Happy reading_
•••
Jangan mempermainkan kehormatan perempuan, karena kamu sendiri lahir dari rahim seorang perempuan.
—Alayya Nalani
•••
Setelah mencari makan di luar, Aegir kedatangan tamu seorang remaja yang sepantaran dengannya.
"Nih uangnya, sisanya nanti," ujarnya seraya mengedipkan salah satu mata, kemudian masuk rumah Aegir. "Wokey, good job Ray!"
"Aman, 'kan?" tanya Ray memastikan. "Aman, orang jauh dari pemukiman gini."
"Gue pegang janji lo." Ray masuk tanpa suara.
Begitu tau tamunya masuk Aegir segera mengunci pintu utama dari luar, dia di teras sendiri sedang Alayya di dalam.
Laki-laki dengan kalung khas tersebut merogoh pemantik dari sakunya kemudian menyalakan rokok sebelum menyesapnya.
Di dalam Alayya yang sedang mencuci piring dikejutkan dengan suara derap kaki yang mulai mendekat, dia tidak berani menoleh ke belakang khawatir itu abangnya nanti yang ada malah marah-marah.
Namun, yang paling mengejutkan adalah sebuah pelukan dari belakang. "Hai, sayang."
Napasnya menderu di lehernya, membuat gadis itu dengan sigap berusaha melepaskan diri. "Kamu siapa!"
Nadanya langsung meninggi begitu melihat orang asing yang masuk tanpa permisi ke rumah apalagi ke dapur.
"Ststst, tenanglah, cantik. Namaku Ray. Malam ini kau akan kujadikan ratu. Aku tak menduga kau sangat cantik," pujinya masih mengeratkan tangan yang melingkar di pinggang Alayya.
Jelas saja Alayya sangat risih bukan hanya sekali atau dua kali, berulang kali dia memberontak. Namun, tenaganya masih kalah jauh dengan seorang cowok asing yang memperkenalkan diri sebagai Ray.
"Lepasin!"
"Ah, tidak. Mengapa aku harus melepaskan bidadari sepertimu?" Alayya menyikut perut Ray dengan keras, membuat cowok itu lengah dan Alayya berhasil meloloskan diri.
Awalnya dia berlari ke ruang tamu mencari pertolongan, tapi naas pintunya terkunci dari luar.
"Abang di mana? Apa Abang di luar, tolong!"
"Abang ada orang asing di sini!"
"Abang!"
Alayya gedor-gedor pintu belum tahu jika Aegir memang sudah kembali beberapa menit yang lalu.
Bulu kuduknya langsung merinding kala mendengar derap langkah. "Hai, kamu mau ke mana? Jangan biarkan uangku hangus sia-sia."
Ray berhasil menangkapnya kembali, dia mengunci tubuh Alayya yang sudah membentur pintu utama.
"Mari jadikan malam ini menjadi malam yang indah," tuturnya menatap wajah Alayya begitu lekat, dia mengunci tangan Alayya ke belakang. Membuat gadis itu tak kuasa untuk mengelak di sisi lain wajah Ray semakin mendekat hingga tersisa beberapa inchi.
Byuh!
Refleks Alayya meludahi wajah cowok dengan rambut berwarna pirang tersebut.
"Bangsat!" umpatnya mengusap wajah dengan kasar.
"Lebih baik gue mati daripada menuruti apa yang lo mau!" bentak Alayya dengan menginjak kaki Ray dan menendang aset berharganya.
"LO!" hardiknya menarik rambut Alayya yang hendak berlari, begitu dapat dia membenturkannya ke tembok. "Jangan macam-macam, jangan nolak apa yang gue mau!"
KAMU SEDANG MEMBACA
RECAKA [END]
Fiksi Remaja"Syarat hidup cuma satu, Ay." -Aegir Bhairavi. "Apa, Bang?" -Alayya Nalani. "Bernafas." -Aegir Bhairavi. Mereka kakak beradik yang tidak pernah tahu keberadaan orang tua dan dijadikan mesin penghasil uang pamannya. Melodi lautan dan ketenangan langi...
![RECAKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/302848331-64-k422298.jpg)