19 - Kebutuhan Dasar

5.4K 103 69
                                        

Suatu hari aku mengintip Rosa sedang menyuntik dirinya sendiri, kupikir ia kecanduan obat-obatan terlarang, tapi suntikan itu sepertinya bukan obat terlarang karena ia tidak terlihat teler sama sekali.

Pagi itu aku berkaca melihat rupaku sendiri, tidak terasa rambutku sudah tumbuh sampai sebahu, mami Lulu memang selalu rutin memberikan perawatan untuk memanjangkan rambut, mulai dari shampo khusus sampai perawatan rutin creambath/hairmask, tidak ketinggalan vitamin rambut dan obat minum.

"Eh Rik, udah saatnya dosis obat kecantikan lu ditambah, sekarang lu bakal gue suntik setiap seminggu dua kali dengan ini." kata Rosa sambil memperlihatkan satu paket cairan dengan botol kecil-kecil berderet.

Aku memperhatikan paket yang isinya mirip dengan yang Rosa suntikkan pada dirinya sendiri, tapi aku tidak banyak bertanya. Sejujurnya juga aku takut disuntik, dulu waktu SD ada imunisasi aja aku menjerit-jerit.

"Eeh... Ros... tunggu dulu ini apaan?" tanyaku.

"Udah lu percaya aja sama gue, ini cuma vitamin koq, biar lu tambah cantik. Ini bukan obat-obatan terlarang, ga bakal bikin lu teler." kata Rosa.

"Eh, tunggu Ros... emangnya lu bisa nyuntik?"

"Udah, percaya aja sama gue." kata Rosa.

Pagi itu Rosa memberikan padaku suntikan pertamaku dan mencatatnya di kalender yang ada di dinding.

* * *

Untuk menjaga kesehatan tubuh aku hanya mangkal 4 hari saja dalam seminggu, kadang kuselang-seling 1 malam kerja 1 malam istirahat, atau kalau aku sedang mood aku 4 hari berturut-turut dan istirahat 3 malam berturut-turut. Sebulan sekali aku check up kesehatan ke sebuah klinik yang direkomendasikan oleh Rosa.

Memasuki bulan keenam, aku tetap rutin dengan perawatan pil kecantikan dan suntikan misterius dari Rosa. Secara ajaib aku memang seperti tersugesti merasa diriku semakin cantik, ada sesuatu yang aneh dalam diriku yang membuatku semakin merasa wanita. Selalu ada keinginan untuk merawat diri, tampil cantik, aku semakin sering memperhatikan penampilannya. Secara fisik yang kurasakan selain tubuh yang cepat lelah, panas tubuh yang misterius tanpa keluar keringat, pusing dan sakit perut tapi sangat jarang, dan pikiran yang kadang mood swing. Rasa gatal berkenyut-kenyut di dadaku semakin sering kurasakan, terutama di malam hari.

* * *

Suatu malam aku terbangun dalam kondisi kamar yang masih gelap gulita, hanya bisa melihat samar bayang-bayang dalam kegelapan kamar tanpa pencahayaan. Tiba-tiba malam itu birahiku sedang memuncak, mungkin karena kecanduan seks tubuhku jadi lebih sering menagih kenikmatan bercinta.

Malam itu aku dan Rosa kebetulan sama-sama lagi tidur telanjang, kami memang terbiasa tidur telanjang apalagi ketika cuaca panas. Akhirnya kuajak Rosa bercumbu denganku, aku hanya memancing-mancing Rosa dengan ciuman, ia terbangun dan ia langsung mengerti apa yang kuinginkan.

Untungnya ada Rosa dan kami selalu saling setia melayani satu sama lain bergantian kapan saja kami saling membutuhkan. Sepertinya inilah yang secara harfiah disebut "that's what friends are for". Ia selalu mau melayaniku untuk mencapai puncak kenikmatanku, begitu pula sebaliknya.

Kami pun lanjut making out cium-ciuman, kuminta Rosa mencium bibir dan leherku, sambil saling remas-remasan penis. Rosa meremas milikku dan aku balas meremas miliknya, kami saling mengurut sampai sama-sama tegang bukan main. Penis Rosa sudah terasa keras, panjang dan berdenyut di tanganku. Sementara aku sendiri sudah tidak tahan, ujung kuncup bagian dadaku gatal bukan main, lalu kutarik Rosa turun menciumi dan mencumbu dadaku. Begitu bibir Rosa mengulum putingku tiba-tiba seketika aku merasakan sensasi rasa lega yang tidak biasa-biasanya, tubuhku geli-geli gelinyangan nikmat lebih dari biasanya.

Banci TerminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang