Pagi ini aku di buat terkejut akibat kemunculan Jimin di depan pintu rumahku.
Aku yang tadinya hendak membuang sampah keluar, berdiri diam sembari menatap Jimin, bingung.
"Sejak kapan kau ada di sini?"
"Sebelum matahari terbit"
Hah?. Matahari terbit. Bukankah itu 30 menit yang lalu.
Ku gelengan kepalaku pelan guna mengusir rasa pusing yang tiba tiba saja menyerangku karena memikirkan sejak kapan Jimin ada di depan rumahku.
"Jadi, kau menunggu cukup lama?" Tanyaku, memastikan
Jimin mengangguk sembari tersenyum lebar.
Benar benar polos...
"Untuk apa kau menunggu selama itu?"
Sekali lagi aku bertanya dan Jimin pun mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi ia sembunyikan di punggungnya.
"Inikan pakaian yang ku pinjamkan kemarin" Ucapku, bingung
Jimin lantas mengangguk lalu menggaruk tengkuknya, "Aku sengaja menunggumu sepagi ini untuk mengembalikan pakaian yang kemarin kau pinjamkan kepadaku. Itu sudah aku cuci, jadi kau bisa langsung menyimpannya di lemari mu" Jelasnya
Sontak aku terkekeh pelan lalu mengacak rambut Jimin dengan gemas.
"Kalau begitu terima kasih. Dan sebagai gantinya, aku akan membantumu" Balasku hingga membuat Jimin mengerutkan keningnya bingung
"Membantuku?" Tanyanya bingung
Aku mengangguk lalu menarik Jimin untuk masuk ke dalam rumahku. Setelahnya ku suruh ia duduk di sofa dan ku tinggal sebentar.
"Kenapa kau memakai jas doktermu?" Tanya Jimin setelah aku kembali dengan mengenakan jas dokter ku
"Ku bilang aku akan membantumu... Aku akan menyembuhkan mu" Jawabku menghampiri Jimin lalu duduk di sampingnya
Jimin lalu menggeleng, "Aku tak sakit jadi tak usah menyembuhkan ku" Ucapnya sedih
"Kenapa?. Apa kau tak ingin menjadi dewasa seperti orang seusiamu?"
"Bukannya aku tak ingin dewasa, tapi aku lelah harus minum obat dan melakukan apa yang dokter suruhkan kepadaku. Aku juga tak ingin membebani ibuku, ia sudah banyak menghabiskan uang untuk perawatanku" Jelasnya, sedih
Mendengar itu, aku pun tersenyum kecil lalu memeluk Jimin dari samping.
"Tak apa, mungkin semua itu sangat mengganggumu tapi bagi ibumu, ia tak masalah yang penting anaknya bisa kembali sembuh. Dari pada mengobatimu seperti kebanyakan dokter di luar sana, aku akan menjadi temanmu dan membantumu mengenal dunia yang lebih luas lagi"
"Benarkah?" Tanyanya dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaannya itu
Aku pun melepaskan pelukanku dari Jimin lalu menatapnya sembari tersenyum, "Benar. Aku akan menjadi temanmu, teman yang akan membantumu dan mendengarkan semua ceritamu, jadi kau bisa menemuiku jika kau mau" Jelasku kepadanya
****
Malam telah tiba, dan kini aku tengah duduk di balkon kamarku sembari melihat ke arah rumah Jimin.
Sejujurnya, aku tak tahu harus melakukan apa untuk mengobatinya. Bahkan yang tadi aku katakan padanya, hanya sekedar omong kosong untuk menenangkannya karena terbawa suasana mendengar penjelasannya itu.
"Hah, dasar bodoh kau Jung Yn. Cckkk, sekarang apa yang harus kau lakukan?, menjadi temannya dan menemaninya sampai dia tua?. Yang benar saja... Tapi, aku mungkin bisa membuatnya jatuh cinta dengan begitu jiwa dewasanya akan muncul... Baiklah, aku tak butuh resep dokter atau obat apapun, yang aku butuhkan hanya keahlian untuk meluluhkan hatinya yang tergembok jauh di dalam sana" Ucapku setelah terbesit ide bodoh di otak dangkal ku ini
KAMU SEDANG MEMBACA
BTS With Me
Fiksi PenggemarImagine BTS x Yn Berkisah tentang Y/n dan member BTS. Jung Y/n (Yourname) Kim Taehyung (V) Jeon Jungkook (Jungkook) Park Jimin (Jimin) Kim Seokjin (Jin) Min Yoongi (Suga) Jung Hoseok (J-hope) Kim Namjoon (RM). Peringkat paling mengesankan: #1 reade...
