Kreek... suara kamar mandi terbuka, aku baru saja selesai mandi, kubungkus tubuhku dengan handuk dari dada sampai pangkal paha. Rambutku yang telah panjang sepunggung kubiarkan masih tergerai setengah basah. Aku melangkah ke depan meja riasku, rutinitas harian yang selalu kulakukan tanpa bosan.
Setelah mengeringkan tubuh aku memakai body butter di tangan dan kaki untuk kulit lembab dan lembut sepanjang hari, lalu semprot parfum di leher dada dan pergelangan tangan.
Baru saja aku mengancingkan tali BH ku, "Mama..." suara anakku memanggilku, ia langsung saja nyelonong masuk kamarku dan nemplok padaku yang masih setengah telanjang, aku memangkunya sambil menyambutnya kolokan denganku.
Anakku itu sudah kelas 6 SD tetapi masih saja senang bermanja-manja padaku, mamanya. Anak lelaki berwajah putih manis, bibirnya merah alami yang kuberi nama Eri Hariyadi Ivanes. Anak itu juga masih senang dimandikan olehku, tapi pagi ini kusuruh ia mandi sendiri agar terbiasa dan tidak terlalu sering bergantung padaku mengingat sebentar lagi ia mau akil baliq.
By the way, anak itu bukan hasil perkawinanku dengan suamiku, tetapi hasil perkawinanku dengan istriku (tepatnya mantan istriku).
Istri? nah mungkin kalian bingung.
Karena dulu aku dikenal dengan nama Riko Ivanes, tetapi sekarang aku bukan lagi Riko, aku lebih dikenal dengan nama Rika. siapapun yang bertemu denganku sekarang, semua mengenalku sebagai Rika.
Namun, apa yang terjadi hingga aku sampai pada kehidupanku yang sekarang ini?
* * *
Sebuah Masa Lalu
Namaku Riko Ivanes, saat ini aku tinggal dan dibesarkan di kampung halamanku, sebuah daerah perkampungan kecil yang masyarakatnya hidup dari berkebun dan menanam padi. Kampung kecil kami tidak tercetak di peta tetapi kami adalah bagian dari salah satu desa penghasil beras di pulau Jawa ini. Walaupun demikian, bapakku bukan petani kaya seperti para pemilik sawah-sawah besar lainnya. Bapakku hanya memiliki warisan sepetak kecil sawah dan kebun yang cukup untuk menghidupi dan menyekolahkan ku sampai lulus sekolah menengah atas.
Penghasilan bertani juga tidak seberapa, karena hasil panen dihargai sangat rendah oleh para tengkulak atau pengepul. Begitulah siklus hidup di kampung kami, bercocok tanam, panen, jual ke pengepul.
Di usiaku yang masih menginjak usia 20 tahun aku sudah menikah dengan seorang wanita bernama Indri.
Indri adalah teman sekolahku, aku berpacaran dengan Indri dari sejak kelas 1 SMP hingga kami lulus SMA. Indri adalah wanita yang unik, dibilang cantik dan punya daya tarik tersendiri, aneh dan magis. Tanpa banyak berdandan saja Indri sudah begitu cantik dan menarik apalagi kalau sudah bisa dandan yang lebih glamor lagi. Pria manapun yang ditatap oleh matanya akan takluk padanya.
Sepanjang kami berpacaran dari masa sekolah memang bukan perjalanan yang mulus juga, sempat berkali-kali kami putus nyambung. Selama selang jeda putus, Indri selalu dengan mudahnya langsung mendapat penggantiku, ia mudah sekali mendapatkan pacar baru sedangkan aku selama sekolah dari kelas 1 SMP hingga lulus kelas 3 SMA hanya Indri lah satu-satunya wanita yang bisa kupacari.
Pada masa sekolah dulu aku memang bukan tipe cowok yang populer di kalangan wanita, karena aku tidak begitu bertampang dan berpenampilan menarik. Tidak dapat dipungkiri modal utama untuk menarik lawan jenis kalau bukan uang ya pastinya penampilan yang menarik.
Kalau ada yang mau dibilang melihat seseorang tanpa memperhatikan penampilan, maka hanya Indri lah yang mau menerima ku tanpa memandang penampilanku yang buruk rupa dan pas-pasan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Banci Terminal
Ficção GeralPERINGATAN: BACAAN KHUSUS 21++ Mengandung unsur LGBT, Transvestisme, Transgender, Transexual, Bigender, Genderqueer. * * * * * * Riko Ivanes memiliki seorang istri yang sangat cantik bernama Indri Arianti, mereka dikaruniai seorang anak lelaki berna...
