Setelah jadian dengan mas Andra akhirnya aku berhenti dari aktivitas dunia malam dan sudah tidak lagi terima booking. Hanya Rosa saja yang masih rutin mangkal dan cari pelanggan. Kalaupun aku datang ke warung bang Jek itu karena aku bosan saja di kosan sendiri, tapi aku sudah tidak terima booking order dalam bentuk apapun juga.
Pekerjaan yang masih kujalani hanyalah kerja siang di salon mami Lulu saja. Sebenarnya tanpa bekerja sekalipun biaya hidupku sudah terpenuhi dari mas Andra.
Sejauh ini yang kutahu pasti adalah ia bukan seorang duda, tidak pernah menikah dan tidak pernah punya anak. Justru akulah yang seorang duda (atau janda?) beranak satu. Mas Andra adalah anak kedua dari tiga orang saudaranya yang mana semuanya laki-laki, kakaknya seorang pegawai negeri yang dinas ke Papua, adiknya bekerja di Pekanbaru. Ayahnya sudah meninggal dan ibunya memilih untuk tinggal di Tarakan karena punya usaha kuliner di sana, ibunya sangat senang memasak.
Mas Andra rutin dengan bisnis batu bara di Kalimantan, ia punya jadwal yang tidak tentu untuk pulang ke Jakarta. Bisa satu minggu sekali atau dua minggu sekali bahkan sebulan sekali tergantung kesibukannya di pertambangan. Oleh karena itu aku juga sering diajak ikut ke Balikpapan, ia semata-mata melakukan itu untuk membuktikan kalau ia tidak pernah berselingkuh dengan siapapun di sana walaupun banyak gadis-gadis setempat yang jauh lebih mempesona ketimbang diriku. Gadis-gadis suku dayak sudah banyak yang antri berebut ingin diperistri oleh pria mapan berusia kepala 3 ini.
Walaupun mas Andra sudah menggagahi banyak wanita dan bisa mendapatkan wanita manapun yang diinginkannya tapi ternyata kehidupan pejantan Alpha tidak selalu sukses dengan hubungan asmara. Terbukti dari banyaknya wanita yang pernah mantan kekasih mas Andra, tidak ada satupun yang akhirnya bisa menjadi calon pendamping hidup yang serius. Semua hanya ingin menikmati hartanya dan kenikmatan ranjang.
Dahulu ketika masih sendiri, mas Andra lebih sering tidur di mess atau rumah dinas yang disediakan kantor di sekitar daerah pertambangan. Semenjak ada aku, mas Andra mengontrakkan rumah untuk kami berdua ketika kami berdua stay di Balikpapan.
Kalau sedang di rumahnya yang di Balikpapan, aku menemaninya dan berlaku sudah layaknya seorang istri. Merawat rumahnya, masak untuknya, melayaninya pada saat ia pulang kerja. Walaupun masih sebatas hubungan di luar nikah tapi kami cukup harmonis.
Bahkan aku juga sudah dikenalkan ke ibunya yang tinggal di Tarakan. Ibunya mengenalku sebagai Rika seorang anak gadis petani dari Jawa Tengah, gadis pantura keturunan Jawa Sunda. Mas Andra tidak pernah bilang ke ibunya kalau sesungguhnya aku adalah seorang transvestis, tapi sementara ini yang kulihat ibunya sangat menyenangi diriku, malah ibunya sudah sering bilang kalau aku bisa jadi calon mantu yang baik, rajin solat, apalagi menurut ibunya aku pintar masak padahal aku sih merasa biasa saja.
Kehidupan baruku bersama mas Andra benar-benar dimanjakan luar biasa, kalau masalah uang sudah tak perlu ditanyakan lagi. Semenjak bersama mas Andra aku jadi terbiasa dibawa ke tempat-tempat mewah, menginap berlibur di hotel mewah sudah bukan hal yang aneh lagi buatku. Sebenarnya aku sangat ingin membagi kebahagiaan ini dengan anakku, aku harus mencari bagaimana caranya agar aku bisa bertemu bapak ibu dalam keadaanku yang sekarang dan aku harus bisa menjemput Eri.
Terkadang aku begitu takut dengan keadaan seperti ini, kalau sudah begini apakah ini artinya aku tidak bisa lagi kembali menjadi Riko?
* * *
Dan benar saja, genap satu tahun kami berpacaran, saat kami berdua sedang berada di Balikpapan. Akhirnya mas Andra menyatakan keseriusannya menjalin hubungan denganku.
"Rika, maukah kamu menikah denganku?"
Degg... kata-kata yang tak pernah kusangka-sangka akhirnya terucap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Banci Terminal
General FictionPERINGATAN: BACAAN KHUSUS 21++ Mengandung unsur LGBT, Transvestisme, Transgender, Transexual, Bigender, Genderqueer. * * * * * * Riko Ivanes memiliki seorang istri yang sangat cantik bernama Indri Arianti, mereka dikaruniai seorang anak lelaki berna...
