73 - Pagi Yang Baru

2.7K 51 0
                                        

Pagi hari aku terbangun di pelukan suamiku, kami masih sama-sama telanjang di balik selimut.

Astaga... pagi ini perasaanku mellow bukan main, rasanya pengen nangis tapi bahagia bukan main, ada sesuatu yang bermekaran di dadaku sebuah perasaan yang sangat misterius namun sangat indah.

Sebelum mas Andra bangun, aku yang gantian memeluk dirinya. Kupeluk ia di dadaku, wajahnya tepat di tengah belahan bukit kembarku sambil kubelai rambutnya yang selalu dipotong pendek cepak potongan tentara, ia tidak pernah mau ribet untuk menyisir rambut setiap selesai mandi.

Suami? Seorang lelaki yang menjadi tulang punggung keluarga kecilku. Sekarang aku adalah sang tulang rusuk di keluarga ini. Sekarang takdirku lah untuk mendampingi dirinya. Setia memberikan cinta dan kasih sayangku, memberikan sentuhanku, memberikan kenyamanan padanya di rumah kami. Entah bagaimana, naluri dari mana, tapi aku paham betul semua tanggung jawab itu.

Aku akan berusaha melakukannya agar menjadi yang terbaik untukmu suamiku.

Kulihat mas Andra sedikit menggeliat dan perlahan membuka matanya, sepertinya ia mulai sadar dan bangun dari tidurnya.

"Pagi sayang..." kataku menyapa mas Andra yang terbagun di pelukanku.

"Pagi istriku sayang." mas Andra menyapaku. Ia tersenyum dan mengulet merajuk semakin dalam ke dadaku dan melingkari tangannya balas memelukku lebih erat.

"Mas... aku bahagia memilikimu sebagai suamiku."

"Aku juga bahagia memilikimu Rika."

"Kamu nggak menyesal kan mas?"

"Kenapa aku harus menyesal?"

"Karena aku kan..."

"Kamu kenapa?"

"Aku bukan wanita sempurna..."

"Sssttt... jangan berkata seperti itu... bagiku kamu adalah seorang wanita dan kamu adalah istriku seutuhnya."

"Kenapa kamu mau sama aku mas?"

"Haruskah kita membahas hal ini terus menerus?"

Aku tersenyum sambil menahan sesak tangis haruku.

Dadaku bergetar hebat, rasa mellowku memuncak, perasaanku begitu bahagia sampai ke ujung langit, aku merasa begitu bangga menjadi milik mas Andra seutuhnya. Ia tau betul bagaimana cara menyentuh perasaanku, membuatku merasa begitu berharga.

Kalau aku menangis detik ini mungkin aku bisa menumpahkan tangis bahagiaku sampai air mataku kering.

Sekarang keluarga kecil ini adalah kebahagian duniaku.

"Cium aku Rika."

Aku pun maju dan mencium suamiku dengan sepenuh perasaan hatiku. Kami berciuman begitu lama, sungguh ciuman yang terasa resap, nikmat begitu dalam.

"Mas..."

"Apa sayang?"

"Kamu pengen lagi?" kataku sambil mengedip nakal.

"Hm..."

"Ah, yang di bawah ini nggak bisa bohong nih." kataku sambil mengelus-elus sesuatu yang mengeras di sana.

Aku kembali mencium mas Andra. Ia pun balas memagut dan menjulurkan lidahnya, ia merangsangku lagi pagi ini. Tangannya perlahan kembali meraba dadaku dan... uh... ujung jarinya... nakal memainkan pucuk kenikmatan payudaraku.

"Mmmhhhh..." lagi aku dibuat mendesah dan jadi lah aku kembali terangsang pagi itu. Pagi itu kami kembali bercumbu nafsu. Berisiknya suara bibir kami yang saling bertukar kecupan mesra dan tangan yang saling meraba sampai-sampai selimut kami jatuh ke lantai.

Kami saling bertukar tatapan nakal. Mas Andra memandang tubuhku yang polos telanjang, tidak ada apapun yang menghalangi kulit tubuh kami untuk saling bersentuhan.

Akhirnya tanpa berlama-lama mas Andra langsung tancap gas menggenjot diriku.

"Aaww... maasss..." aku kelojotan karena langsung spontan disodok sedalam mungkin oleh mas Andra begitu ia mempenetrasi diriku.

Awalnya kami hanya genjot-genjot santai, tapi ya sudah barang tentu berlanjut jadi hot and crot sampai sama-sama lemas lagi deh.

Setelah pulih dan kembali mengatur nafas, mas Andra langsung menggendongku gaya bridal dan membawaku mandi bareng.

Di kamar mandi kami masih saja bercanda saling mencolek, tapi kami sama-sama mengakui kalau kami sama-sama lemas jadi kami tidak melakukan macam-macam lagi.

Selesai mandi dan mengeringkan tubuh, aku menarik mas Andra kembali rebahan, aku masih pengen pelukan-pelukan bermanja padahal kami masih sama-sama telanjang.

Rasanya bebas sekali berbuat apapun dengan suami sendiri.

Kami cerita-cerita mengenang masa-masa pertemuan kami dulu. Aku meledek mas Andra mengingatkannya waktu kami kencan pertama kali di club malam di Gang "M" di ibu kota Jakarta. Mas Andra malu bukan main kalau mengingat kejadian saat ia berulang kali salah mengingat namaku.[Chapter 17]

Ya, tapi siapa yang menyangka, sebuah pertemuan membawa kisah hidup kami hingga sekarang kami adalah sepasang suami istri.

Mas Andra memelukku begitu erat, membuat tubuhku tenggelam dalam dekapan hangatnya.

Banci TerminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang