalu santai menghadapi dunia.
Apa yang harus kulakukan untuk membuktikan bahwa kucing ini benar-benar makhluk jadi-jadian? pikirku. Mungkin kepalaku sudah terlalu lelah, karena ide paling tidak waras mendadak muncul—ya, dongeng klasik Pangeran Kodok. Aku tersenyum miring pada diriku sendiri. Ini gila... tapi siapa tahu?
“Aku hanya butuh bukti,” gumamku pelan. Ruangan terasa sunyi, hanya suara kipas angin yang berputar pelan menemani niat nekatku.
Dengan jantung yang berdetak aneh, aku menunduk. Wajahku semakin mendekati wajah kecil itu. Aku memejamkan mata, berharap tak menyesali keputusan ini...
Dan saat bibirku menyentuh mulut kucing itu, sebuah keajaiban terjadi. Cahaya aneh—entah nyata atau khayalanku—menyilaukan mataku, membuatku tersentak mundur. Ketika mataku terbuka, kucing itu sudah tak ada. Di hadapanku, duduklah seorang lelaki dengan rambut awut-awutan dan kaus putih lusuh.
Jantungku berdegup liar. “Ya Tuhan…,” bisikku kaget, tangan menutup mulut, mengingat dengan nyeri bahwa ciuman pertamaku barusan melayang sia-sia.
Dengan panik, aku meraih sapu dari sudut ruangan, mengayunkannya ke arah si manusia baru yang kini duduk santai di atas kasurku. Kasurku! Ia mengucek mata, terlihat kebingungan, lalu menyadari sesuatu.
“A-Aku… Aku kembali jadi manusia?” ucapnya dengan nada penuh kelegaan. Tanpa malu, ia mulai melompat-lompat di atas ranjang seperti anak kecil.
Aku menatapnya datar. “Aku sudah bilang, kau itu kucing jadi-jadian.”
Tatapannya berubah kikuk. Ia duduk, menggaruk kepala yang jelas-jelas tidak gatal.
Aku berdiri tepat di hadapannya, tangan terulur. “Bayar. Karena kau sudah tinggal dan makan di kamar ini. Dan—yang terpenting—karena aku juga yang telah membuatmu kembali jadi manusia.”
“Jadi… kau yang membuat aku berubah? Bagaimana caranya?”
“Kau pikir bagaimana?”
Ia membisu. Matanya perlahan membesar. “Jangan bilang... kau menciumku?”
“Iya. Aku menciummu untuk membuktikan kau itu kucing jadi-jadian. Dan lihat sekarang—terbukti.”
Dalam hati, aku ingin membanting kepala ke dinding. Segala harga diri dan romantisme ciuman pertama… pupus begitu saja.
.
Malam merayap perlahan, menyusup masuk ke kamar lewat celah-celah jendela yang tak tertutup rapat. Hembusan angin membawa aroma debu dan udara lembap yang khas, membuat tirai tipis menari pelan di bawah cahaya bulan. Cahaya pucat itu memantul dari kaca jendela, menciptakan bayangan buram di lantai kayu yang mulai terasa dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
BTS With Me
FanficImagine BTS x Yn Berkisah tentang Y/n dan member BTS. Jung Y/n (Yourname) Kim Taehyung (V) Jeon Jungkook (Jungkook) Park Jimin (Jimin) Kim Seokjin (Jin) Min Yoongi (Suga) Jung Hoseok (J-hope) Kim Namjoon (RM). Peringkat paling mengesankan: #1 reade...
