Anakku Masuk Sekolah
Tidak terasa genap satu tahun sudah hidupku merantau di ibu kota, hidup mengais rejeki dalam dunia remang-remang sebagai perempuan jadi-jadian. Pekerjaan yang selama ini kusembunyikan dari ibu, bapak dan terutama anak semata wayangku.
Anakku akhirnya sudah berusia 6 tahun dan mulai kelas satu sekolah dasar, bapak memasukkan Eri di Sekolah Dasar Madrasah di desa, aku juga setuju, biar anakku ada dasar pendidikan agama yang kuat, soalnya bapak sama ibuku juga tidak begitu mengenal agama, taunya aliran tradisional "Kejawen".
Aku jadi ingat waktu petugas dari kantor Desa melakukan sensus, bapakku didata agamanya apa malah nggak tau, cuma bisa jawab "Kejawen" sementara petugas sensus juga bingung karena hanya ada lima agama yang diakui di negara Indonesia sementara Kejawen tidak ada dalam list tersebut. Akhirnya urusan ribet tersebut sampai melibatkan pak Kades, pak Kadus, Tabib, mbah Dukun santet, Dukun beranak, ahli pesugihan, tukang pelet, tukang sayur, tukang bakso, bahkan para tetangga pun ikut berdatangan. Mereka semua saling debat kusir untuk solusi atas permasalahan agama vs aliran kepercayaan ini, karena cuma bapak dan ibuku aja di kampung yang masih beraliran Kejawen.
Hingga sore harinya aku pun pulang dari kebun dan aku terkejut melihat rumahku yang begitu ramai. Akhirnya aku memberi solusi gampang, "ya sudah tulis aja toh agama Islam gitu aja koq repot", kataku kepada petugas sensus.
"Tapi bapak nggak ngerti caranya solat." kata bapakku.
"Ya udah bapak belajar solat mulai sekarang." kataku.
"Ah, bapak udah tua, boro-boro belajar bacaan solat, mengingat saja sulit."
"Kalau bapak ndak mau belajar solat yo wis, Riko masukin bapak ke pesantrennya kiyai Kawinudin." kataku.
"Ya masak bapak udah tua gini jadi santri lagi?"
"Ya daripada bapak ndak bisa solat?" kataku lagi.
"Koq bapak doank? Ibu ndak?"
"Ya bapak kan kepala rumah tangga, justru bapak nanti yang harus jadi imam buat ibu pas solat." balasku.
"Oh ya udah... ya udah... bapak belajar solat di rumah aja, Riko yang ajarin bapak ya."
"Nah... gitu kan seleseai persoalan." kataku.
Akhirnya bapak dan ibu punya KIS (Kartu Indonesia Selamat), yang berguna untuk menerima bantuan-bantuan dari pemerintah.
Orla alias Orde lama telah menjadi sejarah, Orba alias Orde Baru juga sudah masuk catatan sejarah, Orde Reformasi walaupun masih hangat diperbincangkan namun sudah berlalu. Sekarang zaman telah berubah, pemerintahan sekarang disebut OrGil alias Orde Generasi Millenial.
Pemerintahan OrGil punya program bantuan untuk membantu orang-orang susah berupa;
Rassus (Beras Susah), beras khusus buat orang susah.
BLT (Bantuan Langsung Tekor), karena jumlahnya tidak seberapa tapi yang penting dapat duit cash lah udah senang.
Layanan kesehatan gratis di dukun atau tabib terdekat yang sudah menerima layanan BPJS apabila puskesmas terdekat sulit dijangkau.
* * *
Madrasah Kawinudin
Kembali kepada kisah anakku, akhirnya Eri bersekolah di SD Madrasah milik yayasan yang dikelola oleh kiyai setempat yang bernama Ust Kawinudin. Pak Yai Kawinudin telah menikah poligami sebanyak 50 kali, ia masih panjang umur di usianya yang sudah mencapai 101 tahun. Istri-istrinya semua mulai dari gadis segala jenis perawan entah itu perawan rapet sampai perawan tingting, sampai janda kampung, janda kembang, janda herang, janda jelita, intinya semua jenis makhluk yang penting berjenis kelamin wanita pasti masuk dalam list peristriannya. Jumlah anaknya sudah tidak terhitung, masing-masing istri yang dikawini olehnya pasti hamil anak satu dua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Banci Terminal
General FictionPERINGATAN: BACAAN KHUSUS 21++ Mengandung unsur LGBT, Transvestisme, Transgender, Transexual, Bigender, Genderqueer. * * * * * * Riko Ivanes memiliki seorang istri yang sangat cantik bernama Indri Arianti, mereka dikaruniai seorang anak lelaki berna...
