Mobil berhenti di pelataran rumah. Delam menatap Zay dengan mata memicing, mereka berdua beradu tatap sejenak. Zay dengan tatapan tenang dan sebelah alisnya yang naik.
"Ngeri, anjir," ucap Delam sembari bergidik kemudian membuka pintu mobil dan keluar, melangkah menuju pintu rumah.
Zay hanya terkekeh, ikut keluar, berjalan di belakang adiknya.
"ASSALAMU'ALAIKUMMM ...."
"Wa'alaikumsallam," Zay yang menyahut.
Delam tak peduli, dia melanjutkan langkah menuju tangga.
"Eitt, kamar lo di sana." Zay menarik kupluk jaket Delam. Menunjuk sebuah pintu dengan gerakan dagu. Delam memutar badan menepis tangan Zay.
"Gak usah, pegang-pegang! Jauh-jauh sana lo dari gue. Kamar gue di atas kalo lo lupa, yang di bawah tuh sementara!" kata Delam dengan sewot.
Zay menaikkan bahu ringan. "Kalo lo kenapa-kenapa, lo sendiri yang ngerasain," ucapnya santai kemudian melangkah melewati Delam, menaiki tangga dengan acuh.
Anju memang! Delam geram melihat Zay yang terus berjalan menaiki tangga dengan langkah santai, songong banget.
"GUE MASIH SANGGUP YA LARI DARI BAWAH KE ATAS!!" teriak Delam dari ujung tangga.
Zay hanya mengacungkan jempol sebagai sahutan. Ingin Delam mengejar, tapi saat melihat anak tangga yang banyak. Males, dah. Tar capek.
"AWAS, YA, KALO LO TURUN! LANTAI BAWAH WILAYAH GUE!" Delam berteriak kesal.
Zay mendengarnya, tapi tidak peduli.
"Bansad memang Zay," Delam mendumel. Memutar badan dengan kaki menghentak, balik arah ke kamar barunya dengan dongkol.
--
"Mami pergi paling cuma satu minggu. Jangan berantem, saling jaga. Oke?"
"Oke." Serempak dua putra dan satu putrinya yang ada di meja makan menyahut.
"Kakak?" panggil Iren, tak mendengar suara putranya yang satu itu, menyetujui amanatnya.
"Oke," Baru Delam berkata.
Iren mengangguk. "Mas Prada juga bakal lebih sering di rumah, Mami udah pesen."
Mereka berempat mengangguk. Iren harus pergi untuk menemui Tama, ada beberapa hal yang harus diurus. Karena itu di tengah makan malam ini, dia memberi wejangan singkat.
"Lusa Kakak check up dianter Mas."
"Iya," Delam menyahut seadanya. Dia sibuk menguliti ayam kecap, makan pake kedua tangannya.
"Gak bosen apa tiap hari ayam kecap mulu?" Ayya sampai greget, tak tahan untuk bersuara setelah sekian lama gak ngomong-ngomong sama Delam. Bukan karena masih dendam, tapi lebih ke malu.
Delam menggeleng. "No, ayam kecap its my life," sahutnya kemudian dia beranjak melangkah ke arah dapur. Menanyakan saus keju richeesenya ke Mbak Yul. Kemarin dia beli, tapi sausnya gak di buka.
Saat Delam pergi ke dapur. Iren menghela napas, menatap putra keduanya. "Bang, Mami titip Delam ke kamu juga, ya," ucapnya memberi amanat.
Zay mengangguk dengan senyum. "Aman, Mi."
Bukan hal yang menyenangkan memang dititipkan seorang Delam, tapi bukan hal yang sulit juga untuk Zay. Walaupun laknat, tapi sebenarnya adiknya yang satu itu sangat lugu. Gampang dikibulin, gampang ditakut-takutin, mudah untuk Zay atur.
"Ayya juga bakal jaga kakak kok, Mi. Janji gak akan berantem lagi," janji Ayya sungguh-sungguh. Dia benar-benar menyesal atas apa yang pernah terjadi.
Ayya yang selalu mengibarkan bendera perang kepada Delam, saat melihat Delam di UGD waktu itu, Ayya takut. Karena kejadian itu Ayya sadar, Ayya takut kehilangan kakaknya, Ayya tak mau lihat kakaknya sakit, Ayya sayang Delam, walaupun Delam emang nyebelin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Delam 1999 (Selesai)
Romance**Jangan plagiat nyerempet copy paste** Butiran debu
