gelang keberuntungan

1.3K 211 38
                                        

Ale Pov

Aku terkejut ketika merasakan ada sebuah handuk kecil di keningku,lalu dengan samar aku melihat sosok gadis yang tidak asing lagi untukku,aku fikir,aku sedang berhalusinasi karena demam di tubuhku yang cukup tinggi,ternyata tidak!sosok itu nyata,dia sedang sibuk membersihkan kaca jendela rumahku.

Aku tidak habis fikir,bagaimana dia ada di sini?bukankah dia penakut?kenapa bisa berada di lingkungan rumahku?yang jelas-jelas sepi dan jauh dari pemukiman warga,seharusnya dia tidak ada di sini,dia tidak boleh ada di sini.

"Kehidupan seperti apa yang sedang kamu jalani?"

"Aku akan meminjamkan pundakku,jika kamu mau"

Benarkah?benarkah dia tidak akan berteriak saat aku menangis di pundaknya?aku segera merengkuh tubuh gadis di depanku ini,aroma coklat menguar masuk ke dalam indera penciumanku,tubuhnya harum seperti cake yang sangat manis jika aku makan.

"Aku akan pulang,aku sudah memastikan keadaanmu baik-baik saja,aku juga sudah memastikan kamu makan dan minum obat"ucap Vanesha

Bolehkah aku menahannya untuk pergi?bolehkah aku menginginkan dia tetap disini?tapi aku sadar,rumah ini tidak layak untuk gadis baik seperti dia.

"Aku akan mengantarmu pulang"

Dia menatapku,senyumannya begitu teduh sekali,rasanya sangat aneh memang,ada sosok gadis seperti dia di rumahku,bahkan dia rela membersihkan rumah yang tidak pernah aku rawat dengan baik.

"Aku bisa pulang sendiri,ini masih sore"ucap Vanesha

"Tidak,tempat ini tidak baik untuk kamu,banyak kucing dan anjing liar di sini"balasku

"Kamu sedang sakit"

"Aku sudah meminum obat,tadi kamu lihat sendiri kan?"tanyaku

Vanesha menganggukkan kepala,lalu aku segera mengambil jaketku,saat aku memakainya,aku melihat gelang di tanganku,gelang ini sudah ku pakai semenjak masuk SMA,saat aku masih tinggal di rumah orang tuaku,gelang ini juga sama seperti milik Ali,kembaranku.

"Sha"

"Iyah"

"Pakailah ini"

"Ini apa?"tanya Vanesha

"Gelang keberuntungan,tali rambutmu masih ku pakai,jadi anggaplah ini sebagai gantinya"jawabku

Tanganku terulur untuk memakaikan gelang pada pergelangan tangan kirinya Vanesha.

Tanganku terulur untuk memakaikan gelang pada pergelangan tangan kirinya Vanesha

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kebesaran yaa?"tanyaku

Vanesha menggeleng "sedikit,tidak begitu berpengaruh"

"Pakai terus gelangnya,aku yakin kamu nanti memiliki tenaga untuk menghajar orang yang mencoba membuatmu celaka"ungkapku

"Lalu kamu?"tanya Vanesha

"Kalau terjadi apa-apa denganku,yang peduli hanya kamu,kamu yang akan datang ke sini untuk merawatku"jawabku

Vanesha terdiam,dia menatapku begitu tajam,aku mengatakan yang sesungguhnya,saat ini aku sudah memiliki seseorang yang akan merawatku jika aku sakit,aku tidak lagi membutuhkan gelang itu.

"Ayo pergi"

"Ale"

Sejenak aku menoleh lagi ke belakang,menatap Vanesha yang masih saja berdiri di tempat semula.

"Kenapa kamu senang sekali mengajakku pergi,semenjak aku mengenalmu,kamu sering mengatakan kalimat ayo pergi padaku"ungkapnya

"Kita memang mau pergi kan?"tanyaku

Vanesha menggeleng "aku yang mau pulang,kamu hanya mengantar,tidak ada yang akan pergi dari kita"

Lembut sekali hati gadis aneh ini?apa begitu berpengaruhnya jika aku mengatakan ayo pergi dan ayo kita pulang?bukankah itu artinya sama saja?

"Oke,ayo kamu pulang,biar aku yang akan mengantarmu"ucapku

Akhirnya dia mau melangkah,aku segera menutup pintu rumahku,sedangkan Vanesha masih betah memperhatikan semua gerak gerikku.

"Kenapa hanya ada pintu dari besi seperti ini?"tanyanya

"Pintu kayunya sudah keropos,makanya aku lepas"jawabku seadanya

"Kenapa tidak kamu pasang pintu kayu yang baru?"tanya Vanesha

Aku fikir dia gadis pendiam,ternyata dia cerewet juga,jauh sekali dengan yang pertama aku lihat dulu.

"Jika rumahmu hanya memakai pintu besi seperti itu,bukan saja bahaya Le,tapi juga tidak baik untuk kesehatan,angin malam tetap akan masuk ke dalam rumahmu"ucap Vanesha

"Aku sudah terbiasa Sha"balasku

"Ayo naik"lanjutku

Vanesha kembali menatap pada pintu rumahku,aku membiarkan dia berbuat sesukanya.

Saat Vanesha sudah di atas motor,aku menarik kedua tangannya agar dia memelukku.

"Besok kamu harus memasang pintu kayu"ucapnya

"Kenapa kamu jadi cerewet sekali sekarang?"tanyaku

Vanesha memukul dadaku,aku hanya tersenyum,lalu segera menarik gas motor dan meninggalkan halaman rumah.

Vanesha Pov

Aku memeluk tubuhnya begitu erat,bukan karna aku takut dia membawa motor dengan kecepatan tinggi,tapi aku menyerahkan semua keselamatan hidupku pada sosok lelaki ini.

Berandalan yang menyedihkan,berandalan yang begitu rapuh hidupnya,aku belum tahu semua tentang Ale,aku hanya tahu jika dia kesepian.

"Mungkin Tuhan mempertemukan kami untuk saling menguatkan,aku tidak tahu luka semacam apa yang kamu
rasakan Le,tapi aku janji!aku akan selalu ada untuk kamu,seperti kamu yang selalu melindungiku"ucapku dalam hati.

Hingga tanpa di sadari,kami sudah sampai di depan rumahku,masih pukul tiga sore,Ibu pasti belum pulang ke rumah.

"Kamu hati-hati yaa pulangnya"ucapku berpesan pada Ale.

"Aku akan ke rumah Paman,besok pagi aku akan ke rumahmu,kita berangkat ke kampus bersama"balas Ale

"Iyah"

Ale tersenyum,lalu dia menarik gas motornya kembali,aku melihat sosoknya hingga dia benar-benar tidak terlihat,lalu aku memperhatikan gelang yang ada di tangan kiriku.

"Aku percaya kamu"ucapku dalam hati.

#tbc,,,
Sampai part ini menurut kalian bagaimana?kurang menarik kah??

SILUET KEHIDUPANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang