Di Kelas Lagi

23 5 0
                                    

Loker Emma memuntahkan kertas-kertas saat ia membukanya. Emma berjongkok untuk memungut beberapa amplop bergambar hati, surat-surat misterius dan kertas ucapan manis lainnya. Ia tak tahu siapa yang mengirim ini semua sebelum membaca pengirim yang ditulis di sana. Tentu saja, pemandangan itu mengundang tatapan dari orang-orang yang lewat di lorong loker. Surat-surat itu bisa ada di dalam sana pasti dijejalkan melalui sela-sela ventilasi yang berada di bagian atas tengah loker.

"Aku bantu, ya." Emma menoleh, Edward sudah berjongkok di sebelahnya untuk membereskan itu semua.

Emma mengerutkan dahi, "Tidak usah repot-repot."

"Tidak apa-apa," ucap Edward lembut. Mereka berdiri bersamaan. Edward jauh lebih tinggi dari yang Emma kira.

"Thanks," kata Emma mengambil sisa kertas di tangan Edward yang tak kunjung bergerak.

Sebelum memasukkan kertas itu, Emma memeriksa sekali lagi isi lokernya. Untungnya, tidak ada yang hilang atau dicuri.

Semoga, batin Emma.

Edward masih berdiri di sana, Emma meliriknya. "Ya?"

"Aku ingin bertanya sesuatu," ujar Edward dan berdeham.

"Boleh," jawab Emma dan menunggu.

Edward tampak gelisah dan ia berkata, "Aku tidak bisa melanjutkan ini."

"Ini apa?"

Edward menunduk, bibir bawahnya bergerak khawatir. "Kita tidak bisa melanjutkannya, Emma. Persahabatanmu jadi hancur gara-gara aku."

Emma terpaku, tak mengerti. "Maksudmu..."

"Ya," potong Edward. Tampak ingin segera menyelesaikan hal ini. "Kau tahu... Katherine."

Emma mengangkat alisnya sambil menatap sepatunya. "Syukurlah kalau kau sudah tahu." Suaranya terdengar begitu lega, Edward kecewa saat mengetahuinya. Hal itu membuatnya tersinggung.

"Aku lebih baik fokus sekolah saja daripada harus jatuh cinta dengan seseorang. Ujung-ujungnya juga tidak dapat-dapat, 'kan?" sindirnya.

Emma menatap Edward dengan cepat.  "Bagus! Buang-buang waktu, 'kan?" balas Emma sinis. Ia tahu, tidak seharusnya membuat tampang keras seperti itu. Tapi, Edward sudah membuat kesabarannya habis. Ia boleh saja mencintainya, tapi tidak terus playing victim seperti ini.

Edward terdiam, seharusnya ia pun berharap bisa menarik ucapannya. "Aku tidak menyukai Katherine, kok." Sebetulnya, Emma tidak memerlukan ucapan yang satu itu. Ia tidak peduli.  "Kenapa kau tidak memberitahuku dari dulu?" tanya Edward menuntut.

Emma sedikit membuka mulutnya, lalu menggeleng pelan. "Memangnya kenapa?"

Lelaki jangkung dihadapannya mengusap hidung dengan gusar. "Kalau dari dulu kau bilang 'kan hubunganmu dengan Katherine tidak akan hancur seperti ini. Dan aku harus minta maaf dengan gadis itu secepatnya."

Emma sudah hendak bertanya mengapa Edward harus minta maaf kepada Katherine jika selama ini ia menyukai Emma seorang? Akan rugikah ia? Walau begitu, faktanya Edward memang orang yang sangat narsis. Edward tidak mau kehilangan seorang penggemar. Emma tahu itu.

Emma membuang nafas tepat saat bel berbunyi. Ia sudah tak sanggup lagi melanjutkan obrolan yang tak penting bagi hidupnya ini.

"Aku ada kelas," kata Emma mengunci loker.

"Bareng saja," imbuh Edward melangkah di sebelah Emma.

"Tidak apa-apa aku bisa sendiri," lanjut Emma melangkah lebih cepat.

"Barengan saja," paksa Edward, ia hendak meraih tangan Emma namun ditepis dengan sedikit kasar. Edward melebarkan matanya. "Kau ini kenapa, sih?" Bentakan itu memancing Emma untuk lebih tegas lagi.

HAUTE VALUER [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang