Happy reading_
•••
Jika tidak bisa membahagiakan hati wanita, setidaknya jangan menorehkan luka.
—Alayya Nalani
•••
Saat jam istirahat niat hati ingin ke perpustakaan mencari Tirta karena Jovan tadi ada urusan, tapi langkahnya terhenti melihat gadis termenung di depan perpustakaan sesekali dia menggunakan tisu untuk mengelap bekas air matanya.
Alayya langsung duduk di sampingnya, tanpa banyak tanya. Alayya hanya menemani, tak ingin menganggu.
Cukup lama dalam kebungkaman, akhirnya Alayya jenuh dia mengembuskan napas berat. "Kamu kenapa, Na?"
Bukannya menjawab tangis Chana malah semakin menjadi, dia menyandarkan kepala di bahu Alayya.
"Aku habis putus sama Johan, Alayya ...," ujarnya setengah histeris, masih belum menyangka jika hubungan yang mereka bangun sejak SMP harus kandas di tengah jalan.
Johan?
Alayya sampai tidak mempercayainya, seorang Johan yang tidak bisa menghargai perempuan berpacaran dengan gadis polos seperti Chana? Impossible. Bak iblis yang disandingkan dengan malaikat.
Chana tahu apa yang dipikiran Alayya saat ini. "Sebenarnya Johan baik kok, Al. Mungkin kamu terlalu polos untuk tahu kebaikan Johan."
Ragu-ragu Chana mulai bercerita, tapi melihat respon positif Alayya membuat keraguan Chana sedikit demi sedikit tersingkirkan.
"Panggil aja Aya, Na." Chana mengangguk, dia menyeruput boba rasa taro kemudian meletakkannya kembali.
Lha masih sempet-sempetnya minum terus lanjut nangis lagi, batin Alayya seraya meneguk ludah, heran dengan teman sekelasnya.
"Kalau baik ngapain diputusin?" tanya Alayya, entah mengapa mereka bisa cepat sekali akrab. "Dia selingkuh."
"Shit! Itu mah nggak baik, Na." Gadis itu menepuk jidatnya sendiri, jadi di sini sebenarnya siapa yang polos.
Di tengah perbincangan mereka, seorang laki-laki datang menghampiri keduanya. Rahang yang tegas ditambah postur tubuh bak pangeran kerajaan membuat siapa saja langsung terpanah kecuali Alayya yang sejak awal sudah mencari gara-gara.
"Chana, gue bisa jelasin," bujuk Johan sembari mengatur napas yang tak beraturan, dia tidak menganggap keberadaan Alayya.
"Nggak!" tolak Chana tegas, dia memalingkan badan dari hadapan Johan.
"Gue sayang sama lo, Na. Gue sama Killa just friend, lo tahu kan gue sama dia sekelas." Johan berusaha memberikan penjelasan, tapi sayang sepertinya nasi sudah mencari bubur. Chana tidak mempedulikan penjelasan lagi.
"Terus, gue harus bilang wow gitu?" desis Alayya memiringkan senyum, udah tahu salah bukannya minta maaf malah ngeles.
"Gue nemenin dia beli buku."
"Lebih baik kamu pergi, Kak Jo. Jangan temui Chana lagi!" teriaknya kemudian beranjak meninggalkan keduanya.
Saat ingin menyusul Chana, Alayya menghentikan. "Kasih kesempatan, dia perlu waktu buat sendiri."
Nasihat Alayya tidak di gubrisnya, justru dia mengangkat kerah kemeja putih yang terbalut vest berwarna biru muda milik Alayya. Menjadikan gadis itu sedikit berjinjit.
"Lo nggak usah ikut campur, bangsat!" bentak Johan di depan wajah Alayya, gadis itu berontak. Dia berhasil mengalihkan perhatian Johan dengan menginjak sepatunya kemudian menendang alat vital-nya. "Fuck!"
KAMU SEDANG MEMBACA
RECAKA [END]
Fiksi Remaja"Syarat hidup cuma satu, Ay." -Aegir Bhairavi. "Apa, Bang?" -Alayya Nalani. "Bernafas." -Aegir Bhairavi. Mereka kakak beradik yang tidak pernah tahu keberadaan orang tua dan dijadikan mesin penghasil uang pamannya. Melodi lautan dan ketenangan langi...
![RECAKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/302848331-64-k422298.jpg)