"Oke... ya udah." kata lelaki itu.
Rosa menarik lelaki itu turun dan mengajaknya masuk ke dalam warung.
Kulihat lelaki itu tidak jelek juga, lumayan ganteng lah, yah tampang rata-rata. Aku heran, ternyata selain keasyikan bersama wanita normal, bermain bersama transvestis jadi sebuah sensasi tersendiri bagi kaum adam yang sebenarnya memiliki orientasi seksual yang straight.
"Minum dulu ya mas?" kata Rosa.
"Hm, ya boleh." kata lelaki itu.
"Minum apa mas? Susu?" tanya Rosa.
Lelaki itu memperhatikan menu minuman yang ada di dinding warung bang Jek.
"Hm, itu aja deh." katanya sambil menunjuk menu. Lelaki itu memesan sebuah jamu racikan anggur murah lokal AntiSari campur jamu Pasak Bumi Jembut Bima TL produksi PT. Sudi Timbul.
Sambil minum-minum, penyelesaian transaksi pun berlanjut, Rosa langsung minta cash on hand, lelaki itu mengeluarkan lembar merah kulirik ada sekitar delapan lembar dan lembaran birunya yang tidak dapat kuhitung.
"Ini semalam suntuk ya, full." kata lelaki itu.
"Iya, pokoknya satu malam full sampai lutut lu kopong. Lu, gue, sama temen gue yang itu." kata Rosa sambil menunjuk ke arahku.
Lelaki itu pun lantas menyerahkan uang tersebut dan semua uang itu langsung dititip ke bang Jek.
"Jek, kamar yang di lantai 2 itu." kata Rosa.
Bang Jek menyerahkan kuncinya kepada Rosa, dan Rosa pun menarik lelaki itu serta menyuruh diriku mengikutinya. Rosa menyalakan lampu kamar yang hanya sebuah penerangan temaram dari lampu meja samping kasur model ranjang yang ukuran lebarnya hanya 160cm. Mending lah daripada kamar di bawah yang cuma bilik dan matras kapuk. Warung lain malah ada yang lebih parah, cuma sediakan tikar dan matras tipis. Angin dari kipas meja cukup untuk menyejukkan ruangan di lantai 2 tersebut.
"Oke, ga usah lama-lama, Rika, ini mas Roy... mas Roy... ini Rika... oke." Rosa memperkenalkan kami dengan cepat tanpa basa basi, namanya juga mau menuntaskan sebatas urusan birahi ga ada urusan sama kenal-kenalan.
Aku masih terdiam saja, mengatur nafas agar tidak terlihat gugup. Walaupun sudah pernah diperkosa sampai tiga orang, bercinta khilaf dengan Rosa, melayani Oskar waktu dilepas sendiri tapi tetap saja ketika berhadapan dengan orang baru aku kembali gugup.
Tiba-tiba Rosa dan mas Roy sudah naik ke kasur, saling melepas setengah pakaian mereka dan langsung bercumbu, mas Roy nampak telanjang dada, terlihatlah tubuhnya yang nampak kekar walau tidak begitu berotot gembung-gembung lebay seperti Tagor (duh lagi-lagi selalu ingat Tagor). Bibir mereka beradu cipak cipok bersuara decakan-decakan, Rosa gerak cepat dengan meraba bagian intim lelaki itu yang nampak membengkak dari balik celananya, terlihat besar sekali menggembung. Waduh, baru dilihat dari luar aja udah segitu besar, gimana kalau dibuka.
Rosa memberi isyarat agar aku join ke permainan, aku pun mendekat dan ikut naik ke kasur, springbed murahan itu berbunyi berdenyit saat kami bertiga berada di atasnya. Aku tahu ini istilahnya 'seks threesome', seks keroyokan dua lawan satu.
Meskipun aku bahkan sudah pernah diperkosa tiga orang sekaligus, tapi tetap saja ini seperti pengalaman threesome pertamaku. Tapi aku mengikuti instingku saja, aku ikut meraba mas Roy dari belakang, kuarahkan tanganku menyelip ke tengah-tengah ikut meraba dada cowok keras berlapis otot itu dan bagian intim lelaki itu yang masih terbungkus celana dalamnya, sambil menciumi leher belakang dan bahunya. Tubuh lelaki itu nampak kencang sepertinya rajin berolahraga, mungkin rajin fitness atau gym, kulitnya yang kecoklatan terasa kasar dan tebal namun cukup terawat untuk ukuran cowok dan yang penting badannya tidak bau ketek, bau-bau parfum maskulin cowok aroma yang netral.
KAMU SEDANG MEMBACA
Banci Terminal
General FictionPERINGATAN: BACAAN KHUSUS 21++ Mengandung unsur LGBT, Transvestisme, Transgender, Transexual, Bigender, Genderqueer. * * * * * * Riko Ivanes memiliki seorang istri yang sangat cantik bernama Indri Arianti, mereka dikaruniai seorang anak lelaki berna...
