Dua tahun lamanya aku merantau, bapak dan ibu menanyakan kenapa aku tidak pernah pulang, aku sudah seperti kakakku Wulan yang merantau dan tidak pernah kembali. Setiap ditanya aku hanya mengarang-ngarang alasan sibuk dan sebagainya. Walaupun aku rutin bertelepon, video call, dan mengirim uang yang membuat kondisi ekonomi keluargaku di kampung sekarang jauh teramat lebih membaik.
Rumahku bapakku di kampung sekarang semua dindingnya sudah terbuat dari dinding bata dan atap genteng, dan bapak juga sudah membuat dua kamar di rumah. Kulihat sudah ada televisi baru, kipas angin, ibu juga sudah pakai kompor gas jadi tidak perlu ngebul-ngebul kayu bakar lagi. Di kamar juga sekarang sudah pakai kasur ranjang spring bed, tidak lagi kasur kapuk yang keras.
Berkat menabung dari uang yang kuberikan setiap bulan, akhirnya ibu mulai buka usaha warung kecil-kecilan, UD "Dilarangutang" ibu Sutinah. Sementara bapak juga sudah mulai semangat untuk bercocok tanam lagi, semua tanah bapak sudah ditebus dan bahkan bapak udah mampu kalau mau beli tanah lagi untuk memperluas kebunnya.
Sayangnya ibu udah nggak mau diajak bercocok tanam, katanya sudah lelah, apalagi anak udah dua. Padahal cangkulnya bapak masih kuat nyangkul dan masih ingin menanam benih.
Kasihan bapak, padahal sekarang ibu jadi kelihatan lebih kinclong bening semenjak perawatan dari kosmetik dan skinker yang sering kukirimkan atau yang kadang ia beli sendiri di online shop Soppie yang punya logo oren-oren yang suka ada promo sale 11 12. Sepertinya aku harus berbuat sesuatu mengenai hal ini.
Omong-omong soal anakku, sekarang ia sudah masuk kelas dua SD, ia semakin bosan dan sering mengancam ingin pergi kabur dari kampung, aku sudah sering membujuknya agar bersabar.
Sebenarnya aku sudah sangat merindukan anakku, sebentar lagi libur sekolahnya dan aku ingin mengajaknya berlibur bersamaku. Tetapi sekarang aku sedang mengatur cara agar dapat menjemput Eri. Dan masalahku bukan berhenti sampai disitu saja, aku juga perlu mencari cara untuk menghadapi bapak dan ibuku dengan keadaan dan rupaku yang sekarang. Apa bapak dan ibu nggak bakal pingsan kalau melihat tubuh dan rupaku yang sekarang?
* * *
Suatu hari seperti biasa aku bertelepon VC dengan anakku.
Anakku sudah protes keras kalau ia tidak mau lagi melanjutkan sekolah di kampung, ia sudah merengek-rengek minta keluar dari kampung, ia bilang kalau ia bosan di rumah dan merasa tidak dapat bergaul dengan teman-teman sebaya di kampungnya, ia berkata kalau ia sering tertekan dengan kehidupan sekolah dan kehidupan sehari-harinya.
Tetapi selain masalah tersebut, ada suatu masalah yang membuatku mulai cemas soal anakku, bermula dari saat ia mulai bertanya hal yang aneh-aneh, ia lagi dekat dengan anak tetangga yang bernama Nadia.
"Pah... Eri punya temen baru, ada anak tetangga cantik deh... Eri suka..." kata Eri.
Anakku masih kecil udah suka-sukaan sama cewek, pikirku dalam hati. Awalnya aku merasa senang sih, tapi... kemudian... di sinilah masalah itu muncul.
"Pah... Eri boleh nggak panjangin rambut kayak Nadia?" katanya kepadaku.
"Eh!!?? Apa?? Hm, jangan donk Ri, kamu kan ganteng kalau rambut pendek."
"Tapi papa juga rambutnya panjang."
Hmm... duh aku bingung juga.
"Kalau nggak boleh panjangin rambut, boleh nggak pakai kerudung kayak Nadia?"
"Eh?? Apalagi itu... Koq pake kerudung? Eri kan cowok, cowok tuh ganteng kalau pake baju koko sama peci, sayang." kataku.
"Tapi kerudung Nadia lucu pa... bikin Nadia makin kelihatan cantik." kata Eri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Banci Terminal
Ficção GeralPERINGATAN: BACAAN KHUSUS 21++ Mengandung unsur LGBT, Transvestisme, Transgender, Transexual, Bigender, Genderqueer. * * * * * * Riko Ivanes memiliki seorang istri yang sangat cantik bernama Indri Arianti, mereka dikaruniai seorang anak lelaki berna...
