Beberapa saat sebelum sebuah kejadian di rumah Rika...
"Mbak Indri, kenalin mereka berdua ini Kolor dan Pelor, ini anak buah saya yang akan membantu mbak Indri menjalankan rencana mbak." kata Bintang.
"Kolor... Pelor...??" Indri nampak bingung sambil memperhatikan kedua anak muda bertampang beler, nampak kedua anak muda itu seperti keterbelakangan mental.
"Ya, gitu deh, mereka anak kembar yang ga jelas siapa orang tuanya, pokoknya udah dikasi nama panggilan gitu sama bapakku." balas Bintang.
Konon katanya ada wanita gila yang menggembel di pinggir jalan, wanita itu diperkosa sampai hamil entah oleh siapa dan anak yang brojol ditinggal begitu saja di pinggir tempat sampah, kedua anak itu ditemukan oleh Raden Kejang dalam keadaan terbungkus celana kolor yang ukuran oversized, kedua anak kembar itu lalu dibesarkan oleh Raden Kejang.
"Lah... terus... lu kagak ikut?" tanya Indri.
"Oh, saya... hm... anu... bapak saya kan lagi sakit, jadi... hm... saya harus... ya... begitulah... mbak tau kan..." Bintang mengarang alasan.
"Aaaahh, sudah!! sudah!!, ya oke, saya yang akan pergi sama mereka berdua." kata Indri.
Mereka bertiga pun berangkat menyatroni rumah mas Andra tempat di mana Rika tinggal. Tengah malam begitu sunyi dan sepi, di kompleks perumahan baru itu, petugas keamanan yang berjaga belum bisa mengcover seluruh area perumahan yang masih tergolong sangat sepi. Apalagi kompleks elit, mana ada siskamling, kenal sama tetangga aja kagak.
"Ini rencana gampang, rumahnya kan udah gelap, mereka semua pasti udah tidur. Culik anaknya, terus bakar rumahnya." kata Indri kepada Kolor dan Pelor.
Jerigen minyak sudah disiapkan, rencananya mereka akan membakar dari sisi dapur. Mereka pun berhasil masuk dari belakang rumah.
Namun...
"Eh!! Siapa kalian!!?? Astaga...!!! MAAALLLIIIINNGG!!!"
Mereka bertiga pun terkejut, tiba-tiba lampu dapur menyala terang benderang.
"Tangkap dia!" teriak Indri.
PRANNNGGGG...!!! suara gelas jatuh.
"Kyaaaa!!!" teriakan Rika.
* * *
Ketiga orang itu tidak menyangka kalau ternyata Rika yang bangun tengah malam.
"Huuh... kenapa harus ada yang bangun sih tengah malam." gerutu Indri.
Rika panik dan langsung dibekap oleh Kolor dan Pelor, Rika tidak dapat mengenali ketiga preman yang membobol masuk ke rumahnya tersebut karena mereka semua memakai topeng.
Mas Andra pun bangun dan melihat keadaan rumahnya yang sudah kacau balau.
"HEI!! SIAPA KALIAN!!?? LEPASKAN DIA!!" seru mas Andra.
"Hajar lelaki itu!!" seru Indri di balik topengnya.
Kolor pun maju dan mengeluarkan ilmu silatnya.
Mas Andra berusaha melawan, walaupun tubuhnya lebih gagah dan kekar tetapi tetap saja ia jadi bulan-bulanan ilmu silat si Kolor. Kolor jauh lebih lincah dan cekatan dengan ilmu silatnya.
Pukulan-pukulan dari tangan berotot mas Andra lewat bagaikan lalat, sementara pukulan si Kolor satu persatu mendarat dengan sukses di tubuh dan wajah mas Andra. Berulang kali mas Andra ditoyor jurus-jurus silat sampai leleh sempoyongan dan akhirnya babak belur.
Indri akhirnya berhasil mengambil Eri di kamarnya. Eri sudah menggigil ketakutan, apalagi melihat mas Andra sudah terkapar sempoyongan bonyok babak belur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Banci Terminal
Ficção GeralPERINGATAN: BACAAN KHUSUS 21++ Mengandung unsur LGBT, Transvestisme, Transgender, Transexual, Bigender, Genderqueer. * * * * * * Riko Ivanes memiliki seorang istri yang sangat cantik bernama Indri Arianti, mereka dikaruniai seorang anak lelaki berna...
