Ekstra part II

8.7K 598 111
                                        

"MAMIIIIIIIIII!!!! TELINGA DELAM DIPIERCIIIIINNNGGGG, MAMIIIII!!!!"

"Kagak ya, Ay, kagak. GAK! MAMIIIII!!!!"

"Dipiercing, Miii!!!"

Iren melangkah ke dekat tangga. "Jangan pada berisik di atas. Kasian Zen lagi gak enak badan!!!" Iren bersuara nyaring, berharap putra-putrinya yang selalu ribut itu lekas diam. Kasihan si bungsu sedang tidur, habis minum obat, tadi dia mengeluh tak enak badan.

"MAMIIIIIIII!!! DELAMMMM!!!" Ayya berlari dari ujung tangga atas karena Delam mengejarnya.

"Jangan pada lari-larian di tangga!" Nah, lho. Mami marah.

Ayya menghentikan lari, melangkah pelan. "Tuh, Delam, Mi," katanya, menunjuk Delam di belakang yang juga jadi melangkah biasa, tak berlari lagi.

"Mi, Delam dipiercing," Ayya mengadu lagi.

"Apaan sih, Ay?! Ayya bohong, Mi. Nggak kok."

"Mana sini Mami liat kupingnya." Iren masih berdiri di ujung tangga bawah, kini melotot.

"Nggak, Mami, benaran. Ayya ngada-ngada. Ah, Kakak ada tugas. Lupa, harus dikirim nanti siang. Ngerjain dulu ya, Mi."

"Kakak!!!"

Ayya menahan tawa, dia menghentikan langkah, menengok ke belakang. Kakaknya mau kabur tidak jadi.

"Ish!" Terdengar desisan pelan.

Ayya masih berusaha menahan tawa. Delam kembali menuruni tangga. Saat melewatinya, sempat-sempatnya dia mencubit lengan Ayya.

"Aw! Mami, dicubit!" Ayya mengadu refleks. Dengan bibir mengerucut, dia mengusap-usap lengannya yang dicubit Delam. Lumayan sakit. Nanti Ayya mau ngadu juga ke masnya, biar dikurangin gaji magang Delam!

Delam sampai di lantai bawah. Menunduk di hapadan Mami. Daun telinganya langsung diperiksa. Pasrahlah.

"Apa ini? Ada bolong telinganya! Kakak nurut siapa, sih? Suruh siapa digini-gini??!" Tangan Iren masih memegang ujung daun telinga Delam. Marah. Matanya melotot.

"Nggak dipake lagi kok, Mi. Kemarin doang, buat pemotretan," Delam membela diri. Berharap bisa meredakan sedikit kemarahan maminya.

"Kenapa harus beneran ditindik gini? Kakak kok mau sih nyakitin diri sendiri buat pemotretan doang?! Gak ada ya, Kak, aneh-aneh lagi. Udahan aja jadi modal-modelannya kalo harus nyakitin diri sendiri terus!"

"Auw."

Iren melepaskan tangan setelah menarik telinga Delam dengan kesal.

"Maaf," ucap Delam sembari menundukkan kepala.

"Kenapa, Mbak?" Bunda Ami yang mendengar gaduh, keluar dari balik dinding yang memisahkan dengan dapur. Bundanya Arsen itu lagi ada di rumah, nahan ketawa sambil bertatapan dengan Ayya.

"Gak tahulah, Mi. Ini anak ngada-ngada terus. Kemarin ditato, katanya sekalian buat endorse. Apaan coba. Mana liat. Liatin ke Bunda Ami tangannya." Iren menarik tangan Delam.

Delam pasrah, memanjangkan tangan.

"Buat apa gini-ginian coba?! Udah baik gak Mami potong tangannya!"

Delam langsung menarik tangannya. "Ih, Mami serem banget. Dikit doang juga." Ya, tatonya hanya sedikit, ada di pergelangan tangan Delam, dibuat vertikal, hanya berupa inisial nama dan tahun lahir, seperti yang ada di kalung pemberian Zay.

"Dikit-dikit! Sekali-kali lagi, beneran Mami potong itu tangan," ancam Iren. Seperti tak main-main, tapi Delam yakin maminya mana berani motong tangan, serem banget.

Delam 1999 (Selesai) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang