JenSoo
With
JenTop
Short Story
Happy Reading All.......
♡♡♡
Setelah kejahatan Hanbin terbongkar, Jisoo sepenuhnya pindah ke Rumah orang tuanya. Rumah yang Jisoo tempati bersama Hanbin itu adalah Rumah pemberian Jibran dan Dara, dan karena sudah tak merasa ada hak lagi, Theo membawa pergi Jisoo dari Rumah itu. Dan sudah hampir 1 bulan ini, Theo masih belum juga berbicara dengan Jero. Semenjak terakhir dia bilang akan berbicara pada Jero, setelah kejadian di Rumah Hanbin dan Jisoo. Ralat, itu Rumah Hanbin bukan Jisoo. Theo sudah tak sudi lagi menganggap Hanbin sebagai menantunya, karena Theo sudah mengurus perceraian mereka bahkan Jibran juga membantunya. Malu sudah ia mempunyai putra seperti Hanbin. Bahkan Dara juga merasakan hal yang sama seperti Jibran, wanita paruh baya itu tak mau keluar sama sekali.
Jisoo juga sudah bebas, bahkan Bi Inah, Yuni, Stefano dan Jero memilih untuk bekerja di Rumah Theo daripada harus mengikuti Jibran dan Dara. Mereka lebih suka bekerja dengan Jisoo daripada Hanbin. Dan Theo juga mengijinkan mereka untuk bekerja di Rumah besarnya itu.
Saat ini, Jisoo sedang duduk santai di sofa. Ia bebas, tak ada lagi yang menyakiti hatinya bahkan tak ada lagi kata-kata kasar yang ia dengar. Jisoo bisa bernafas lega.
"Sayang?" Jisoo menoleh. Ia melihat Theo yang mendekat, lalu duduk di dekatnya.
"Papa?"
"Maafin Papa, ya? Sudah maksa kamu buat nikah sama Hanbin. Lucas juga udah kasih tahu, kalau selama ini kalian pisah ranjang dan kamu di suruh tidur di lantai beralaskan kasur tipis."
"Jisoo sudah baik-baik saja, kok. Papa gak perlu khawatir lagi." Balas Jisoo sambil tersenyum.
"Jadi… apa Jero yang pertama bagi kamu?" Dengan malu, Jisoo mengangguk.
"Waktu itu… aku ngerasa badan aku panas banget, Pa. Aku juga gak sadar, kalau ternyata Hanbin yang ngejebak aku sama Jero. Pas dia mojokkin Jero, waktu itu juga entah kenapa Jisoo mulai berani ngelawan dia. Jisoo ngerasa, dia gak harus bawa-bawa Jero atau orang lain di masalah Rumah tangga aku sama dia, tapi dia malah semakin bikin Jero salah di mata kalian semua." Ucap Jisoo panjang lebar.
"Sayang, kamu tahu kalau Papa sayang banget sama kamu," Jisoo mengangguk, "dan juga Papa akan ngelakuin apapun buat kamu asal kamu bahagia dan juga Papa akan ngelakuin apapun buat nebus kesalahan Papa sama kamu."
"Gak perlu ngerasa bersalah kok, Pa! Jisoo baik-baik saja sekarang."
Theo hanya tersenyum, lantas menyuruh Pelayan untuk memanggil Jero. Menit kemudian, Jero baru datang dari belakang. Si Bodyguard itu tengah mengawasi Rumah sang majikan, takut-takut jika ada yang berani mengganggu ketenangan sang Majikan.
Jero berdiri di depan Theo dan Jisoo, ia sedikit membungkuk, bersikap hormat pada Theo dan Jisoo.
"Saya sudah bilang akan berbicara denganmu, Jero!" Kata Theo.
"Iya, Tuan."
"Hanbin sudah mendapat hukuman dari orang tuanya bahkan Saya juga sudah memukulinya ketika itu, tapi bukan berarti Saya membiarkan kamu bebas, meski ini bukan mutlak kesalahan kamu. Tapi… tetap saja, kamu sudah memperkosa putri kesayangan saya." Kata Theo terdengar tegas.
"Papa!"
Theo berdesis, menyuruh Jisoo untuk diam. Jisoo hanya bisa menekuk bibirnya ke bawah, karena sejujurnya Jisoo tak mempersalahkannya sama sekali. Bagi Jisoo, letak kesalahan itu ada pada Hanbin, karena lelaki itu yang sudah menjebak Jisoo dan Jero.
"Saya siap menerima hukuman dari Tuan Besar." Kata Jero yang terdengar tegas.
"Oh… apa saya tidak salah dengar?" Theo mencoba memastikan.
"Tentu, Tuan Besar. Saya siap menerima hukuman dari Tuan Besar, apapun itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Short Story | JenSoo
Fiksi PenggemarTempat penampungan Os, 2S, 3S dan Short story sebagainya.... JenSoo Always..... JenTop Empire With JiBot
