059 - Tidak Disengaja

249 31 4
                                        

Happy reading_

•••

Sekuat apapun kamu menghindari, sejauh apapun olehmu pergi. Jika semesta menghendaki pertemuan pasti akan terjadi.
Recaka

•••


"Kak, aku ke supermarket dekat sini, ya," pamit Alayya kepada Tirta yang sedang membaca buku di ruang tamu. "Supermarket depan?"

Gadis yang menenteng sendal itu hanya mengangguk. "Mau aku anterin?"

"Nggak usah, Kak. Aya bisa kok sendiri." Dia hanya ingin pergi sendiri, tanpa harus merepotkan orang lain. "Nggak papa."

"Atau sama gue?" tawar Jovan yang baru saja kembali dari latihan, bahkan helm dan jaket pun masih belum dilepas.

"Aya pengen sendiri, nggak papa, 'kan?" Wajahnya menatap kedua saudara itu bergantian, seakan menjelaskan maksud ingin mandiri. Alayya tidak bisa selalu merepotkan orang lain bukan?

Akhirnya Tirta menghela napas sebelum mengizinkan Alayya pergi sembari berpesan. "Hati-hati, kalau ada apa-apa jangan lupa kasih kabar."

Ia mengangkat jempol ke udara pertanda ia paham pada pesan Tirta.

Bukan niatan mereka ingin mengekang atau posesif. Namun, kondisi Alayya sekarang yang membuat mereka takut. Takut nggak siap ketemu orang dengan salah satu mata yang masih memakai kasa perban, mereka takut ada yang melukai hatinya.

"Yakin nggak papa, Kak?" Jovan masih belum yakin, Tirta menggeleng. "Dia keras kepala."

Di sisi lain Alayya mengabaikan beberapa tatapan aneh dari setiap orang yang bertemu dengannya, karena baginya sudah biasa mendapat tatapan seperti itu. Toh, dia sudah pakai baju dan tidak berbuat kesalahan kenapa harus malu.

Setelah mengambil beberapa snack, susu kotak rasa melon, air mineral, dan mie instan Alayya membayarnya di kasir, cukup kaget dengan sepasang kekasih yang masih mengenakan putih abu-abu dari kaca pintu supermarket yang transparan.

"Kok kayak kenal, ya?" pikir Alayya menyipitkan mata masih memperhatikan mereka yang asyik bercanda, cukup penasaran. "Maaf, Kak. Ada uang kecil?"

Suara kasir membuatnya tersadar, Alayya menggeleng sambil menunggu pengembalian.

"Ini, Kak. Belanjaannya."

"Makasih." Setelah mengambil belanjaannya Alayya berjalan keluar seraya mengambil susu kotak rasa melon. "Aduh mana sih."

"Nah ... arhrgh ...!"

Alayya terduduk di lantai supermarket pintu keluar, gegara tersandung kaki seseorang. Ia mengangkat pandangannya.

"Upz, sakit, ya sini gue bantuin!" seru seorang laki-laki malah tertawa renyah dengan pandangan mata yang mengejek, begitu juga dengan gadis di sampingnya. "Lemah banget jadi cewek."

"Lha kamu nggak tahu sayang, dia kan emang dasarnya lemah!" Aegir tersenyum miring.

Ya, Aegir dan Serena yang sejak tadi mengobrol di teras supermarket. Begitu tau Alayya di sini, Aegir punya inisiatif untuk bermain-main. Cukup lama semenjak hari itu dia tak bertemu dengannya.

"Ada yang bisa saya bantu?" Salah satu pembeli yang kebetulan lewat mengulurkan tangan, seakan mengisyaratkan hendak memberinya bantuan. "Eh, nggak papa, Kak. Makasih, ya."

Alayya berdiri sendiri dengan senyum merekah kepadanya, selepas orang itu pergi dia menatap tajam abangnya.

"Manis banget, Neng. Senyumannya udah ngalahin gula," sindir Aegir memiliki niat terselubung. "Ah, gue tau satu hal lagi sekarang. Selain lemah ternyata lo murahan juga!"

RECAKA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang