Suga | Lil Meow Meow Swag

4.8K 361 5
                                        

Langit sore telah berubah menjadi kelabu ketika aku melangkah sendirian menyusuri koridor kampus yang mulai lengang. Matahari telah tenggelam di balik gedung-gedung tinggi, menyisakan cahaya samar yang menyusupi sela-sela pepohonan. Hanya lampu taman yang mulai menyala satu per satu, memantulkan bayangan pucat di atas aspal yang sedikit basah usai hujan gerimis.

“Sungguh Hoseok, menyebalkan, ia malah meninggalkanku sendirian di kampus. Padahal kampus sudah mulai gelap,” gerutuku sambil menggigit bibir bawah, menahan kesal yang membuncah.

Hoseok memang teman baikku, tapi kadang kelakuannya menyebalkan. Namun sebenarnya, ini bukan sepenuhnya salah dia. Hari ini, aku bertahan di kampus karena dosenku menjanjikan konsultasi nilai. Sejak pagi aku menunggu dengan sabar di ruang dosen, namun hingga senja turun, tak ada tanda-tanda beliau akan datang. Tubuhku lelah, perutku keroncongan, dan mood-ku sudah ambruk sejak dua jam lalu.

Di tengah keputusasaan itu...

“Meow... Meow... Meow...”

Langkahku terhenti.

Suara lirih itu berasal dari taman kampus yang senyap. Di bawah cahaya temaram lampu taman, aku melihat seekor kucing putih duduk diam, memandangku seakan-akan ia telah menungguku sejak tadi. Bulunya bersih, putih seperti salju, dan mata bulatnya bening memancarkan rasa penasaran.

Aku mendekatinya perlahan, berjongkok di hadapannya. Udara mulai dingin, angin berembus pelan membuat dedaunan di sekitar taman berdesir lirih.

“Ada apa, kucing? Kau lapar?” tanyaku sambil mengelus kepalanya dengan hati-hati. Jari-jariku menyentuh bulu halusnya yang terasa hangat.

Kupandangi sekeliling. Kampus benar-benar sepi. Hanya suara jangkrik dan semilir angin yang terdengar.

Aku membuka tasku, mencari-cari sesuatu untuk diberikan pada makhluk kecil ini. Hanya ada sepotong roti, sisa bekalku sejak pagi. Sudah ku gigit separuhnya, tapi masih terbungkus rapi.

“Makanlah, ini masih higienis walau separuhnya sudah ku gigit,” kataku pelan sambil meletakkan potongan roti beralas plastik di tanah.

Setelah itu, aku tersenyum tipis, lalu berdiri. Rasa lelah masih menggantung di tubuh, tapi entah mengapa, kehadiran si kucing sedikit menghangatkan suasana hati.

“Kucing, aku pulang dulu ya. Sudah malam. Sampai jumpa,” ucapku sambil melambaikan tangan kecilku sebelum berbalik dan mulai berlari kecil ke arah gerbang kampus.

Langit malam sudah sepenuhnya membentang ketika aku tiba di kos.

.

Beberapa Jam Kemudian...

Aku duduk di depan meja belajar, cahaya layar laptop memantul di wajahku yang terlihat frustasi. Soal kuis di layar terasa seperti teka-teki rumit dari planet lain. Otakku yang lelah nyaris tak mampu berpikir jernih.

“Bagaimana aku bisa mengerjakan soal ini? Aku butuh pencerahan,” gumamku sambil mengacak-acak rambut.

Perutku ikut memprotes. Kelaparan mulai menggerogoti, dan uang yang ku miliki hanya selembar lima ribu rupiah. Tapi itu cukup untuk membeli somay murah langganan di depan kos.

Aku beranjak dari kursi dan menghampiri Lisa, teman sekamarku yang sedang rebahan santai dengan wajah ditempel ponsel.

“Lis, kau mau somay juga tidak?” tanyaku.

Tanpa banyak bicara, ia langsung mengangguk dan bangkit dari tempat tidur. Kami lalu turun bersama, menuju gerobak somay yang biasa mangkal tak jauh dari kos.

“Bang, somaynya lima ribu ya,” ucapku saat tiba di depan gerobak.

Lampu bohlam kuning yang menggantung di sudut gerobak menyinari wajah penjual dan aromanya yang gurih menguar, membuat perutku semakin keroncongan. Saat aku menunggu, mataku tertuju pada sosok familiar: seekor kucing putih berdiri di dekat trotoar, memandang ke arahku dengan cara yang sama seperti tadi di kampus.

BTS With MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang