Happy reading_
•••
Bertemanlah sama siapapun, tapi jika memilih teman dekat atau sahabat jangan ngasal.
—Recaka
•••
D
ia menyandarkan diri di kursi empuk berwarna biru tua sembari memejamkan mata sejenak, hari ini ternyata cukup melelahkan meski objeknya tidak melawan sama sekali, tetap saja luka di tangannya memberikan efek.
Aegir melihat tangannya yang sudah dibalut kasa steril, tadi selepas dari cafe Serena mengajaknya ke rumah sakit terdekat sebelum mengantar gadis itu pulang.
"Lo habis bikin masalah apa lagi, njir! Heran gue tiap kali ketemu lo bawaannya ada masalah mulu!" umpat Johan kemudian duduk di depan Aegir, mereka sedang berada di tongkrongan. Tidak banyak orang, hanya beberapa itu pun sibuk dengan urusannya masing-masing. "Gimana nggak stress, sejak ketemu Alayya hidup gue berantakan. Mana tuh anak bikin gue emosi!"
Semenjak Aegir kembali, circle pertemanannya berubah. Bahkan ia sangat asing dengan asbara full team dan kebalikannya sangat akrab dengan Johan.
Meski di rumah kayak orang asing, percayalah kedua remaja itu sangat akrab ketika di luar. Bahkan, Johan sendiri yang mengajak Aegir bergabung bersama mereka.
"Ckckck, hidup lo cuman tentang Alayya? Bosen gue dengernya," sahutnya geleng-geleng kepala. "Lo apain lagi tuh anak?"
"Cuman ngasih dia pelajaran."
"Ha?"
"Kurang ajar sama Serena, masa tuh anak sinting nuduh Serena selingkuh ... nggak ngotak emang!" kesalnya mengambil segelas minuman bersoda yang ia pesan beberapa menit yang lalu, Johan terkekeh. "Gila lo!"
"Alayya yang membuat gue gila! Udahlah." Aegir malas membahas tentangnya, sudah cukup gadis itu membuat mood-nya berantakan hari ini. "Tapi ingat, Gir. Apa yang akan lo katakan ke papa?"
"Jatuh dari motor. Toh dia nggak akan tinggal di rumah kita lagi, tadi gue sempet denger pembicaraan dia sama siapa ketua OSIS sok bener itu ...?" tanya Aegir melupakan nama seseorang. "Tirta?"
Cukup senang akhirnya Aegir melupakan nama yang dulu mungkin saja sangat akrab dengannya, dari sana Johan mengambil kesimpulan jika ingatan Aegir tidak akan pernah kembali.
Sejak awal dia tidak suka dengan Aegir, tapi begitu melihat perubahan besar dalam diri Aegir dia akan memanfaatkannya.
Aegir mengangguk, membenarkan. "Nah, katanya Alayya akan tinggal di rumah Tirta."
Jawaban Aegir apa adanya, dia masih ada di rumah sakit bersama Serena waktu Tirta membawa Alayya ke rumah sakit. Namun, Aegir tidak menampakkan diri di hadapan mereka.
"Serah lo, Gir. Asal satu, jangan sampai papa tahu kebenaran ini dan masalah lo sering main bareng gue juga jangan sampai bocor!" seru Johan sebelum meninggalkan Aegir sendiri, baginya saudara se-ayahnya memerlukan waktu untuk istirahat. "Beres."
"Oh, ya entar ada balapan. Lo ikut nggak?" Aegir mengangguk. "Lihat entar, kalau gue datang. Gue ikut!"
Di sisi lain entah mengapa pikirannya tidak terlepas dari Alayya, bagaimana perkembangan kondisinya sekarang, apakah dia baik-baik saja, dan apa dia sudah berhenti menangis? Karena saat ia tinggalkan gadis itu menangis tanpa suara, hanya rintihan kecil yang ia dengar.
"Ah, t*lol banget kenapa gue musti mikirin dia!" Sekarang Aegir malah kesal dengan dirinya sendiri. "Jo, gue cabut!"
"Yoi, ati-ati, Bro!"
KAMU SEDANG MEMBACA
RECAKA [END]
Fiksi Remaja"Syarat hidup cuma satu, Ay." -Aegir Bhairavi. "Apa, Bang?" -Alayya Nalani. "Bernafas." -Aegir Bhairavi. Mereka kakak beradik yang tidak pernah tahu keberadaan orang tua dan dijadikan mesin penghasil uang pamannya. Melodi lautan dan ketenangan langi...
![RECAKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/302848331-64-k422298.jpg)