"Ini chord lagu yang mau gue bawain."
Delam mengambil kertas yang disodorkan Zen. Ini yang ketiga kali Zen belajar gitar sama Delam. Ujian prakteknya tinggal tiga hari lagi.
"Lo sakit?" tanya Zen.
"Kagak," sahut Delam. Sedikit berbohong.
Tadi pulang ke rumah hampir maghrib, karena habis dari rumah Daisy, dia lanjut nongkrong dulu di mall. Balik dianter Toni pake motor. Jaket ketinggalan di rumah Daisy. Jadinya, yaa ... masuk angin.
"Gue bilang Bang Zay, ya? Muka lo pucet."
"Gak usah lebay. Duduk!"
Zen yang akan beranjak untuk bilang pada Zay akhirnya duduk kembali. Delam masih merunduk melihat kertas yang tadi Zen berikan lalu mulai memetik gitar.
"So kiss me and smile for me ... Tell me that you'll wait for me ... Hold me like you'll never let me go ... Cause I'm leaving on a jet plane ... Don't know when I'll be back again .. Oh babe I hate to go .... 🎶
Pinter banget lo cari yang gampang."
Zen terkekeh. "Kan nyari dulu rekomendasi di mbah Google, chord lagu yang gampang dimaenin pemula."
"Coba lo maenin."
Zen mengambil alih gitar. Delam menarik tubuhnya ke belakang, menyandarkan punggung pada sandaran ranjang. Pengen tidur saja sebenernya.
Zen mulai memainkan lagu yang dia pilih.
"Stop." Delam menghela napas. Merangkak, mendekati Zen yang duduk di tepi ranjang. Membenarkan letak jari Zen pada senar. "Coba petik," titahnya.
Zen memetik senar.
"Nah, itu baru G. Tadi lo maenin apaan coba," kata Delam.
Zen terkekeh, tapi kemudian melirik Delam yang kembali ke posisi sebelumnya. Bersandar pada headboard.
"Eh, seriusan deh tangan lo anget, Kak. Lo lagi gak enak badan, ya? Udahan aja deh latihannya, besok lagi aja."
"Kagak. Maenin dulu yang bener satu lagu itu," ucap Delam.
Zen menghela napas. Ingin protes, tapi harus nurut kalau sama kakaknya tuh.
Kalo nggak, nanti ngambek. Jarinya memetik senar gitar perlahan. Zen kan belum lancar, bisa lama beresin satu lagu doang.
--
'Allaahuakbar ... Allaahuakbar'
Matanya terbuka saat handphone di samping bantal mengumandangkan suara adzan. Dengan mata menyipit, Delam melihat handphone. Pukul 05.00. Adzan subuh. Sebentar, keningnya mengernyit. Delam langsung bangun, terduduk. Memegang keningnya yang serasa ada yang menempel. Plester penurun demam? Seingatnya tadi malam dia sedang mendengar Zen main gitar. Delam terdiam, mampus Zen lapor Prada kayaknya, bisa lebay tar.
Dilepaskannya plester demam itu kemudian beranjak untuk mengambil wudlu, bodo amat dah sama urusan plester demam, sholat dulu sholat. Berdo'a saja Prada tak akan berlebihan, apalagi sampai lapor orang tuanya yang kalau Delam demam sedikit saja bisa heboh.
--
"Eh, Kakak udah siap. Mau sarapan apa?"
Delam berjalan memasuki ruang makan mengambil sebotol air mineral kecil dari lemari pendingin. "Sereal aja, Mbak," pintanya, seperti biasa.
"Mau yang coklat, atau yang mana?"
"Campur aja, Mbak," sahut Delam. Di rumahnya selalu menyediakan banyak jenis sereal karena Ayya dan Delam suka itu tapi yang lebih suka Delam sih, kalo weekend bisa makan sehari tiga kali, menunya sereal terus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Delam 1999 (Selesai)
Romansa**Jangan plagiat nyerempet copy paste** Butiran debu
