Happy reading_
•••
Bukan tentang usia, dewasa juga bisa diukur saat menghadapi masalah.
—Asbara full team
•••
Baik Valdrin maupun Nuha berkendara dengan kecepatan tinggi, sesekali mereka mengobrol dan menertawakan diri mereka masing-masing padahal itu sangat bahaya. Bukan hanya untuk keselamatan diri sendiri, tapi juga pengendara lainnya.
Melihat cara berkendara mereka yang bisa dibilang kebut-kebutan tidak heran jika Alayya juga memiliki gaya berkendara seperti itu, bagaimana tidak Valdrin dan Nuha lha yang mengajari Alayya dari yang awalnya tidak bisa naik motor sampai sering ngebut di jalanan.
"Bocah emang!" Jovan mengikuti mereka, satu hal yang berada di pikirannya saat ini. Bagaimana menghentikan mereka, karena menjadikan motor sebagai pelampiasan diri itu sangat berbahaya.
"Gue pulang dulu, bokap gue sakit!" seru Nuha belok kanan, sedang Valdrin mengangguk dan belok kiri di perempatan.
Begitu sampai di rumahnya Nuha langsung membuka pintu dengan kunci cadangan yang ia bawa, ya tadi dia sudah izin mencari Alayya dan mungkin pulangnya larut malam dan tidak ingin membangunkan anggota keluarga.
Jika kalian berpikir rumah Nuha besar, kalian salah. Rumahnya sederhana, bahkan ukuran ruang tamu Tirta lebih besar daripada rumah Nuha.
Setelah memarkirkan motor di ruang tamu dia ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berakhir merebahkan diri di kasur, tak bisa dipungkiri jika kedua matanya belum mengantuk.
"Gue kecewa sama mereka, tapi gue nggak bisa benci!" seru Nuha melihat pigura yang menggantung di dinding kamar, ya dia sengaja memajang foto asbara full team di sana. Baginya mereka sangat berarti.
"Mana bisa gue benci sama kak Tirta, dia udah banyak bantu perekonomian keluarga gue. Dia udah memberikan pekerjaan sampai gue bisa membiayai sekolah adik-adik gue dan bantu ibu sama bapak." Nuha berganti melihat satu-satunya gadis dalam foto tersebut, dia Alayya. "Bagaimana pun juga gue sayang sama Aya."
Terakhir Nuha melihat Aegir sedikit lama, dia cukup dewasa untuk memikirkan apa yang telah terjadi. Andai, Aegir bisa memilih mungkin dia tidak akan pernah memilih jalan hidup mengalami kehilangan ingatan.
"Waktu itu dia masih sakit, jika pun enggak pasti Aegir nggak akan nyakitin Aya," tutupnya merasa bimbang dengan apa yang terjadi. Mereka sangat baik kepadanya. "Apa tadi gue juga salah, ya? Mukul Aegir brutal sampai kayak gitu."
Nuha memeluk guling kemudian nampak merenung sangat lama. "Besok gue harus minta maaf ke kak Tirta, Aegir, sama Aya."
Terlepas dari siapa yang salah, Nuha menyadari satu hal. Sikapnya juga kelewatan, bahkan untuk Aegir. Bagaimana bisa tadi dia menyerangnya bersama Valdrin sampai babak belur.
*****
Berbeda dengan Jovan yang masih mengikuti Valdrin, mau ke mana cowok itu hingga tibalah ia di sebuah gang buntu.
Valdrin menghentikan motor, dia sedikit berlari kecil kemudian bersimpuh di antara dua gundukan tanah yang di atasnya banyak bunga mawar.
"Pa, hari ini Valdrin kehilangan lagi." Valdrin mengusap batu nisan atas nama Sagara kemudian beralih ke batu nisan atas nama Arini. "Seseorang yang udah Valdrin anggap ayah ternyata nggak sebaik itu, seseorang yang Valdrin anggap adik malah mengatakan kebencian."
"Valdrin harus apa! Semua ninggalin aku. Hidup ini nggak adil!" serunya memukul tanah yang terasa basah karena beberapa jam yang lalu sempat turun hujan. "Valdrin punya mereka, tapi mereka nggak pernah anggap Valdrin ada."
KAMU SEDANG MEMBACA
RECAKA [END]
Teen Fiction"Syarat hidup cuma satu, Ay." -Aegir Bhairavi. "Apa, Bang?" -Alayya Nalani. "Bernafas." -Aegir Bhairavi. Mereka kakak beradik yang tidak pernah tahu keberadaan orang tua dan dijadikan mesin penghasil uang pamannya. Melodi lautan dan ketenangan langi...
![RECAKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/302848331-64-k422298.jpg)