Entitled04

112 17 2
                                        

Mata Moca perlahan membuka. Mata yang kehilangan cahayanya itu bergerak menyapu kamarnya yang kosong.

Ia menurunkan kakinya dari ranjang. Berdiri dan berjalan keluar seolah rasa sakit dari lebam tubuhnya tidak pernah ada.

Pintu kamar gadis itu tanpa peringatan terbuka membuat pemuda yang tengah asik beraktivitas di lorong membisu.

Mereka mematung karena sosok yang dikabarkan tidak sadar seminggu ini membuka pintu kamarnya sendiri. Mata mereka melihat warna ungu tua yang menghias lehernya, hal yang sama pada wajah kirinya.

Berbeda dengan para pemuda yang bergidik ngeri dengan kehadiran Moca. Gadis itu seolah tidak menyadari kerumunan itu. Ia hanya berjalan pelan menuju pintu kamar sebelahnya.

Suara gagang pintu yang diputar itu juga terdengar jelas ketika tangan dengan bekas ikatan itu berusaha membuka pintu. Ia mendorong pintunya tapi tak terbuka karena terkunci.

Seperti orang bodoh, ia mencoba membuka pintu itu lagi dan lagi.

"Moca!" Sarah yang diberitahu salah satu pemuda berlari mendekat ketika melihat apa yang dilakukan Moca. Sarah langsung memeluknya erat. Moca masih diam.

Ia tidak tau ia siapa yang harus bagaimana tanpa Liel. Yang ia tau ia harus menemukan Liel.

Ia menolak pelukan Sarah, kemudian duduk di depan pintu kamar Eli.

Ia tidak mau mendengar, juga tidak mau melihat kalau bukan Liel yang datang.

.

.

.

Hari sudah semakin larut, tapi Ji masih menggores pena di atas kertas. "Pangeran Ji, Anda butuh istirahat.. Anda sudah menyelesaikan tugas Anda untuk 3 hari kedepan.." Sekretaris barunya itu khawatir akan kesehatan mereka berdua --Pangeran dan dirinya sendiri.

"Anda mau belajar sampai kapan?? Anda jelas sudah membaca semua buku di perpustakaan."

"Kalau perlu aku bisa baca ulang." Ji tersenyum tipis melihat sekretaris barusnya yang terlihat merajuk ingin pulang.

"Eli justru tidak pernah melarangku untuk belajar seharian dan setia mengajariku, disini kau malah mengeluh."

"Pangeran Yo! Saya bukan Eli!" Meskipun ia juga bangga jika bisa sehebat Eli tapi ia tau mana mustahil dan kenyataannya.

"Hahah, kalau bukan Eli setidaknya jangan terus mengeluh."

Jawaban itu membuat sekretarisnya menghela napas panjang. Ia baru tidur tiga jam dua hari ini sementara pangeran Ji belum sama sekali.

Untung saja ia memiliki senjata ampuh yang bisa ia gunakan untuk menyelamatkan kesehatannya kali ini. "Oh, saya lupa menyampaikan, saya dengar dari salah satu prajurit yang berjaga kalau gadis bernama Mo itu sudah bangun."

Gerakan pena Ji langsung terhenti. Ia menaruh penanya dan berdiri. "Kerja bagus hari ini, kau boleh beristirahat."

"So easy" pikirnya, sementara ia memasang senyum "yes!" dan mengangguk. "Selamat beristirahat, Pangeran Ji," ucapnya sambil menutup pintu.

Ji tersenyum pasrah melihat tingkah yang sangat berkebalikan dengan ajudan sebelumnya.

Ketika ia datang istana prajurit sudah sepi. Ini sudah lewat jam tidur. "Berkat bagi keagungan dan kelimpahan Emeria." Ji mengangguk menanggapi hormat yang disampaikan beberapa pemuda yang masih terjaga.

"Di mana Sarah?" 

"Bersama dengan Mo di lantai dua." 

"Terima kasih." 

My Moca II : MoniceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang