70 - Selamat Tinggal Riko Ivanes

2.6K 63 36
                                        

Selesai didandani aku menunggu di sebuah ruangan yang terpisah dari mas Andra, lokasi sedang disiapkan dan semua hadirin sudah diminta untuk berkumpul di tempat yang akan diberlangsungkannya akad.

Tok... tok... tok... suara pintu diketuk.

Aku membukakan pintu dan melihat Indri mantan istriku dulu. Aku senang ia datang, ia sekarang jadi tamu di pesta pernikahanku.

Indri nampak malu-malu melihatku yang berpakaian pengantin serba putih.

"Dek Indri..."

***


"Mas Riko..." bisiknya, "can... cantik banget..." ucapnya dengan canggung."

Aku menarik tangan Indri dan membawanya masuk ke ruanganku. Sampai di dalam Indri langsung memelukku, ia memeluk rapat tubuhku begitu lama, wajahnya terbenam di bahuku. Aku balas memeluknya dan Indri semakin rapat memelukku sampai kurasakan tubuhnya bergetar dan suara Indri yang terisak-isak.

"Maafin aku mas Riko... maafin aku yang dulu." katanya sambil menyembunyikan wajahnya di pelukanku.

Kuangkat wajahnya bertatapan denganku dan kuhapus air matanya.

"Udah dek, lupain masa lalu, toh semua udah berlalu, udah selesai, sekarang kan kamu kan juga mau membuka lembaran baru." kataku.

Indri mengangguk-angguk sambil berusaha tersenyum kembali.

"Hehehe... iya... Menurut kamu gimana? Aku cocok nggak sama dia?" katanya sambil malu-malu.

"Kenapa nggak? Kamu mungkin belum tau aja apa aja aset kekayaan calon suami mu itu, soalnya dia orangnya merendah banget. Aku kenal betul dengan dirinya. Dia lelaki mapan dan kaya koq, kamu kan selalu punya impian ingin lelaki yang seperti itu?" kataku.

"Nggak juga mas, sekarang yang penting aku butuh orang yang punya cinta dan kasih sayang untukku dan nggak akan pernah meninggalkanku." kata Indri.

"Bagus dek kalau gitu, mas mu itu orangnya baik, aku kenal betul dengannya yang penting kalian sama-sama menjaga kesetiaan." kataku.

"Iya mas Riko, aku tau kamu dekat betul sama dia dulu." kata Indri.

"Iya, aku tau dia luar dalam dek... sstt... tenang aja soal keperkasaan, dijamin udah nggak diragukan lagi." kataku berbisik.

"Iiiih, koq kamu tau sih?" tanya Indri.

"Hehehehe, pokoknya aku tau aja deh." kataku.

Indri kesengsem malu memandangku, entah apa yang sedang dibayangkannya, lalu ia tertawa cekikikan. Lalu ia kembali membaringkan kepalanya di bahuku.

"Mas boleh aku minta satu permintaan terakhir?"

"Apa itu?"

"Boleh aku cium kamu sekali ini aja?" katanya.

Aku kaget mendengar permintaannya yang aneh, tapi kupikir apa salahnya kalau hanya sebuah ciuman. Ciuman itu kan penyampaian sebuah perasaan secara universal tanpa perlu banyak berkata-kata.

Aku mengangguk dan tersenyum.

Indri mengalungkan tangannya di bahuku, menarik wajahku, kami pun saling mendekat dengan perlahan. Aku merasa agak canggung karena toket kami bertumpukan, apalagi toketku tidak kalah besar dari punya Indri jadi leherku harus lebih maju supaya bisa menggapai Indri.

Ketika bibir kami bertemu, tiba-tiba sesuatu bergejolak di dadaku.

Indri belum pernah menciumku seperti itu bahkan seumur pernikahan kami. Kali ini ciumannya terasa begitu tulus dan ada makna yang sederhana namun terasa dalam pada kecupan hangat ini.

Banci TerminalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang