H+ berapa ini lebaran, keluarga Bapak Tama mau mengucapkan mohon maaf lahir batin.
Setelah kemarin-kemarin mabok silaturahmi ke sana-ke mari akhirnya di hari ini keluarga Bapak Tama waktunya istirahat di rumah.
"Kak, anter beli bakso, yuk."
"Ape lu ada maunya manggil gue Kak."
Tahu, kan, siapa yang sedang berbicara? Si Tom and Jerry, Delam dan Ayya, mereka masih satu rumah dan masih begitu saja, love hate relationship.
Ayya mendecak. "Gue kemaren udah jadi model kaos lo, ya, belom dibayar. Mahal tahu bayaran gue tuh."
"Lah, mahalan gue, mau apa lo?"
"Gak guna!"
"Pada mingkem atau gue lapor Mami."
Zen yang selalu jadi penengah terkadang mencapai titik muak dengan segala keributan yang diciptakan oleh kembaran dan kakaknya.
Delam beneran mingkem, Ayya juga, soalnya sekarang Mami Iren kalau kasih ancaman buat mereka damai tidak main-main, terakhir beneran dicuekin seharian, tidak bisa mereka dicuekin Mami Iren.
"Bakso mana?!" tanya Delam kemudian dengan nada sewot.
"Udah gak mood," sahut Ayya sembari melengos pergi.
Delam acuh, kembali memainkan ponselnya.
"Kejar, Kak, cewek minta dipaksa itu," kata Zen.
"Ah, bodo amat, harus banget gue paksa," acuh Delam tanpa mengalihkan pandang.
"Delam resek! Nyebelin! Awas lo, ya!" Ayya berbalik dan langsung mengomel nyaring sembari menunjuk kakaknya yang sedang berbaring santai di sofa sambil main ponsel.
"Apa sih," kata Delam dengan kening mengerut.
"Gue bilangin Ara!"
"Bakso mana? Ayok gue traktir. Bakso A Fung, yok, gue beliin sepuas lo."
Delam langsung bangun, berdiri sambil berceloteh, melangkah menghampiri adiknya, dia raih tangan Ayya.
"Gak mau!" Ayya menarik tangannya kembali dengan kasar.
"Gak boleh gitu dong, adikku, cantikku. Ayok, Kakak beliin, mau apa?" tanya Delam dengan nada sok lembut.
"Noh, Zay, mau keluar." Delam menunjuk abangnya yang baru turun dari lantai atas, terlihat membawa kunci mobil.
"Abang, Delam tuh jahat," adu Ayya.
"Mau ikut gak, Ay?" tanya Zay, tidak mempedulikan aduan adiknya, sudah biasa, pasti Delam yang memulai.
"Mau," sahut Ayya tanpa harus bertanya mau ke mana.
"Gue juga mau," Delam ikut-ikutan tanpa diajak.
Ayya menoleh. "Apa lo?!" sewotnya.
"Zen, mau ikut juga gak?" tanya Zay, dia benar-benar tidak mau menghiraukan keributan dua adiknya yang sudah saling dewasa, tapi malah semakin sering ribut.
"Gak, Bang, ngantuk," sahut Zen.
"Mau titip apa?"
"Nggak, makasih, Bang. Titip itu dua adek abang aja, takut saling jambak di jalan," canda Zen, tapi tidak sepenuhnya bercanda, Delam dan Ayya memang terkadang ribut sampai saling jambak.
"Ayok, Ay," ajak Zay.
"Gue gak diayok-in!"
Zay tidak mempedulikan.
Tapi Delam tetap mengekor di belakang, sedangkan Ayya dirangkul oleh Zay, agar diam.
-
Mereka ke tempat bakso yang ditunjuk oleh Ayya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Delam 1999 (Selesai)
Dragoste**Jangan plagiat nyerempet copy paste** Butiran debu
