3 4 7 1 5

43 12 1
                                        

"Calis!!! Sejak kapan kamu bisa sihir Grade 9!??" Tanya Vindi.

"Haah.. pas awal masuk sekolah aku dah Grade 7" ucap Calis.

"Tapi mengapa kamu malah masuk Kelas C?"

"Hmm... Aku ingin mencari temanku, dia kuat tapi suka nutupin kekuatannya jadi mungkin kalau dia sekolah disini pasti dia juga bakal masuk kelas C, lalu pasti ada kemungkinan dia ikut turnamen" ucap Calis.

"Hoooh.... Tapi kenapa kamu seperti lemah pas awal masuk" ucap Vindi.

"Ya jelaslah, aku ini mage, sedangkan kak Rita malah ngelatih fisik kita, ya otomatis jadi terlihat culun lah" ucap Calis tanpa berhenti.

"Wow wow, sabar"

Pertarungan berikutnya adalah si gun maker dan paladin, tapi ternyata cukup mengecewakan, soalnya gadis gun maker itu tidak mengeluarkan senjata terbaiknya, jadi dia kalah karena waktu habis, health bar nya berbeda sedikit dengan sang paladin.

"Kurasa dia juga tidak mau titlenya terekspos" ucap Calis.

"Iya juga ya, selama ini tidak muncuk titlenya, tapi saat memakai senapan titlenya langsung muncul" ucap Vindi.

"Kalian tidak tahu fitur hide title?" Tanya Sakuya.

"Ada kah?" Tanya Calis.

"Ada kok, cek di kartu petualang mu" ucap Sakuya.

Pertarungan Final dan juara 3 atau 4 nya di lanjutkan besok.

Seperti biasa Calis berjalan ke penginapan nya.

"Calis.."

Calis melihat ke belakang, ada Sakuya.

"Oh Sakuya ada apa?" Tanya Calis.

"Bisa bicara di tempat lain, disini terlalu ramai" ucap Sakuya.

"Hm... Ok"

Mereka berdua berjalan ke dekat perpustakaan kota, sekitar perpustakaan begitu sepi karena kebanyakan orang takut dengan tumpukan buku.

"Ada apa Sakuya" tanya Calis.

"Tidak, aku hanya ingin kamu menyambung angka yang ku sebut" ucap Sakuya.

"Cuma itu?, Ok"

"Baiklah, aku mulai, 3 4 7 1 5"

"9 0 2 4" ucap Calis.

"9 4 8" ucap Sakuya

Calis terkejut dan melihat ke arah Sakuya.

Sakuya juga terkejut lalu dia melihat ke bawah.

"Kamu..., Yuka!?"

"......"
.
.
.

Waktu itu Calis masih 7 tahun.

Dia lahir sebagai anak tunggal dari pedagang keliling.

Suatu hari ayah dan ibunya memutuskan untuk menetap sebentar di suatu desa.

"Mama, papa aku jalan jalan ya" ucap Calis.

"Ya hati hati ya, ini uang kalau mau jajan" ucap Ibunya Calis lalu memberikan 5000 dricash.

Calis kemudian berlari lari melihat bangunan dan toko.

"Huaah... Ada kembang gula"

Calis membeli satu kembang gula.

Saat berjalan Calis mendengar suara tangisan dari sela antar bangunan.

Calis kemudian melihat ke sela bangunan itu, ada gadis kecil berambut hitam yang menangis.

i can do anything i want in another worldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang