Note : Mau nyenengin readers, makannya hari ini up hwhw:'v
HAPPY READING!!
.
.
.
.
Sudah dua jam sejak pertengkaran mereka tadi dan Zelinda masih duduk di sofa ruang tamu, walaupun ia sadar jika sepenuhnya memang salah dirinya. Entah mengapa tadi rasanya ia tak mau kalah, tidak ada maksud apapun untuk menyinggung Arjuna. Dua jam tadi cukup untuk merenungkan kesalahannya sendiri, tentu dengan menangis. Zelinda sendiri jadi benci karena dirinya gampang sekali menangis semenjak hamil.
Zelinda ingin meminta maaf namun ia takut sekaligus malu pada Arjuna, ia takut Arjuna marah karena tersinggung dengan ucapannya tadi. Namun tak bisa diurungkan juga karena ini sudah semakin malam, ya masih jam delapan si cumakan harusnya Zelinda sekarang udah peluk-peluk manjah sama Arjuna menuju alam mimpi.
"Gue minta maaf duluan aja kali ya?" Zelinda kini sudah mondar-mandir didepan tangga, ia melirik kamarnya yang berada di atas namun nihil pintunya masih saja tertutup.
"Ck, laki-laki macem apa itu? Seenggaknya susul gue ke kesini, dibujuk atau gimana gitu. Dua jam dikamar dia ngapain si?" Zelinda melirik lagi pintu kamarnya.
Zelinda menghela nafasnya kasar. "Kali ini gue yang salah, dan harusnya gue juga yang minta maaf. Oke Zelinda, relax!" Setelah menarik nafasnya panjang Zelinda mulai naik keatas tangga, dengan nyali yang lumayan penuh dia akan berani meminta maaf duluan sekarang.
Ia membuka pintunya pelan, dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah Arjuna sedang sibuk dengan laptopnya dan itu membuat Zelinda semakin merasa bersalah sekarang. Namun entah mengapa nyalinya tiba-tiba hilang untuk meminta maaf, rasanya malah ia ingin menangis lagi sekarang.
Arjuna pun menyadari Zelinda yang masuk kedalam kamar, namun ia sengaja untuk tidak berkutik dan memilih melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Tetapi tolong ingatkan jika Zelinda memang keras kepala, orang yang sangat menjunjung tinggi harga dirinya dan orang yang selalu memegang prinsip jika wanita itu tak pernah salah.
Melihat Zelinda yang masih diam tak berkutik didepan pintu membuat Arjuna menghela nafas beratnya, belum lagi wajahnya yang tertunduk serta isakan tangis yang terdengar di telinga Arjuna. Ya, Zelinda memang cengeng belakangan ini. Kadang jika Arjuna pulang larut malam pun Zelinda akan menangis, katanya dia takut dirumah sendiri namun Arjuna tau bukan itu alasan aslinya. Untuk itu ia selalu usahakan pulang sebelum magrib, walaupun pekerjaan di sana belum selesai namun ia sengaja bawa pulang dan melanjutkannya di rumah. Tapi siapa sangka akan terjadi seperti ini akhirnya, istrinya terlalu meremehkannya.
Arjuna membalikan kursinya, menatap Zelinda yang masih menunduk itu didepannya. "Kenapa masih disitu? Sini, aku minta maaf."
Zelinda perlahan mendongak, ia menatap Arjuna yang menyuruhnya untuk mendekat. Ia pun menurut, dia berjalan cepat lalu memeluk Arjuna erat dengan tangis yang makin menjadi.
Arjuna tersenyum kecil melihat tingkah menggemaskan istrinya itu, memang gengsi merubah semuanya. Ia tahu sebenarnya Zelinda sudah menyadari kesalahannya namun malu untuk meminta maaf.
Arjuna membalas pelukan Zelinda, lalu membawa tubuh Zelinda agar duduk di pangkuannya. "Jangan nangis, aku gak suka liat kamu nangis." Ujarnya, ia menyingkirkan beberapa helai rambut Zelinda yang menutupi wajahnya.
Zelinda menatap Arjuna. "Ha-harusnya aku yang minta maaf, kamu pasti sakit hati banget sama omongan aku tadi." Cicitnya pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
I LOVE U KETOS!
Teen FictionMenikah? Dengan teman seangkatannya sendiri? Orang yang biasa dijuluki bad boy? Dikenal banyak orang? Disegani wanita? Bahkan beberapa guru pun ada yang tertarik dengan ketampanan wajahnya? Inilah yang dirasakan seorang Zelinda Ifdia Pratama saat in...
